18 Monster Laut yang Lebih Membuat Merinding Dibanding Megalodon

Menakutkan memang mendengar penjelasan bagaimana Megalodon, hiu purba raksasa yang pernah hidup dan berkuasa di lautan. Namun bagaimana jika ternyata ada juga makhluk laut yang tinggal di dasar paling gelap dan tidak kalah menyeramkan.

Di palung Mariana, yakni dasar lautan paling dalam yang diketahui manusia, bahkan belum pernah ada yang menjelajahinya langsung, ternyata ada penghuninya dengan bentuk menyeramkan layaknya monster di film.

Setidaknya dari daftar yang diberikan Youtube Sisi Terang, 18 monster laut gelap ini ada dan bisa bertahan di lingkungan ekstrim ini. Bahkan dibanding Megalodon, ikan dan makhluk dasar laut ini akan lebih menakutkan kalau hidup dipermukaan.

Monster di Laut Gelap Palung Mariana

Dibawah ribuan meter permukaan laut, palung ini punya kondisi ekstrim dan ada monster laut mampu bertahan di sana. Ikan pertama disebut Anglerfish, hewan karnivora yang bisa menelan mangsa 2 kali tubuhnya.

Kedua dijuluki ikan Barrelare dengan struktur mata dan kepala super sensitif. Hiu berjumbai merah jambu ada yang hidup palung dingin ini. Memiliki gigi sangat tajam, mereka bisa menghancurkan musuh dengan mudah.

Selanjutnya ikan Hatchet laut di mana matanya menghadap ke atas. Monster lainnya bernama hiu Goblin, bentuk mirip alien dengan mulut bisa bergerak kedepan untuk makan. Ada juga Snailfish yang transparan dan berwarna pink pada kedalaman mencapai 8000m.

Ada ikan bernama Naga Laut Dalam dan bisa mengeluarkan cahaya terang sekali. Di kedalaman 1800m. Bentuk seperti lampu, Spons Pohon Ping Pong juga monster palung Mariana karnivor yang kejam sedalam 2700m bawah permukaan.

Cacing Zombie yang mampu makan mangsa besar dan menggigit makanan keras. Selanjutnya Ubur-ubur berbahaya dengan cahaya kamuflase yang indah. Ada juga teripang raksasa di 11.000m yang ukuran sangat besar dari teripang di laut dangkal.

Monster lainnya meliputi gurita teleskop, comb jelly, hingga ikan tripot yang sanggup hidup di gelapnya palung dingin Mariana. Hewan ini bahkan sudah bertahan di sana sejak jutaan tahun lalu mengandalkan sensifitas indranya.

Selanjutnya terdapat Owlfish, Amphipoda, gurita Dumbo dan yang terakhir Amoeba dasar palung mariana. Makhluk ini bahkan mampu tumbuh hingga 10 cm di 10km dengan kondisi lingkungan ekstrim.

Pembuat Video: Channel Youtube Sisi Terang


Rahasia Candi Mendut, Candi Budha Peninggalan Dinasti Syailendra

Candi Mendut adalah situs candi Buddha yang menjadi salah satu bukti kejayaan masa lalu, terutama di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menurut penelitian, Candi Mendut dibangun pada jaman Dinasti Syailendra, yakni saat dipimpin oleh Raja Indra. Adanya prasasti Kayumwungan yang ditemukan di daerah Karangtengah merupakan salah satu bukti otentik bahwa candi ini dibangun pada masa itu.

Candi Mendut, secara administrative masuk ke dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah, yakni di desa Mendut di kabupaten Magelang. Seperti halnya candi – candi Buddha lain yang ada di sekitar Yogyakarta dan Magelang, Candi ini berbentuk persegi empat yang dihiasi dengan beberapa stupa kecil.

Lokasi Candi Mendut

Satu hal yang membuat Candi Mendut istimewa adalah letaknya yang berada dalam satugaris lurus dengan Candi Borobudur. Meski demikian, banyak peneliti yang meyakini bahwa Candi Mendut dibangun lebih dulu. Berbeda dengan candi Borobudur yang lurus menghadap matahari terbit, pintu pada Candi Mendut justru menghadap ke arah barat atau matahari terbenam.

Jika dilihat dari kejauhan, Candi Mendut Nampak sangat anggun dan kokoh. Berdiri di atas kaki candi setinggi 3.7 meter, Candi ini seperti bangunan bertingkat yang berdiri dengan gagah. Ketika mengelilingi kaki candi, wisatawan akan menemukan sejumlah panel relief yang sebagian besar berkisah tentang binatang atau fable, misalnya kisah “Brahmana dan Kepiting”, “Burung dan Kura – kura” serta “Kera dan Burung Manyar”.

Sekilas, memang relief–relief tersebut terkesan seperti cerita untuk anak – anak, padahal sejatinya kisah tersebut adalah gambaran dari kisah Jataka yang mengandung pesan moral bagi siapapun yang melihatnya.

Ketika naik ke struktur badan candi, maka wisatawan akan menemukan 8 relief Bodhisattvadengan berbagai sikap tangan. Dibandingkan dengan yang ada di Candi Borobudur, ukuran relief di Candi Mendut memiliki ukuran yang lebih besar.

Jika masuk ke dalam bilik candi, maka akan tercium aroma wangi bunga yang bercampur dengan aroma hio yang diletakkan di antara 3 buah arca dengan tinggi masing – masing 3 meter. Arca dengan ukuran besar tersebut adalah adalah arca Buddha Lokesvara, Buddha Vairocana dan Buddha Bodhisattva Vajrapani.

Arca Budha Lokesvara berada di tengah arca yang yang lain dengan posisi duduk. Ketiganya dipahat dari batuan utuh tanpa ada sedikitpun sambungan. Hal tersebut menunjukkan bagaimana tingginya citarasa senileluhur yang hidup pada jaman dahulu.

Buddhist Monastery

Setelah puas menikmati keindahan dan kemegahan bilik Candi Mendut, wisatawan dapat berbelanja di kios – kios souvenir yang berderet di sepanjang pintu keluar.

Tidak jauh dari kompleks Candi Mendhut, terdapat bangunan Boddhist Monastery yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Di sana, terdapat sebuah kolam yang dihiasi dengan bunga – bunga teratai yang bermekaran.

Di bagian pintu masuk Buddhist Monastery, ada beberapa stupa yang diposisikan berjajar. Suasana yang ditemukan di kompleks ini memang sengaja dibuat seolah – olah berada di abad ke-12 di mana nuansa relijius dan sacral dangat terasa.

Chanting

Di areal Buddhist Monastery, setiap malam dilakukan ritual Chanting atau semacam meditasi. Yang berbeda dari meditasi lainnya, pada ritual ini akan diperdengarkan music dan nyanyian – nyanyian khusus. Walaupun ritual ini hanya dilakukan oleh umat Buddha, namun wisatawan umum juga diperbolehkan untuk mengikutinya.

Vihara Buddha Mendut

Di kawasan Candi Mendut juga terdapat sebuah vihara yang terletak di sebelah utara candi. Menurut beberapa sumber, vihara tersebut konon merupakan biara Katolik. Namun, pada sekitar tahun 1950an, tanah yang ada di area tersebut dibagikan kepada rakyat yang kemudian dibeli oleh yayasan Buddha yang dalam kelanjutannya dibangun sebuah vihara.