Dangerously Beautiful Indonesia

Resep Masakan Ayam Nusantara

Posted: July 24th, 2009 | Author: dania | Filed under: Basic, Makanan Indonesia | 3 Comments »

resep ayamJika dulu saya mengumpulkan resep ikan, kali ini giliran resep ayam. Saya cari resep ayam yang gampang, nggak susah, nggak repot, dan mudah-mudahan sih lezat ya.

Tips agar ayam tidak bau amis:

  1. Pilih ayam yang sesegar mungkin. Biasanya warnanya putih kekuningan dan dagingnya kenyal.
  2. Cuci di bawah air mengalir agar kotoran tidak lagi menempel di ayam.
  3. Pastikan tidak ada sisa bulu, terutama di bagian sayap (di bawah ketiak ayam).
  4. Lumuri ayam dengan jahe parut atau air jeruk nipis.
  5. Diamkan selama lima belas menit.
  6. Tiriskan.
  7. Ayam siap diolah.

Jangan lupa, saat merebus ayam, panci ditutup agar uap kaldu tidak ke mana-mana.  Saat dimasak, ayam mengeluarkan air, jadi jangan gunakan terlalu banyak air.

Jangan lupa juga lumuri ayam dengan jahe atau jeruk nipis ya. Kan sayang kalau sudah masak capek-capek malah nggak dimakan karena amis.

Selamat mencoba!


Resep Masakan Ikan Nusantara

Posted: June 16th, 2009 | Author: dania | Filed under: Makanan Indonesia | 4 Comments »

ikanKita tahu, negeri ini kaya dengan beragam jenis ikan. Baik ikan air tawar atau ikan laut. Dan, yang lebih mengagumkan lagi, masing-masing wilayah memiliki ciri khas tersendiri dalam mengolah ikan.

Ada yang menyajikan ikan dengan bumbu gurih, manis, pedas, hingga asam. Namun, semua terasa lezat di lidah.

Berikut ini adalah beberapa jenis resep khas nusantara dengan bahan olahan ikan:

  • Pesmol Ikan Khas Betawi – Masakan satu ini dapat menggunakan ikan gurame, tuna, kakap atau bandeng, sesuai selera. Cara membuatnya sederhana. Ikan digoreng terpisah, lalu bumbu dihaluskan dan ditumis. Siram ikan dengan bumbu tersebut.
  • Ikan Pesmol Khas Sunda – Ikan yang digunakan adalah ikan nila atau gurame, namun dapat juga diganti dengan ikan mujair.
  • Ikan Bakar Colo Dabu Dabu Papua – Ikan yang digunakan adalah ikan kue/baronang namun dapat diganti dengan ikan lainnya seperti kembung atau kerapu.
  • Gulai Kepala Ikan Kakap Merah – Resep satu ini adalah masakan khas Minang. Rasanya menakjubkan, bukan hanya karena bumbunya, namun juga karena kelezatan kepala kakap yang besar dan sedap bila diisap-isap.
  • Ikan dalam Kerang ala Kalimantan – Bahan yang digunakan adalah fillet ikan tenggiri yang direbus, lalu disuwir-suwir. Kerang digunakan sebagai ‘rumah’ adonan ikan.
  • Ikan Mas Woku Sulawesi – Resep ini juga menggunakan kunyit sebagai salah satu bumbunya.
  • Pepes Ikan Mas – Selain lebih sehat karena tidak perlu digoreng, rasa pepes ikan mas juga sulit terlupakan oleh lidah.
  • Tim Ikan Kerapu – Resep satu ini adalah makanan khas Sumatera Selatan, dari Sungai Musi.
  • Resep Pindang Bandeng – Resep ini adalah makanan khas Betawi. Namun, biasanya ikan bandeng yang digunakan adalah Bandeng Imlek karena kualitasnya bagus, selain besar-besar, lemaknya pun tebal.
  • Bandeng Bumbu Bali – Seperti masakan Bali lainnya, resep satu ini banyak menggunakan cabai.
  • Pindang Ikan Patin – Ada yang ikan patinnya dibakar terlebih dulu, atau langsung digabungkan dengan bumbu seperti pada resep satu ini.
  • Abon Ikan – Dapat menggunakan ikan tuna atau tenggiri. Cocok untuk menemani makan di saat sahur, praktis, cukup dicampur dengan nasi.
  • Ikan Kuah Garam khas Ternate – Ikan yang digunakan adalah ikan kerapu.
  • Resep Gulai Ikan ala Kadarnya – Resep ini adalah tipikal resep orang Indonesia yang seleranya sudah bercampur baur seperti Bhinneka Tunggal Ika.

