Toxic Positivity adalah

Toxic Positivity, Apa itu?

Belakangan, topik toxic positivity marak diperbincangkan di dunia maya seiring meningkatnya isu mental health selama pandemi berlangsung.

Toxic Positivity adalah

Hal ini juga didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental dan kepedulian antar-sesama guna melewati ketidakpastian kondisi selama pandemi.

Meski ramai dibicarakan, tidak sedikit pihak yang masih belum mengerti betul apa dan bagaimana bentuk dari toxic positivity itu sendiri. Di artikel kali ini, kami akan menjelaskan dan memberi contoh apa itu toxic positivity beserta cara menanganinya.

Yuk, simak penjelasan berikut ini!

Pengertian Toxic Positivity menurut Para Ahli

Di tengah masa sulit selama pandemi, tidak jarang kita melihat saudara atau teman yang meng-update kehidupan mereka, dikemas dengan baik dalam keadaan bahagia dan merasa cukup. Entah teman SMA kita ada yang liburan ke pantai, ada yang melangsungkan pernikahan di hotel mewah, atau saudara kita yang pamer makan-makan dengan temannya; kadang tanpa kita sadari, kita mencoba ‘baik-baik saja’ karena melihat yang lain ‘baik-baik saja’.

Mengutip dari Konstantin Lukin Ph.D. dalam Psychology Today, frasa “toxic positivity” mengacu pada konsep bahwa, tetap positif, dan menjaga kondisi sekitar tetap positif, adalah cara yang benar dalam menjalani kehidupan kita. Yang artinya, kita hanya berfokus pada hal-hal positif dan menolak apapun yang dapat memicu emosi negatif.

Hal ini mungkin terlihat benar dan menyenangkan, tapi, sebenarnya tidak. Lebih lanjut Lukin menjelaskan, tindakan kita yang menghindari hal yang memicu emosi negatif, menolak emosi negatif, dapat menumpuk emosi-emosi negatif tersebut menjadi ‘bom waktu’ yang sewaktu-waktu dapat meledak. Selain itu, menjadi orang dengan toxic positivity membuat kita menjadi susah didekati oleh orang lain karena mereka tidak dapat merasa sama dengan kondisi kita.

Di sisi lain, psikoterapis asal Amerika Serikat, Jennifer Howard Ph.D. mengatakan bahwa memberi nasihat orang lain yang sedang melalui emosi negatif untuk merasa positif, justru membuat mereka merasa takut, sedih dan merasa sendiri. Usaha untuk mengajak orang lain berpikir positif pada kondisi yang tidak realistis malah menjadi palsu dan racun. Inilah yang dimaksud dengan toxic positivity.

Ciri-Ciri Toxic Positivity

Karena bentuk dan perbedaannya yang tidak terlalu jelas, secara tidak langsung, mungkin kita telah menjadi bentuk toxic positivity untuk orang lain. Nah, untuk menghindari hal tersebut, berikut kami jelaskan ciri-ciri toxic positivity!

“Tetap Positif!”

Dalam masa-masa yang tidak pasti seperti sekarang ini, banyak hal yang terjadi di luar kuasa kita. Contohnya, rencana liburan dengan teman yang harus dibatalkan padahal tiket dan penginapan sudah lunas dibayar, gaji yang dipotong tapi cicilan harus tetap jalan, atau ruang gerak yang semakin dibatasi membuat rencana membuat usaha baru dengan teman harus terkendala banyak hal.

Beberapa contoh di atas kadang membuat kita lupa bahwa hal-hal tersebut lumrah terjadi, perubahan adalah hal paling wajar yang selalu kita hadapi. Dari segala hambatan yang kita alami, nggak jarang kita mendengar kalimat “harus tetap positif, ya!” dari orang-orang sekitar.

Nyatanya, menjadi positif dalam lingkup emosi yang negatif tidaklah mudah dan dapat memberi efek besar pada mereka yang berada di titik terendah dari gelombang emosinya.

Daripada memberi kalimat untuk tetap positif, kita dapat mengajak mereka yang sedang kesusahan untuk pelan-pelan menerima keadaan yang ada. Menyambut emosi negatif yang ada tanpa harus menolak. Kita juga dapat menyampaikan kalimat “Aku ada disini waktu kamu butuh” agar mereka tahu bahwa kita berempati dan akan membantu mereka melewati kesusahan ini.

