Gaya Hidup Minimalisme

Minimalisme, Gaya Hidup Sederhana Kaum Milenial

Apa itu Minimalisme ?

Gaya hidup minimalisme jamak diperbincangkan dewasa ini. Jika kita putar balik waktu di awal 2000-an, mungkin minimalis lebih berkaitan dengan gaya arsitektur rumah yang sederhana atau karya seni rupa.

Gaya Hidup Minimalisme

Sedangkan sebagai gaya hidup, minimalisme datang dengan gagasan ‘lebih sedikit barang maka lebih baik’. Sebuah upaya untuk menyederhanakan hidup. Namun tindakan ini tidaklah berangkat dari kemiskinan atau jumlah uang yang terbatas. Pelaku justru banyak dipicu karena keinginan kualitas hidup yang lebih baik.

Mari kita sebut satu contoh paling sederhana, soal pakaian. Ada beberapa pelaku yang memilih untuk mengenakan pakaian yang tone warna yang sama persis, dengan model yang sama persisnya. Pada dasarnya kamu hanya memiliki satu jenis baju, hanya dalam jumlah yang cukup banyak. Apakah terdengar membosankan?

Mungkin iya, tapi orang-orang ini justru merasa lebih baik dengan tindakan ini. Mereka merasa tidak lagi terperangkap dalam rutinitas mix and match baju, serta waktu yang terbuang karenanya. Alokasi waktu dan energi untuk kegiatan lain yang lebih berfaedah pun meningkat.

Perkembangan Minimalisme

Sulit untuk mengatakan siapa orang pertama yang mengemukakan gaya hidup minimalisme. Karena sebenarnya, sikap hidup sederhana nyatanya memiliki akarnya masing-masing di setiap kebudayaan. Hanya saja masing-masing lahir dengan istilah yang berbeda-beda.

Tapi jika bertanya gong-nya gaya hidup ini di era milenial, tak lengkap rasanya jika kita tak menyebut film dokumenter berjudul Minimalism : A Documentary About Important Things. Rilis tahun 2015, film ini mengisahkan Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus yang berkelana untuk menemui orang-orang yang menjalankan perilaku hidup sederhana.

Dua tahun setelahnya, Matt D’Avella muncul di saluran Youtube. Matt sendiri adalah salah satu orang di belakang layar dari film Minimalism : A Documentary About Important Things. Sebagai professional videographer, Matt berhasil mengemas cerita melalui video-video singkat yang segar, dengan kualitas grafik yang sangat memukau untuk kelas kanal video Youtube.

Tak hanya di daratan Amerika, tren pun muncul di Asia. Pada tahun 2019, Fumio Sasaki menulis buku berjudul Goodbye, Things : The New Japanese Minimalism. Berawal dari keresahannya mengoleksi barang secara berlebihan, Sasaki memutuskan untuk merelakan barang-barang tersebut dan pindah ke tempat tinggal yang lebih kecil. Kisah hidupnya itulah yang dituangkan dalam buku ini.

Selanjutnya, buku lainnya yang tak kalah tenar adalah The Life-Changing Magic of Tidying Up oleh Marie Kondo. Mungkin tidak 100% berbicara tentang minimalisme, karena Marie Kondo lebih banyak menekankan pada beres-beres rumah. Tapi langkah decluttering ini bisa menjadi satu langkah awal.

Manfaatnya

Minimalisme bukan hanya soal memiliki sedikit barang. Ternyata juga memiliki berbagai manfaat lainnya. Apa saja?

Lebih Sedikit Upaya Bersih-bersih

Dengan memiliki jumlah barang yang terbatas kamu akan lebih mudah dalam membersihkan ruangan maupun menatanya kembali

Manajemen Stress yang lebih baik

Memiliki terlalu banyak barang ternyata bisa memicu stress. Stress karena tidak bisa menemukan barang yang menumpuk. Stress karena barang tidak tertata dengan baik. Stress karena tidak memiliki ruang gerak di sekitar.