Tak perlu susah kan sekarang jika ingin mengolah ikan? Cukup ikuti salah satu resep di atas.

Perlu diingat bahwa ikan memiliki banyak manfaat. Jenis lemak di dalam ikan (asam linoleat) setelah melalui proses metabolisme dalam tubuh manusia akan menghasilkan asam lemak yang kemudian dikenal dengan nama omega 3 yang dapat mencegah penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya.


Masakan Betawi yang Enak

Posted: May 25th, 2009 | Author: dania | Filed under: Wisata Kuliner | No Comments »

Masakan Betawi terkenal kaya akan rasa. Mulai dari rasa gurih, asin, manis, hingga asam. Terkadang semua rasa menyatu dalam sebuah masakan sekaligus.

Jika lebaran tiba, atau musim hajatan berlangsung, kami sekeluarga memilih untuk tidak memasak. Karena, kerap kami mendapat kiriman masakan khas Jakarta dari para tetangga. Jika lebaran, ada yang mengirim ketupat sayur dan semur kerbau. Jika ada hajatan, ada yang mengirim nasi uduk atau nasi ulam, pesmol ikan bandeng, asinan, dan banyak lagi.

Terkadang, jika rindu masakan Betawi, saya dan suami menyambangi beberapa rumah makan yang menyuguhkannya. Biasanya menu yang kami cari adalah:

  • Nasi Uduk Kebon Kacang. Yang kamu suka dari nasi uduk satu ini adalah porsinya yang kecil-kecil. Jika sedang lapar, kami dapat menghabiskan berbungkus-bungkus. Tapi, jika sedang diet — terutama saya — saya hanya menghabiskan paling banyak dua bungkus. Nasi uduk ini ditemani oleh saus kacang, tempe, tahu, dan ayam goreng.
  • Sop Kaki Kambing Tanah Abang. Sop ini ditemukan di berbagai sudut di wilayah Tanah Abang. Kuahnya bening, namun rasanya mantap. Biasanya, sumsum masih tertinggal di dalam tulang dan dapat dihirup.
  • Soto Betawi. Kuah Soto Betawi merupakan campuran antara santan dan susu — namun ada yang hanya santan saja dan ada yang hanya susu saja. Isinya dapat berupa daging kambing beserta jeroan dan bagian tubuh lainnya — seperti kuping, kaki, mata, otak, dll — atau daging sapi beserta paru.
  • Asinan Betawi. Untuk yang satu ini, kami biasanya memesan dari teman yang tinggal di lokasi Condet. Atau, jika kami sedang melewati daerah Slipi atau Rawabelong, kami menyempatkan diri menyambangi sebuah gerobak asinan yang berada di pertigaan Rawabelong.
  • Kerak Telor. Dulu, biasanya banyak sekali penjual Kerak Telor di PRJ atau Djakarta Fair. Namun, sekarang, kami tidak perlu menunggu hingga PRJ dibuka. Kami dapat menikmatinya di Pasar Bendungan Hilir atau di seberang RS. Pelni, KS. Tubun.
  • Soto Mie Betawi. Yang lebih terkenal sekarang adalah Soto Mie Bogor. Padahal, Soto Mie Betawi juga tak kalah sedapnya. Yang terkenal adalah Soto Mie di Wahid Hasyim. Dengar-dengar Soto Mie satu itu sudah puluhan tahun dijual di sana.
  • Ketupat Tahu. Tahu dan ketupat dijadikan satu, diberi kuah kacang yang kental, ditaburi kerupuk. Makanan ini terdapat di wilayah Condet dan hanya ada di malam hari.
  • Sate Manis dan Sate Lembut. Keduanya dapat ditemukan di resto milik Alm. Mpok Rohme di kawasan Kebon Kacang V. Sate manis tentu saja rasanya manis, sementara sate lembut bukan hanya manis, namun juga memang lembut karena dibuat dari daging cincang. Keduanya dihidangkan bersama kuah kacang.
  • Soto Tangkar. Kuahnya kaya akan rempah, dengan taburan kelapa gongseng yang menyatu di dalamnya. Salah satu tempat yang menjualnya adalah kawasan Tebet.

