Hidup Santai

Ingin Hidup Santai? Pahami 9 cara hidup ala Filosofi Stoicisme

Berbicara tentang filosofi saja membuat kita sudah pusing memikirkan betapa berat teori yang akan disampaikan. Namun berbeda dengan filosofi Stoicisme. Pasalnya, filosofi ini masih sangat relevan untuk kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi ini dikenalkan oleh 3 filsuf Yunani yaitu Marcus Aurelius, Seneca dan Epictetus.

Hidup Santai

Para filsuf ini memandang bahwa kebahagiaan dan kesuksesan itu bersifat sementara. Kamu tidak perlu focus mengejar hal itu, cukup hidup santai. Justru dalam filosofi ini diajarkan bagaimana kita menyingkirkan semua emosi negatif dan bahkan mengubahnya menjadi positif. Sehingga kita bisa membawa hidup lebih santai dan damai. Berikut ini adalah sembilan filosofi Stoic yang bisa kamu terapkan dalam kehidupanmu.

The dichotomy of control : mengontrol yang bisa kita kontrol

“Tugas utama dalam hidup hanyalah ini: untuk mengidentifikasi dan memisahkan hal-hal sehingga saya dapat mengatakan dengan jelas kepada diri saya sendiri mana yang eksternal tidak dapat saya kendalikan, dan yang berkaitan dengan pilihan yang sebenarnya saya kendalikan. Lalu di mana saya mencari yang baik dan yang jahat? Bukan untuk eksternal yang tidak terkendali, tapi di dalam diri saya untuk pilihan yang saya sendiri. ” – Epictetus

Hal terpenting dan utama dalam filosofi stoic ini adalah dapat membedakan apa yang yang bisa kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan. Cuma ada dua hal itu, contohnya hal yang tidak bisa kendalikan adalah rasa benci orang lain ke kamu, cuaca yang mendung ketika kamu tidak membawa payung, penerbangan pesawat yang dibatalkan, supir taksi yang terlambat menjemput, orang tua yang marah sama kamu, teman yang menjauhi kamu dll. Hal seperti adalah sesuatu di luar kuasa kita. Seberapapun kamu berusaha mengubahnya, mungkin tidak akan pernah bisa mengubah sepenuhnya. Akhirnya justru itu membuat kamu lelah, membuang waktu dan memunculkan emosi negatif lainnya.

Mulai sekarang cobalah untuk melihat hal-hal yang bisa kamu kontrol. Cobalah menuliskan pada secarik kertas dan lihat hal-hal apa saja yang bisa kamu kendalikan dan tidak bisa kamu kendalikan sehari-hari. Hal yang bisa kamu kendalikan ini ada dalam dirimu sendiri, misalnya seperti emosimu, kata-katamu, persepsimu, dan tindakanmu. Jangan menghabiskan waktu untuk bertempur melawan hal-hal yang tidak bisa kamu menangkan.

Journal : introspeksi diri kita dalam tulisan di jurnal

“Apa yang telah dipegang berabad-abad adalah buku catatan pemikiran oleh seorang pria yang kehidupan aslinya sebagian besar tidak diketahui yang meletakkan dalam keremangan tengah malam bukan peristiwa hari itu atau rencana esok hari, tetapi sesuatu yang jauh lebih menarik, cita-cita, dan aspirasi dari semangat hidup yang langka “ – Merek Blanshard

Ketiga tokoh Stoic memiliki status yang berbeda-beda. Epictetus adalah seorang budak, Marcus adalah seorang kaisar, dan Seneca adalah pialang kekuasaan dan penulis. Ketiga pria ini menjalani kehidupan yang berbeda namun memiliki kebiasaan yang sama yaitu membuat jurnal.

Epictetus mengganggap bahwa filosofi adalah sesuatu yang ditulis hari demi hari. Tulisan ini adalah bagian dari melatih diri mereka sendiri. Sedangkan Seneca suka menulis di malam hari ketika sudah petang dan istrinya sudah pulas tertidur. Dia mengatakan bahwa dia selalu menuliskan dengan melihat apa yang sudah ia lakukan dan katakan hari itu, dia tidak menyembunyikan apapun dan tidak melewatkan sedikitpun. Dia melakukan introspeksi diri melalui ini. Dia menganggap apabila tidur setelah melakukan intropeksi diri  akan membuatnya nyaman. Terakhir, Marcus sendiri merilis dalam buku Ta eis heauton yang artinya ‘hal untuk diri sendiri.’
Dalam stoicisme, seni menulis dalam jurnal lebih dari sekedar menulis buku harian sederhana. Ini adalah bagian dari filosofi. Di mana dalam tulisan itu mereka memikirkan masa depan, bercemin pada hari yang sudah berlalu, mengingatkan diri untuk selalu belajar dari pengalaman atau bacaan tertentu. Ini tidak cukup dilakukan sekali, tapi harus berulang kali.

