Cerita Lengkap Mantan KKO Angkat Jenazah Pahlawan Revolusi dari Lubang Buaya

Masih hangat dalam ingatan bagaimana kekejaman aksi pemberontakan PKI tahun 1965. Dan setiap tahun di-refresh kembali dengan ditayangkannya film dokumenter G30S/PKI. Diingatkan kembali bagaimana kejamnya para pemberontak tersebut.

Satu yang menarik adalah bagaimana kemudian jenazah para Jenderal tersebut diangkat dari lubang buaya. Hal ini diceritakan langsung oleh mantan Korp Komando Angkatan Laut Pelda (Purn) Evert Julius Ven Kandou.

Proses Perjalanan Hingga Pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi

Empat hari pasca pemberontakan sekaligus pembunuhan para Jenderal dan satu Perwira, perintah langsung diberikan kepada KKO untuk membantu mengangkat jenazah dari lubang buaya. Meski tanpa surat perintah, namun langsung dilaksanakan.

Subuh tanggal 4 Oktober 1965, para anggota KKO mulai berangkat dari Surabaya. Pada waktu itu tidak ada satupun anggota yang tahu dimana lokasi tepatnya Lubang Buaya.

Namun Pelda (Purn) Evert sempat mengingat bahwa lokasinya ada di Halim, Jakarta Timur. Sampai di Halim setelah melewati 3 pos akhirnya para anggota KKO berhenti di Kesatuan Intelijen.

Tidak ada yang tahu lokasi pasti kampung Lubang Buaya.

Kemudian informasi didapatkan dari polisi Angkatan Udara bernama Sukitman dimana letak Lubang Buaya. Rombongan langsung bertolak ke Pondok Gede.

Sampai lokasi, rombongan dipersilahkan masuk oleh Pangkostrad Soeharto. Proses pengangkatan jenazah kemudian dilakukan melalui berbagai koordinasi dengan dokter. Jenazah para pahlawan Revolusi tersebut berada di dalam sumur.

Proses pengangkatan tidak mudah sebab ukuran bibir sumur yang kecil. Sedangkan posisi jenazah semuanya kepala berada di bawah. Dokter yang memimpin pada waktu itu memerintahkan pengangkatan secara wajar.

Namun mengingat kondisi sumur yang sempit dan posisi jenazah, hal tersebut tidak dapat diupayakan. Sehingga pengangkutan dilakukan dengan cara mengikat anggota tubuh para Pahlawan Revolusi tersebut.

Proses pengambilan jenazah pada akhirnya dilakukan dengan pengikatan satu persatu. Kedalaman sumur 12 meter menjadi tantangan bagi anggota KKO Bapak Sarimin yang bertugas langsung turun.

Kondisi para Pahlawan Revolusi pada waktu itu sudah membengkak. Pekerjaan akhirnya selesai dengan jenazah yang terakhir diangkat adalah Jenderal Pandjaitan. Setelah selesai semua dimasukkan dalam peti lalu diantar ke RSPAD.

Dari cerita mantan anggota KKO Pelda (Purn) Evert, bisa diambil kesimpulan bahwa film G30S/PKI relate dengan fakta. Hal ini dibenarkan oleh beliau berdasarkan pengalaman pribadi saat membantu pengangkatan jenazah.

Anda dapat menyaksikan video tersebut melalui https://www.youtube.com/watch?v=lPGGOodRF4s . Video di channel VIVA.CO.ID tersebut diterbitkan pada 30 September 2021 mencapai 1.873.033 views.

Masih hangat dalam ingatan bagaimana kekejaman aksi pemberontakan PKI tahun 1965. Dan setiap tahun di-refresh kembali dengan ditayangkannya film dokumenter G30S/PKI.