“Kamu Kurang Bersyukur”

Rasa syukur sejatinya tidak dapat diukur dengan satuan hitung dan juga kita tidak dapat mengukur tinggi rendahnya rasa syukur seseorang hanya dari kegiatan sehari-hari atau postingan di media sosial.

Terkadang secara tidak sadar, kita menjadi orang yang mudah menjustifikasi orang lain hanya dari apa yang kita lihat. Memberi kalimat “Kamu kurang bersyukur” sangatlah tidak etis dilakukan pada orang yang sedang berada di titik terbawah hidupnya. Hal itu malah menjadi ungkapan kekesalan terselubung atas hal mengecewakan yang telah dilakukan. Bukannya merasa lebih baik, orang tersebut dapat menjadi lebih sedih dari sebelumnya.

“Jangan Menyerah”

Kalimat ini sering kita dengar dalam berbagai kondisi, baik kondisi baik dan buruk. Siapa mengira kalau kalimat ini masuk ke dalam bentuk toxic positivity.

Memilih menyerah pada satu kondisi yang tidak dapat kita atasi dengan baik adalah hal yang lumrah terjadi. Dibandingkan mengucap kalimat itu, alangkah baiknya kalau kita ganti dengan “Nggak semua harus kamu selesaikan, nggak apa-apa kalau mau menyerah.”.

“Masih Banyak yang Lebih Nggak Beruntung di Luar Sana”

Mengucapkan kalimat ini dalam kondisi yang salah, bisa membuat mereka yang mendengar merasa lebih sedih dan tidak dihargai perasaan dan kondisinya.

Sebagai pengganti, cobalah untuk mendengar dan memahami permasalahan apa yang sedang membuat mereka terpuruk dan mencoba melihat masalah dari sudut pandang orang tersebut.

Contoh Toxic Positivity

Selain kalimat-kalimat di atas, ada beberapa tindakan lain yang masuk dalam kategori toxic positivity. Diantaranya:

Merasa Argumennya Paling Benar

Hal ini merupakan reaksi setelah mendengar cerita seseorang yang sedang berkeluh kesah. Mereka mencoba memberikan solusi yang dipikir ‘masuk akal’ dan jalan keluar, namun malah berujung membenarkan segala tindakan dan argumen miliknya.

Mengatasi hal ini, cobalah untuk menempatkan diri berada pada posisi mereka yang sedang kesusahan.

Perasaan Orang Lain Invalid

Perasaan seseorang tidak membutuhkan validasi atau pengakuan, mereka hanya ingin didengarkan.

Tidak jarang kita malah menyalahkan mereka yang memiliki emosi negatif dan mendorong mereka untuk berpikir lebih positif.

Toxic Positivity dan Mereka yang Ada di Sekitar Kita

Siapapun bisa menjadi bentuk toxic positivity.

Kita bisa menjadi bentuk toxic positivity.

Ada kalanya kita hanya ingin merasa baik-baik saja padahal tahu keadaan sedang tidak baik-baik saja. Hal ini kemudian membawa kita pada perasaan dan kondisi toxic dimana kita makin tidak bisa menerima keadaan yang ada, melampiaskan perasaan negatif kita ke orang lain tanpa kita sadari.

Perasaan toxic ini dapat menjadi rantai yang tidak ada ujungnya, bisa ‘menular’ ke orang lain dan membuat lingkaran toxic yang sangat tidak sehat.

Untuk memutus mata rantai, mulailah dari diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kesehatan mental orang lain mungkin bukan tanggung jawab kita, tapi kita dapat menjadi pelopor perubahan di lingkungan sekitar untuk lebih peduli pada kesehatan mental diri sendiri yang berdampak pada orang lain.

Tahun 2020 dan Toxic Positivity

Tahun 2020 sudah mendekati akhir, hanya kurang dari dua bulan lagi dan kita dinyatakan ‘lulus’ dari tahun sebagai penanda abad baru ini. Banyak hal terjadi selama tahun 2020 berlangsung, highlight utama berada pada kasus COVID-19 atau coronavirus disease 2019.

Sejak awal 2020, dunia dikejutkan dengan hadirnya virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, pada 31 Desember 2019. Di beberapa media sosial, ramai tersiar video pasien-pasien dari virus COVID-19 yang membuat resah masyarakat.

Di Indonesia sendiri, kasus pertama virus COVID-19 diumumkan pertama kali pada 2 Maret 2020, dimana virus tersebut menyerang dua warga Depok, Jawa Barat. Dari dua kasus tersebut, muncul kasus-kasus lainnya hingga muncul travel ban atau larangan berpergian ke dan dari Indonesia. Dilansir dari The Jakarta Post, terdapat 59 negara yang memberlakukan travel ban untuk Indonesia.