Di era digital ini mungkin terdengar ‘kuno’ untuk menuliskan ini dalam sebuah buku jurnal. Jika kamu berpikir seperti itu, maka cobalah menulis di manapun seperti di handphone ataupun laptop. Karena memang mengutarakan pemikiran kita dalam jurnal ( digital) bisa dapat membantu hidup kita jauh lebih baik lagi.

Practice Misfortune : berlatih untuk nyaman dengan ketidaknyamanan

“Dalam masa-masa amanlah, kita hendaknya mempersiapkan diri untuk masa-masa sulit; sementara keberuntungan melimpahkan kebaikan padanya maka inilah saatnya untuk diperkuat terhadap penolakannya.” – Seneca

Seneca memiliki kekayaan yang cukup besar sebagai penasihat Nero, tapi dia sendiri menyarankan supaya kita bisa mencoba beberapa hari untuk mempraktikan kemiskinan. Coba ambil sedikit makanan, gunakan pakaian yang biasa saja, jauh dari rumah dan tempat tidur yang nyaman, dsb. Setelah melakukan itu, coba kamu tanyakan ke dirimu sendiri, “inikah yang saya takuti selama ini?”

Maksud dari ini bukan untuk membuat mindset kita untuk ‘okelah, jadi miskin tidak apa-apa’, tapi lebih kepada kemauan dan kemampuan kamu untuk bisa menjalaninnya. Harta dan kenyamanan adalah jenis perbudakan terburuk karena kamu akan selalu takut seseorang akan mengambilnya. Tetapi kalau sudah bisa mengantisipasinya dengan mempraktikannya, maka ini tidak akan mengganggu hidupmu.

Kecemasan dan ketakutan berakar dari ketidakpastian. Maka solusinya adalah dengan melakukan sesuatu terhadap ketidakpastian itu. Buat dirimu terbiasa dengan hal-hal terburuk yang kamu takuti. Melatih dirimu dengan hal yang kamu takuti itu dan coba stimulasikan dalam pikiranmu atau bahkan kehidupan nyata. Perlahan kamu akan terbiasa dengan hal itu.

Train Perceptions : Membuat persepsi negatif menjadi positif

“Pilihlan untuk tidak disakiti dan kamu tidak akan merasa dirugikan. Jangan merasa dirugikan dan kamu tidak akan (dirugikan). “ – Marcus Aurelius

Filsafat Stoic melakukan sebuah latihan berupa “Turning the Obstacle Upside Down” atau menjungkirbalikan rintangan. Mereka berpikir bahwa dengan membalikan rintangan itu dapat mengubah sesuatu yang buruk menjadi sumber jalan yang terang yang baru.

Coba kamu pikirkan bila kamu ingin mengerjakan skripsi, namun sudah sedari awal kamu memikirkan bahwa skripsi itu susah untuk dikerjakan maka pada akhirnya kamu justru tidak akan bisa menyelesaikannya. Tapi coba berpikirlah bahwa mengerjakan skripsi itu adalah satu-satunya jalan untuk bisa menyelesaikan kuliahmu sehingga kamu bisa maju ke jenjang selanjutnya. Kamu memang harus berjuang dan juga sabar untuk melalui itu tapi setelahnya kamu akan merasakan kelegaan karena sudah mengakhirinya. Hal lain juga seperti kamu diputuskan pacarmu. Pikirkan bahwa itu kesempatan positif kamu untuk bebas melakukan apa yang kamu mau dan juga mengembangkan kemampuanmu.

Marcus Aurelius juga mengatakan seperti ini, “Hambatan untuk memacu sebuah tindakan. Apa yang menghalangi bisa menjadi sebuah jalan. ”

Jadi tidak ada baik dan buruk dalam filosofi Stoic, yang ada adalah persepsi kita terhadap suatu masalah. Nah, bila kita bisa mengontrol semua masalah menjadi positif, kenapa kita harus memikirkan negatif? Jadi cobalah untuk lebih memikirkan peluang yang lebih berguna buatmu ke depannya daripada berputar pada poros yang negatif.

