Kisah Nursaka, Melintasi Dua Negara Demi Sekolah

Indonesia adalah negara memiliki sejumlah negara tetangga. Sebut saja seperti Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini. Tiga negara tersebut adalah negara yang memiliki perbatasan secara langsung di daratan.

Hal unik terjadi untuk Nursaka, ia adalah bocah SD yang bermukim di Malaysia tapi sekolah di Indonesia. Nursaka adalah anak SD kelas 4 yang bersekolah di SD Negeri 03 Sontas Entikong.

Sebenarnya Saka berkewarganegaraan Indonesia hanya saja keluarganya bermukim di Malaysia untuk kebutuhan bertani. Ayahnya Sudarsono mengaku kebutuhan ekonomi yang membuat ia dan anaknya harus tinggal di Malaysia.

Nursaka seorang bocah SD yang harus setiap hari melewati perbatasan Malaysia-Indonesia untuk tetap bisa bersekolah.

Nursaka dan ayahnya tinggal di Tebedu di Malaysia yang tidak jauh berbatasan dengan Entikong di Indonesia. Mereka memutuskan tetap menjadi warga negara Indonesia karena kecintaannya pada tanah air.

Akibat kondisi itu akhirnya Saka harus bersekolah setiap hari melintasi perbatasan kedua negara. Saka setiap hari sekolah harus melewati Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sehingga dokumen PLB wajib dibawa setiap hari.

Dokumen tersebut berfungsi sebagai keterangan resmi diperbolehkan bebas melintas perbatasan. Uniknya, penjaga pos perbatasan menjadi sangat akrab dengan Saka karena sering berinteraksi langsung.

Cerita Unik Nursaka dalam Melintasi Perbatasan

Nursaka selalu menggunakan ojek pada saat berangkat sekolah. Untuk pulang sekolah ia lebih memilih menggunakan mobil. Baik pada saat berangkat dan pulang harus transit di pos lintas batas terlebih dulu.

Ada cerita unik ketika melintasi pos perbatasan. Cerita uniknya adalah Saka sering tidur di pos perbatasan, itu membuat ayahnya selalu gelisah karena jadi terlambat pulang ke rumah. Ia selalu ditawarkan penjaga perbatasan untuk istirahat dulu sampai-sampai ketiduran.

Cerita unik lain yaitu Nursaka pernah diajak berbelanja oleh orang tidak dikenal di perbatasan. Lagi-lagi ayahnya gelisah menunggu kepulangan anaknya. Tapi untungnya orang tidak dikenal tadi tidak berniat jahat, hanya berniat mengajak jajan saja.

Selain anak tersebut pemberani, ia juga gemar menabung. Baru-baru ini ia baru saja memberikan tabungannya selama lima tahun kepada kakaknya. Atas dasar sayang pada kakaknya Saka memberikan semua tabungannya untuk kebutuhan kuliah kakaknya.

Dalam unggahan akun Trans7 Official dengan link https://www.youtube.com/watch?v=emW3jZAt9p0 dengan jumlah penonton 937 ribu diupload pada tanggal 19 September 2018. Dia bercerita banyak pada acara TV Hitam Putih.


Kaya Dan Miskin Hanya Dibatasi Selembar Kain Cantik

Sebuah undangan tergeletak di meja. Undangan ulang tahun. Lokasi acaranya di sebuah kafe mewah di salah satu kawasan elit Jakarta. Saya terkejut. Antara senang dan takjub karena mendapat kehormatan menjadi tamu di acara milik seorang teman yang kaya raya.

Gaun cantik sudah saya siapkan. Kado yang pantas untuk teman yang akan menjadi ratu di pestanya yang mewah sudah saya bungkus indah. Pada sebuah malam yang cerah, kami, para undangan, berangkat bersama.

Ya, tuan rumah sudah menyediakan kendaraan agar para undangan tidak repot mencari angkutan untuk ke lokasi acara.

Kafe mahal itu sudah disulap menjadi arena pesta yang mencengangkan. Musik berdentum seakan menyambut pertambahan usia tuan rumah. Makanan lezat sudah terhidang di sebuah meja panjang yang dipesan khusus. Makanan pembuka hingga hidangan penutup, tersedia lengkap. Aneka minuman pun sudah disiapkan. Pramusaji tampan dan cantik sudah bersiaga membantu para undangan.

Suasana sangat meriah, megah dan mewah. Saya tak henti-henti berdecak kagum.

Untuk Si Teman yang berulang tahun dan untuk kemampuannya menyiapkan dana demi terlaksananya pesta seperti ini.

Makanan melimpah, tak mungkin habis malam ini juga. para tamu undangan sudah cukup kenyang ketika acara sudah hampir berakhir. Makanan-makanan yang ada di meja, didiamkan begitu saja. Tak mungkin juga membawa makanan-makanan itu pulang. Ini kafe mahal, bukan tempat ibu-ibu arisan. Rasanya tak pantas jika plastik kresek dikerahkan untuk membungkus hidangan itu untuk dibawa pulang.

Saat tiba waktunya pulang, saya melangkah hati-hati di tangga keluar. Begitu sampai di halaman kafe, jantung saya berdetak lebih kencang.

Di sana, di halaman samping kafe, saya mendapatkan pemandangan yang “luar biasa”. Pemandangan yang begitu berbeda dengan yang beberapa detik lalu saya saksikan di dalam kafe.

Di halaman kafe, beberapa anak dengan rambut kusut, berkerumun di sekeliling tempat sampah besar. Mereka berusaha mencari apapun yang bisa disantap untuk makan malam.

Baju mereka yang kumal, dekil, dan kadang-kadang terdapat lubang, membuat saya miris.

Kekayaan dan kemiskinan nyaris tanpa batas yang jelas. Di balik megah dan mewahnya sebuah pesta, ada orang-orang yang berusaha mencari secuil harapan. Di balik ruangan dengan meja besar berisi berbagai makanan yang tak habis disantap, ada individu-individu yang mencari harapan bertemu rezeki di sekitar tempat sampah.

Saya langsung melirik gaun yang saya pakai. Dan merasakan bagian pinggangnya agak sesak karena perut saya telah terisi berbagai hidangan lezat.

Pikiran saya melayang pada makanan-makanan lezat yang masih saya saksikan beberapa menit yang lalu.

Detik ini juga saya terpikir akan kantung kresek. Andai tadi tidak malu atau gengsi untuk meminta kantung kresek. Andai tadi bisa memasukkan makanan-makanan ke dalam kantung kresek. Pasti orang-orang yang di sekeliling tempat sampah itu akan kebagian rezeki.