Mengenal “Momo” Remaja Korea Yang Pernah Viral Flashmob di Malioboro

Indonesia kaya akan berbagai kebudayaan yang tersebar di setiap daerahnya, inilah yang membuat indonesia begitu dikagumi oleh negara-negara lain. Dan merupakan tugas masing-masing warga negara untuk terus melestarikan budaya ini.

Terlebih lagi anak muda, yang masih memiliki banyak waktu dan tenaga sehingga wajib untuk melestarikan budaya indonesia agar tidak tergerus oleh zaman. Namun sayangnya saat ini banyak anak muda yang membangga-banggakan budaya luar negeri.

Dan membuat kebudayaan di beberapa semakin redup, dan kurang dikenali oleh anak muda lainnya. Malahan yang terjadi sebaliknya, banyak warga negara asing yang ingin belajar dan mengenal kebudayaan indonesia.

Seperti video yang diunggah oleh Kedaulatan Rakyat TV, di salah satu video unggahannya ia memperlihatkan seorang remaja korea bernama Momo, karena melakukan flashmob tarian daerah Jawa Klasik Beksan di kawasan Malioboro.

Remaja asal Korea Melakukan Flashmob Tarian Daerah

Video tersebut kian viral, sebab di dalam video memperlihatkan betapa lihainya remaja tersebut dalam menari sambil mengikuti alunan musik gamelan. Yang membuatnya kian menarik perhatian adalah, tarian tersebut bukanlah dibawakan oleh warga lokal.

Sekelompok anak muda tersebut melakukan flashmob di salah satu jalan di Malioboro, sebagai bentuk uji coba pedestrian malioboro pada 18 Juni 2019. Salah satu yang menyita perhatian masyarakat adalah Mohan Kalandara atau Momo.

Ia merupakan warga dari Jalan Blibis Raya Kembaran Tamantirto Kasihan, Bantul.  Momo masih berusia 12 tahun, dan sudah lulus dari Sekolah Dasar. Ia memang memiliki darah jawa dari ibunya, dan wajah orientalnya berasal dari ibunya.

Saat diwawancarai mengapa ia suka menari, ia menjawab bahwa ia memang suka menari sejak kecil. Saat ini kesibukannya adalah latihan menari dan sekolah. Saat membawakan tarian Beksa Wanara, ia baru berlatih satu kali dan langsung diminta untuk tampil.

Ia sering berlatih menari, dan sedang mempersiapkan beberapa penampilan yang akan ia tampilkan pada bulan-bulan berikutnya. Momo mengaku tidak terpikir olehnya bahwa video tersebut menjadi viral, bukan hanya di Jogja melainkan di seluruh indonesia.

Penampilan Momo saat menari bersama teman-temannya di daerah Malioboro, patut diacungi jempol karena keberaniannya tampil di depan banyak orang. Dan juga keahliannya dalam menari, yang bisa membuat tarian daerah menjadi terkenal.

Video yang diunggah oleh Kedaulatan Rakyat TV sejak pertama kali dirilis 28 Juni 2019, mengundang perhatian masyarakat sebanyak 900.858. Anda juga bisa menonton video tersebut melalui https://www.youtube.com/watch?v=ePW5PFfnppY


Fokus Pada Satu Hal Bukan Berarti Bodoh

Sebut saja namanya Nugi. Dia cowok pendiam di kelas. Di antara semua teman sekelas di kelas 3 IPA SMA ini, Nugi tampak paling beda. Bukan soal tampangnya, tapi soal aktivitasnya di kelas.

Nugi senang menyendiri. Satu-satunya teman adalah teman sebangkunya. Nugi tidak pernah terlihat mengobrol dengan teman lain. Dalam hal pelajaran, dia juga “santai banget”. Di saat semua murid belajar tekun untuk menghadapi ulangan, Nugi biasa-biasa saja. Saat murid-murid mempersiapkan diri untuk ujian semesteran, Nugi nggak segitunya. Terbukti, nilai ulangan dan semesterannya jauh di bawah nilai murid yang lain.

Lalu, Nugi ngapain aja selama di kelas?

Itulah. Nugi itu misterius banget. Dia tampak sibuk, tapi ya nggak tahu sibuknya ngapain. Karena kesibukan dia dalam belajar, nggak sebanding dengan nilai ulangan dan semesteran selama di kelas tiga ini.

Saya pribadi juga menganggap Nugi kurang pandai. Maaf saja, semua teman di sekolah juga menganggap begitu. Meskipun kami nggak pernah saling menggosipkan soal ini, teman-teman sudah tahu banget bahwa Nugi punya kapasitas otak yang jauh di bawah yang lain.

Suatu hari, saya sedang tidak sengaja ngobrol dengan wali kelas. Obrolan ini benar-benar tidak sengaja, karena kebetulan saya duduk di bangku deretan paling depan dan wali kelas memajukan bangkunya ke depan saya. Itu memang gaya wali kelas kami dalam mengajar. Setelah sedikit mengobrol, tiba-tiba wali kelas kami berbicara pada saya tentang keprihatinannya pada Nugi. Menurut wali kelas, agak susah membimbing Nugi. Nilai-nilai pelajaran pokok saja hanya dapat angka lima. Saya tidak menanggapinya, karena semua dari kami sudah tahu kondisi itu.

Tibalah saatnya kami lulus dan harus menyiapkan diri menghadapi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Kami semua belajar lebih tekun dan giat demi lolos masuk perguruan tinggi negeri impian.

Setelah melalui proses belajar yang panjang dan melelahkan, dan berjuang sampai titik akhir di ujian SBMPTN, akhirnya pengumuman pun tiba.

Ternyata, dia antara semua murid di kelas, hanya Nugi yang lulus masuk perguruan tinggi negeri di fakultas kedokteran!

F-a-k-u-l-t-a-s  k-e-d-o-k-t-e-r-a-n!

Iya, Nugi. Fakultas kedokteran.

Semua tercengang dengan prestasi itu. Rupanya, sejak awal kelas tiga, Nugi fokus pada SBMPTN. Dia tidak terlalu mengejar nilai ulangan harian dan semesteran, tapi langsung di tingkat selanjutnya, yaitu SBMPTN.

Nugi bukan anak bodoh. Dia hanya menempatkan prioritas lain yang justru setingkat lebih tinggi dibandingkan murid lain. Dia yang benar-benar fokus, sekilas tampak seperti bodoh. Padahal, dia justru lebih punya tujuan yang pasti.

Saya, teman-teman, dan wali kelas, baru menyadari bahwa sebenarnya Nugi berpikir jauh lebih panjang dibanding yang lain.