Ephemeral : Tidak ada yang abadi di dunia ini

“Catatlah apa yang membuat (dirimu) marah pada sesuatu: yang paling terkenal, disayangkan, dibenci, dan semuanya. Dimana itu sekarang? Asap, debu, tokoh terkenal… atau bahkan bukan sama sekali. Pikirkan semua contoh itu. Dan betapa sepele hal-hal yang sangat kita inginkan. ” – Marcus Aurelius

Hal-hal yang kita inginkan disini bukannya sesuatu yang terkait dengan kepedulian ataupun antusiame dalam menjalani hidup. Para filsafat Stoic ini selalu berusaha berperang melawan nafsu seperti keinginan yang tidak rasional, tidak sehat dan berlebihan, termasuk kemarahan. Kesenangan yang berlebihan juga dirasa tidak baik untuk diri kita. Ingatlah betapa kecilnya dirimu. Pencapaian itu bersifat sementara dan kamu cuma memilikinya sementara.

Pikirkan bila kamu mencapai sesuatu kesuksesan dan kemudian namamu muncul ada di berbagai platform media. Namun dalam prosesnya kamu harus meninggalkan orang-orang yang mendukungmu, menyakiti orang-orang yang kamu sayangi, apakah ini bisa disebut kesuksesan?

Belajar dari sini, sadarlah bahwa hal seperti itu tidaklah penting karena hanya bersifat sementara. Namun rendah hati, jujur, kewaspadaan harus menjadi landasan hidupmu. Sehingga suatu saat, kamu juga tidak akan takut bila sesuatu merenggutmu atau mengambil alih darimu.

View From Above : Melihat segalanya lebih luas

“Betapa indahnya kata Plato. Kapan pun kamu ingin berbicara tentang orang, yang terbaik adalah mengambil pandangan sekilas dan melihat semuanya sekaligus — tentang pertemuan, tentara, pertanian, pernikahan dan perceraian, kelahiran dan kematian, ruang sidang yang bising atau ruang sunyi, setiap orang asing, hari libur , tugu peringatan, pasar — ​​semua dicampur bersama dan diatur dalam pasangan yang berlawanan. ” – Marcus Aurelius

Marcus sering melakukan latihan untuk melihat pandangan dari atas atau disebut juga pandangan Plato. Jadi kamu bisa mundur selangkah, memperkecil, melihat pandangan dari sudut yang lebih tinggi. Kamu lihat betapa ada jutaan manusia yang melakukan pernikahan, perceraian, kematian, kelahiran dan lain-lain, yang mengingatkan betapa kecilnya kita. Melihat dari sudut pandang ini akan membuat penilaianmu terhadap kekuasaan, kemewahan, perang, kekhawatiran dalam sehari-hari terlihat sangat konyol.  

Kedua, adalah menumbuhkan adanya sifat simpati kita terhadap semua orang di dunia ini, dan melihat bagaimana semua orang saling tergantung satu sama lain sehingga mereka bisa menjadi lebih kuat. Jadi ketika kamu merasa khawatir atau ketakutan, cobalah melangkah mundur dan melihat dari ‘atas’ seperti pandangan Plato ini.

Memento Mori: Ingat akan kematian

“Mari kita persiapkan pikiran kita seolah-olah kita akan sampai di akhir kehidupan. Jangan kita tunda apa pun. Mari kita seimbangkan buku kehidupan setiap hari.Orang yang memberikan sentuhan akhir dalam hidup mereka setiap hari tidak pernah kekurangan waktu. ” – Seneca

Singkatnya, memento mori adalah mengingat akan kematianmu. Marcus mengatakan, “kamu bisa meninggal dunia sekarang. Lalu biarkan hal itu menentukan apa yang akan kamu lakukan, katakan, dan pikirkan.” Dengan adanya ini, maka kamu akan melakukan segala hal yang bisa kamu lakukan tanpa harus menundanya. Kamu juga ‘terpaksa’ untuk melakukan hal-hal baik dan bijak tanpa harus menunggu.

Membuat dirimu untuk merenungkan tentang kematian bukan berarti membuatmu depresi. Namun justru membuat pikiranmu akan jauh lebih menyegarkan dan bersikap rendah hati. Hal ini juga diungkapkan oleh filsuf Stoic lainnya yaitu Epictetus yang mengatakan, “Lihat kematian dan pengasingan ada depan matamu setiap hari, bersama dengan segala sesuatu yang tampak mengerikan — dengan melakukan itu, kamu tidak akan pernah memiliki pemikiran yang biasa saja atau kamu tidak akan memiliki keinginan yang berlebihan.” Menggunakan hal itu sebagai pengingatmu dan kemudian perlahan membangun dirimu tanpa membuang-buang waktu.