Pemerintah telah memberlakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, dimana masyarakat diwajibkan bekerja, belajar dan berkegiatan dari rumah, atau Work from Home.

Selama pandemi berlangsung, tidak sedikit masyarakat yang harus kehilangan sumber mata pencaharian karena terkena PHK perusahaan atau usaha yang gulung tikar. Selain sektor kesehatan, sektor ekonomi negara juga mengalami penurunan dengan angka yang signifikan.

Ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir dan benar-benar dapat hidup dengan normal menjadi momok tersendiri di tengah masyarakat. Media sosial menjadi wadah untuk menampung segala keluh kesah yang tidak dapat tersampaikan dengan baik di dunia nyata.

Disini, kita diberi pilihan untuk menjadi lebih manusiawi dengan peduli pada sesama, atau menjadi sangat egois dengan mementingkan diri sendiri dan kelompok milik kita.

Dalam ketidakpastian, banyak orang yang memanfaatkan keadaan untuk membuat diri mereka lebih ‘sejahtera’ dan ‘bahagia’ tanpa peduli dengan kebutuhan dan kepentingan orang lain. Toxic positivity sangat rentan terjadi di tengah masyarakat guna membangun kondisi lingkungan yang ‘baik-baik saja’.

Alangkah baiknya kita mengawal sesama, memperhatikan sesama untuk melewati kondisi yang memprihatinkan seperti sekarang bersama-sama. Face the fear, face the feeling.

Cara Menangani Toxic Positivity

Menerima Keadaan dan Perasaan

Menerima keadaan yang ada adalah hal paling tepat untuk menghindari toxic positivity. Kita tidak harus merasa baik-baik saja dan selalu sempurna setiap saat, mengerti bahwa kondisi berubah buruk, perasaan marah, sedih, dan takut adalah hal wajar yang dilalui manusia.

Lebih lanjut Lukin menjelaskan bahwa emosi membantu kita untuk memahami sesuatu. Kita dapat mengerti beberapa hal sangat berharga ketika kita bersedih saat kehilangan, merasa senang saat dapat bertemu kembali.

Mengurangi Mengecek Media Sosial

Secara tidak sadar, media sosial yang menampilkan ‘kebahagiaan’ atau pencapaian seseorang mendorong kita menuju toxic positivity. Kita seolah merasa dituntut memiliki perasaan dan kondisi yang sama, yang di kenyataan, kita sedang tidak baik-baik saja.

Mengurangi membuka media sosial dapat menjadi salah satu cara mengurangi atau mengatasi diri menjadi toxic positivity, loh! Sebagai gantinya, cari hobi atau kegiatan menyenangkan lainnya yang dapat kamu nikmati sembari besantai.

Menuliskan Perasaan

Menulis tidak hanya sebatas fiksi dan hal-hal akademik saja, kita juga bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan melalui tulisan. Tidak perlu menulis dengan cantik dan rapi, kita hanya perlu jujur dengan diri sendiri dan mengungkapkan apa yang dirasakan guna meringankan beban hati dan pikiran.

Siapa tahu, setelah menulis kita bisa mendapat banyak ide untuk dikembangkan!

Semoga penjelasan kami mengenai toxic positivity dapat membantu dan memberi informasi dan pengetahuan yang baru untuk pembaca sekalian, ya!

Stay safe, stay healthy!

Selamat Datang di Indonesi.com

Situs yang akan membuat Anda menjadi lebih baik, dengan artikel dan tips terpilih.

Visi kami adalah menjadikan inspirasi untuk sejuta orang Indonesia.

Redaksi Indonesi.com
Cipinang Indah. Jakarta Timur.

Related

Sepeda Anak

Kegiatan bersepeda bisa membuat anak-anak aktif bergerak dan meningkatkan kemampuan motoriknya. Selain itu, bersepeda…

  • Hobi
  • 2
Read more
Usia 20 Tahun

Banyak hal yang terjadi ketika kamu mulai menginjak umur 20-an. Dari kamu mulai masuk universitas, kemudian menjalani…

Read more
Instagram Rupiah

Tahukah Anda? Indonesia merupakan negara dengan pengguna Instagram aktif terbanyak ke-4 di dunia? Indonesia…

Read more

Internet is huge! Help us find great content

About

Bacaan Yang Membuat Anda Lebih Baik