Detik detik ke datangan Bono di pulau muda kecamatan teluk Meranti. Riau indonesia.

Konten yang diunggah channel Riko rumapea Rumapea menunjukkan antusiasme warga menyaksikan kedatangan bono. Bono secara bahasa adalah ombak, namun bukan seperti ditemui di lautan. Karena proses pembentukannya terlihat berbeda.

Bono merupakan sebutan ombak yang terjadi di muara sungai Kampar, provinsi Riau. Hasil pertemuan antara arus sungai yang akan menuju laut dan arus laut ke sungai sehingga menimbulkan ombak besar.

Biasanya air sungai mengalir menuju laut sebagai muara akhir. Namun arus laut pada saat pasang akan berbalik ke aliran sekitarnya. Inilah yang menjadi fenomena paling menakjubkan dan selalu ditunggu kedatangannya.

Warga Menyaksikan Detik-detik Kedatangan Bono

Tidak datang setiap saat, kehadiran ombak di sungai menjadi pemandangan menakjubkan. Fenomena alam ini selalu mendapat antusiasme warga. Banyak yang kemudian mengabadikannya menggunakan kamera HP. Hal tersebut terlihat dalam tayangannya.

Dalam tayangannya tersebut, tampak warga dengan sabar menyaksikan bono mendekat. Detik-detik menakjubkan layaknya terjadi tsunami di sungai, terekam kamera banyak diunggah untuk update media sosial oleh warga sekitar yang melihatnya.

Fenomena ini hanya terjadi pada aliran sungai besar saja. Maka dari itu tidak ditemukan pada sungai-sungai kawasan pulau Jawa. Suatu keistimewaan ketika dapat mengabadikan moment air beriak, meninggi, menghempas daratan.

Ombak ini tidak membahayakan warga selama berada di daratan. Sebab ketinggian air masih terbilang aman, tidak bersifat merusak atau menenggelamkan daratan sekitar. Hanya menghasilkan deburan yang lebih besar dari biasanya.

Dari tayangan yang diunggah olehnya tersebut menuai 16 komentar. Beberapa diantaranya takjub karena ada ombak yang sangat besar. Ada juga yang usil dengan komentarnya saat melihat unggahan tersebut.

Orang yang takjub tersebut disampaikan Riswan Tarigan Sibero. Ada lagi yang kagum dan memberikan komentar karena ombaknya bisa seperti itu. Dia adalah Ale Ale. Karena baru melihat ombak seperti itu.

Tidak hanya itu saja, ada juga yang usil. Yaitu afin bachron menyebutkan dalam komentarnya bila tinggi ombaknya tiba-tiba sampai 10 meter, tertawa kalian pasti berubah. Karena bisa sangat berbahaya sekali.

Fenomena alam unik ini dapat Anda tonton di channel Riko rumapea Rumapea melalui https://www.youtube.com/watch?v=92oURAZILEo. Konten yang telah ditonton oleh 39.171 pemirsa sejak diupload pada 19 Oktober 2020 lalu.


Jangan Kecil Hati Jika Kamu Tak Berpendidikan Tinggi

Pernah melihat penumpang berdesakan di dalam commuter line, pada jam berangkat dan pulang kantor?

Kira-kira, seperti itulah hidup kita. Commuter line ibarat negeri ini, dan penumpangnya adalah kita-kita yang berdesakan dalam mencari sesuap nasi, di negeri ini.

Berdesakan dan berebut. Kita mungkin tak menyadari hal itu. Padahal, setiap saat kita bersaing dengan ribuan orang yang juga memiliki tujuan sama.

Kondisi yang berebut dan harus serbacepat itulah yang membuat kita lelah, terengah-engah, sekaligus cemas. Pada akhirnya, seleksi alam berlaku. Yang lemah akan kalah.

Ada seorang teman yang merasa cemas dalam mencari nafkah, karena pendidikannya tidak setinggi yang lain. Ketika tiba saat dia harus belajar di kampus, saat itu pula dia harus mengalah pada keadaan. Adik-adiknya lebih membutuhkan uang. Meskipun sama-sama untuk biaya pendidikan, si teman harus berbesar hati mengikhlaskan kesempatan itu diberikan untuk si adik.

Seiring berjalannya waktu, teman yang gigih dan tekun ini merasa, hidupnya tidak pernah “normal”. Di banyak tempat, kegigihan dan ketekunan saja tidak cukup, bila tidak dilengkapi dengan gelar akademik yang meyakinkan. Akibatnya, dia harus melewatkan banyak kesempatan.

Menyadari bahwa hidupnya tidak sama dengan teman-teman lain, dia mengubah haluan. Dia mencari strategi lain.

Kalau Bob Sadino saja bisa menjadi orang sukses meskipun tidak berpendidikan tinggi, mengapa aku tidak?

Begitu pikirnya.

Semua orang tercengang. Ketika yang lain terus menerus terpuruk menyesali nasib yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan studi, dia tidak. Dia terus mencari cara agar hidupnya bisa “normal”. Dia terus gigih berjuang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Satu pelajaran yang bisa dipetik darinya. Nasib bisa berubah, asalkan diperjuangkan dengan gigih. Bukan gelar akademik yang menentukan kita bisa hidup bahagia atau tidak, tetapi ketekunanlah yang berperan besar.

Hidup bukan seperti berdesakan di commuter line yang sempit. Sebab, segala sesuatunya bisa jauh lebih longgar daripada yang kita bayangkan.

Bukankah Tuhan punya kekuasaan yang tak terbatas atas nasib seseorang?

Asalkan kita mengusahakannya.