Premeditatio Malorum : berekspetasi yang terburuk

“Apa yang tidak terlalu diperhatikan adalah efeknya yang lebih menghancurkan, dan hal yang tidak terduga menambah beban dari bencana. Ini adalah alasan untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengejutkan kita. Kita harus memproyeksikan pikiran kita di depan kita di setiap kesempatan dan mengingat setiap kemungkinan yang mungkin terjadi alih-alih hanya kejadian biasa … Latih mereka dalam pikiran Anda: pengasingan, penyiksaan, perang, bangkai kapal. Semua istilah kemanusiaan kita harus di depan mata kita.” – Seneca

Premeditation Malorium atau pra-meditasi kejahatan, artinya yang lebih sederhana adalah berekspetasilah yang terburuk. Maksudnya kita harus mempersiapkan skenario terburuk dari apa yang sudah kita rencanakan jadi bila itu terjadi, kita tidak terlalu jatuh terperosok hingga tidak bisa bangkit lagi.

Pada kenyataannya pun, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Walaupun kita mendapatkannya, itu tidak akan sebersih dan semudah yang kita pikirkan. Jadi kita harus mempersiapkan segala hal buruk akan terjad. Ini bisa melatih ketahanan dan kekuatan mental kita.  

Contoh sederhananya seperti kita mempersiapkan ujian sekolah dengan sangat matang. Kita mempelajari dan menghafalkan itu bahkan di luar kepala kita. Namun daripada kita berekspetasi bisa mengerjakan soal dengan sempurna dan dapat nilai sempurna, cobalah juga melihat bahwa mungkin ada halangan. Seperti bisa aja kamu tidak sehat saat mengerjakan itu, bisa saja ternyata temanmu mencontekmu, atau bisa saja tiba-tiba soal yang diberikan berbeda dengan materi yang ada.

Dengan adanya latihan ini maka akan melatih mentalmu untuk tidak terlalu kecewa atau jatuh melihat suatu kegagalan. Hal itu bisa saja terjadi, dan itu tidak apa-apa. Maka ketika kamu kalah atau menang, baik atau buruk, itu bukan masalah bagimu.

Amor Fati : Cinta akan takdir kehidupan

“Mencintai untuk hanya apa yang terjadi, apa yang ditakdirkan. Tidak ada harmoni yang lebih besar. “ – Marcus Aurelius
Epictetus juga menegaskan seperti ini, “Jangan mencari hal-hal yang terjadi seperti yang kamu inginkan; sebaliknya, berharap apa yang terjadi itu terjadi seperti yang seharusnya: maka kamu akan bahagia. “

Maksud dari ini adalah apapun yang kamu alami setiap harinya, tidak peduli betapa menantangnya itu, kamu tidak akan akan menghindarinya namun menerimanya. Seperti kembali lagi ke poin-poin sebelumnya, apabila sesuatu yang menantang akan membuat kita menjadi kuat dan lebih baik di masa mendatang. Justru itu akan mengembangkan potensi kita menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Jadi jalanin saja kehidupanmu apa adanya, tidak perlu dibawa ribet ya!

Selamat Datang di Indonesi.com

Situs yang akan membuat Anda menjadi lebih baik, dengan artikel dan tips terpilih.

Visi kami adalah menjadikan inspirasi untuk sejuta orang Indonesia.

Redaksi Indonesi.com
Cipinang Indah. Jakarta Timur.

Related

Mengenal Wattpad adalah dan Genrenya

Wattpad, apa itu? Aplikasi menulis dan berbagi cerita gratis secara daring ini mungkin tidak banyak dikenal oleh…

  • Hobi
  • 3
Read more
Trend Di Rumah Saja

Berkegiatan selama pandemi memiliki ruang dan aktivitas yang sangat terbatas. Tidak jarang kita merasa sangat bosan…

  • Hobi
  • 2
Read more
Ide Content

Online shop saat ini sudah menjadi kata-kata yang sering didengar. Terlebih di masa pandemi COVID-19, banyak…

Read more

Internet is huge! Help us find great content

About

Bacaan Yang Membuat Anda Lebih Baik