Menikmati Keindahan Taman Wisata Maribaya Bandung Yang Penuh Mitos

Bandung dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit masyarakat, terutama yang tinggal di Jakarta. Suhunya yang dingin, dan jaraknya yang tidak begitu jauh membuat kota berjuluk Kota Kembang selalu ramai saat musim liburan. Ada banyak sekali objek wisata terkenal di Bandung, dari mulai wisata hiburan, edukasi, kuliner hingga wisata alam. Nah, salah satu wisata alam yang paling terkenal di kota ini adalah Taman Wisata Maribaya.

Maribaya adalah sebuah air terjun yang menjadi bagian dari Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Lokasi air terjun ini berada di Jln Maribaya, Lembang, Bandung Barat atau sekitar 15 km dari pusta kota Bandung dan 5 km sebelah timur Lembang.

Akses Menuju Lokasi

Untuk dapat mencapai taman wisata Maribaya, Anda bisa mengambil rute Cikampek – Cipularang kemudian keluar di pintu tol Sadang. Dari sana, Anda tinggal melanjutkan perjalanan kea rah Subang – Ciater – Lembang. Jalur menuju lokasi sudah sangat baik.

Asal Muasal Maribaya

Menurut mitos yang diyakini oleh masyarakat setempat, dulu terdapat sebuah perkampung yang dialiri oleh dua buah sungai. Di perkampungan tersebut hidup seorang wanita yang mempunyai anak gadis cantik bernama Maribaya. Karena kecantikannya tersebut, Maribaya menjadi buruan para lelaki.

Oleh karena kecantikan Maribaya, keluarganya khawatir akan terjadi ha – hal yang tidak diinginkan. Kemudian sang Ayah pergi dan bertapa di Gunung Tangkuban Perahu. Setelah kembali dari pertapaan, sang ayah menjalankan wangsit yang dia dapat, yakni menumpahkan bokor yang menyebabkan munculnya sumbar air panas.

Pada tahun 1835, sumber air panas tersebut dikembangkan oleh ayah dari Maribaya sebagai tempat rekreasi dan berobat. dari sanalah kemudian, sumber air panas tersebut ramai dikunjungi oleh masyarakat.

Hal Menarik di Maribaya

Di kawasan wisata Maribaya terdapat beberapa lokasi menarik, salah satunya air terjun Curung Omas. Air terjun tersebut memiliki latar belakang pepohonan yang rindang sehingga terkesan sangat teduh dan sejuk. Ketinggian air terjun ini mebncapai 30 m. di dekatnya berdiri dia jembatan yang sengaja dibangun untuk memudahkan wisatawan yang ingin mendekat.

Banyak wisatawan yang berfoto ria dengan latar belakang air terjun karena memang panorama air terjun ini sangat mengagumkan. Namun, apabila Anda memutuskan untuk mendekat, sebaiknya Anda membawa baju ganti karena guyuran air terjun bisa membuat baju yang Anda kenakan basah.

Terdapat warung – warung yang menjajakan makanan di sekitar air terjun. Anda bisa menikmati beragam jenis menu dengan harga sangat terjangkau.

Selain air terjun, terdapat pula sumber air panas yang mengandung belerang. Konon, mereka yang berendam di kolam air panas akan sembuih dari penyakit yang diderita.

Bagi Anda para wisatawan yang menyukai kegiatan fisik, ada kegiatan trekking menyusuri Taman Hutan Raya Djuanda. Selama di perjalanan, Anda akan bisa menemukan gua Jepang dan Gua Belanda. Apabila Anda ingin masuk ke dalam gua, pastikan Anda membawa perlengkapan penerangan yang memadai karena di dalam gua belum terdapat penerangan. Namun, Anda juga tidak perlu khawatir apabila tidak membawa senter karena di sekitar gua banyak terdapat tempat atau jasa persewaan senter.

Satu hal lain yang juga menjadi ciri khas taman wisata Maribaya adalah Bandrek, yakni minuman rempah yang merupakan minuman khas Bandung. Minuman ini bisa Anda temukan dengan mudah di warung – warung yang ada di lokasi peristirahatan. Selain bandrek, bala – bala juga merupakan menu favorit para wisatawan yang berkunjung ke Maribaya.