Pengaruh Finansial yang Lebih baik

Menjadi kaya jelas bukan tujuan hidup kaum ini. Namun mengajarkan kita untuk lebih memaknai setiap bena yang kita beli. Apakah benda ini sparks joy? Setidaknya itulah kata Marie Kondo. Ini lebih menekankan untuk membeli barang yang benar-benar kita butuhkan atau benar-benar membuat kita bahagia.

Menghindari Konsumerisme dan Materialisme

Kehidupan modern di kota besar kadang menjebak kita dalam gaya hidup konsumerisme dan materialism. Bahwa value hidup seseorang ditentukan dari benda yang digunakannya. Kita dituntut untuk tidak pernah cukup dengan yang kita miliki saat ini. Namun minimalisme tidak menyetujui pendapat tersebut.

Ini lebih mengajak kita untuk melihat ke dalam diri kita sendiri dan tidak bergantung dengan penilaian orang lain. Tak masalah mengenakan baju dengan model yang sama setiap hari. Tak apa tak memiliki produk mewah. Tak apa hidup sederhana, yang terpenting kita bisa mensyukuri kehidupan kita.

Aliran dalam memaknainya

Menurut Renata Dopierala dalam esainya tahun 2017, ada tiga cara memaknainya

Bentuk lain anti konsumerisme

Dalam pandangan ini, minimalisme ingin memisahkan diri dari golongan orang-orang yang terlalu mudah membeli barang serta terlalu mudah membuang barang-barangnya. Diskon, promosi, berbagai teknik iklan sering menjebak kita untuk membeli barang yang sebenarnya tak kita butuhkan. Konsumsi berlebihan ini juga diikuti dengan tingginya sampah yang dihasilkan. Ia ingin hadir sebagai tameng melawan arus konsumerisme ini.

Minimalisme sebagai gaya konsumsi

Berbeda dengan pemikiran pertama, aliran kedua ini justru lebih menginginkan barang-barang yang cenderung lebih mahal dan mendukung proses konsumsi pasar. Bukan tanpa alasan, mereka justru merasa ingin menghargai barang-barang yang dirasa berkualitas lebih baik atau memiliki performa yang lebih tinggi. Mereka juga meilhat barang seni atau wisata sebagai sesuatu yang sparks joy dan penting untuk menambah kualitas hidup.

Minimalisme sebagai mindset konsumsi

Sudut pandang terkakhir lebih melihat pada kuantitas barang yang dimiliki saat ini. Mereka lebih terdorong untuk melakukan seleksi barang dan membatasi barang yang mereka miliki hanya dalam jumlah yang mereka anggap cukup.

Tips Menjalani Gaya Hidupnya

Apa saja tips bagi kamu yang ingin memulai menjalani gaya hidup ini? Yuk perhatikan tips berikut ini:

Mengenali Fungsi dari Setiap Barang

Di sesi awal penerapan minimalisme, kamu perlu memahami apa kegunaan barang-barang yang kamu miliki, mengelompokkannya serta menempatkannya di tempat yang sesuai.

Meyakini bahwa nilai diri tidak bergantung pada barang yang kamu miliki.

Iklan atau teknik marketing terkadang membuat asosiasi akan suatu barang yang mereka jual dengan citra target konsumennya. Tanpa sadar lingkungan pun membuat sebuah standard dari situasi ini. Sebagai pelaku hidup sederhana, kamu perlu menyadari bahwa kamu bukanlah barangmu. Nilai dan kehadiranmu tidak selalu bisa dinilai pada barang-barang yang kamu miliki. Dengan kata lain, kamu juga perlu melepaskan diri dari keterikatan dengan barang-barang.

Selektif dalam membeli

Bukan bermaksud untuk menjadi pelit atau terlalu hemat, gaya hidup ini justru menuntutmu untuk bepikir lebih kritis. Apakah barang yang kamu beli benar-benar kamu butuhkan? Sesuai dengan fungsi yang kamu cari? Apakah kualitasnya cukup baik sehingga kamu tidak perlu khawatir dia akan rusak? Kamu harus benar-benar memegang kendali akan segala barang yang masuk ke tempat tinggalmu.

Konsisten

Tidak mudah untuk menjadi minimalisme. Yang terpenting adalah kamu melakukannya dengan kesadaran dan motivasi yang jelas. Kamu juga perlu konsisten dalam menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan setiap hari.

Metode KonMari

Jika kamu tertarik dengan tren minimalisme, mungkin kamu bisa memulainya dengan langkah paling awal yaitu beres-beres alias decluttering. Salah cara beres-beres yang bisa kamu adopsi adalah metode KonMari. Metode ini dipopulerkan oleh Marie Kondo, seorang konsultan kerapian asal Jepang.

Pertama-tama semua barang perlu dikeluarkan. Kemudian kamu perlu memilah barang satu persatu. Pertanyaannya adalah apakah barang tersebut masih kamu butuhkan alias memiliki nilai fungsional. Atau, apakah barang tersebut memiliki makna secara emosional untukmu sehingga patut untuk disimpan. Selain daripada itu, barang-barang akan disingkirkan dengan cara dibuang atau didonasikan. Barang yang disimpan akan dipisahkan berdasarkan jenisnya supaya memudahkan kita dalam menemukan barang tersebut.

Minimalisme Asik ala Matt D’avella

Minimalisme masih banyak dikaitkan dengana kehidupan yang membosankan. Tapi sebenarnya tak harus seperti itu.

Jika kamu masih memerlukan motivasi atau ingin melihat dari sisi yang lebih realistis, tak ada salahnya jika kamu mengunjungi kanal video Youtube Matt D’avella. Melalui video-videonya, Matt berusaha untuk meceritakan sepak terjang dirinya sebagai pelaku minimalisme, serta manfaat yang dia rasakan, serta kaitannya dengan pengembangan diri bahkan pengembangan finansial.

Cocok sekali bagi kamu yang sedang mencari inspirasi tentang gaya hidup minimalisme.

Sumber referensi:

https://www.kompasiana.com/hantodiningrat/561b0a2b357b612310ea59ed/paradoks-keniscayaan-gaya-hidup-minimalis

https://www.kompasiana.com/kristindiany/5de1882fd541df75773ba015/bahagia-itu-sederhana-mengenal-gaya-hidup-minimalisme-hingga-konmari-method?page=1

https://imasndra.com/tentang-gaya-hidup-minimalis/

https://www.ussfeed.com/apa-minimalism-masih-aplicable-di-tahun-2020/

https://www.idntimes.com/life/inspiration/afendi-nahak/10-dasar-pemikiran-hidup-minimalisme-dari-buku-seni-hidup-minimalis-c1c2/9

https://medium.com/@hiemaulya/lifestyle-the-minimalist-ala-marie-kondo-75fbcee99939

Selamat Datang di Indonesi.com

Situs yang akan membuat Anda menjadi lebih baik, dengan artikel dan tips terpilih.

Visi kami adalah menjadikan inspirasi untuk sejuta orang Indonesia.

Redaksi Indonesi.com
Cipinang Indah. Jakarta Timur.

Related

Mempunyai Rumah di usia muda

Memiliki rumah di usia muda tentu merupakan impian banyak orang, tidak terkecuali bagi kaum millennial saat ini. Rumah…

Read more
game lokal

Foto: youtube.com/Komuk Santuy Sekarang ini ada banyak sekali game yang bisa kita mainkan, apalagi di gawai.…

  • Hobi
  • 3
Read more
Instagram Rupiah

Tahukah Anda? Indonesia merupakan negara dengan pengguna Instagram aktif terbanyak ke-4 di dunia? Indonesia…

Read more

Internet is huge! Help us find great content

About

Bacaan Yang Membuat Anda Lebih Baik