Wah, setiap kali membahas makanan, rasanya pingin langsung meluncur ke tempat yang menjual. Yuk?!


Sate Mak Syukur khas Padang Panjang

Posted: February 21st, 2009 | Author: dania | Filed under: Jalan-jalan, Makanan Indonesia, Wisata Kuliner | 2 Comments »

Sekitar lima tahun yang lalu, suami saya bertugas selama sekitar tiga bulan di Sumatra Barat. Ia menetap di kota Padang.

Saya tidak ikut suami saat itu karena saya bekerja. Tapi, satu bulan sekali saya mengunjunginya.

Suami yang memang hobi jalan-jalan tidak melewatkan kesempatan untuk menyambangi tempat wisata di sana, terutama wisata kuliner. Siapa sih yang tidak tahu kehebatan Minang dalam hal masakan?

Salah satu kota yang kami kunjungi adalah Padang Panjang yang terkenal dengan resto khasnya, Sate Mak Syukur.

Resto yang terletak di tepi sebuah jalan besar di Padang Panjang ini memang tak pernah sepi. Bahkan, ada kawan yang bercerita bahwa ia pernah kehabisan sate sehingga harus datang lagi ke sana keesokan harinya. Untung kami tidak kehabisan saat itu.

Sungguh memang lezat. Sate Padang terlezat yang pernah saya rasakan. Suami bahkan menghabiskan dua porsi. Saya yang awalnya biasa saja dengan sate padang pun menjadi tergila-gila.

Setiap kali mengunjungi suami di Sumatera Barat, saya selalu mengajak untuk singgah di Mak Syukur.

Suatu kali, kerinduan saya akan sate padang memuncak. Tapi, saya hanya ingin sate padang ala Padang Panjang, tak lain dan tak bukan, Sate Mak Syukur.

Kembali ke Sumatra Barat hanya untuk mencari sate rasanya agak aneh. Jadi, saya pun memendam keinginan. Hingga suatu saat saya mendapat kabar yang membuat saya merasa begitu gembira.

Sate Mak Syukur sudah dapat dinikmati di Jakarta. Gerai Sate Mak Syukur di Jakarta dapat ditemui di:

  • Pasaraya Manggarai
  • Pasaraya Blok M
  • Jl. Pengambiran No 37, Rawamangun Jaktim Telp 021- 93274702
  • Mall Kelapa Gading

Sebenarnya, siapakah Mak Syukur yang namanya dijadikan ikon sate padang lezat tersebut?

Beliau adalah Syukur Sutan Raja Endah yang mula merintis usahanya semenjak tahun 1947. Pada tahun 1984, usaha tersebut dilanjutkan oleh sang anak yang bernama Syafril Syukur.

Di Padang Panjang sendiri, sate yang dijual semenjak pukul 10 pagi hingga jam 9 malam ini memiliki tiga outlet. Dua di antaranya berada di Pasar Padang Panjang. Yang lainnya berada di jalan raya yang telah saya sebut di atas. Yang di jalan raya itulah yang terbesar dan paling terkenal.

Meski menurut sebagian orang rasa Sate Mak Syukur di Jakarta masih kalah dengan yang di Padang Panjang sana, saya tak gentar untuk selalu menyambangi gerai-gerai Mak Syukur di Jakarta. Lumayan sebagai pengobat rindu kepada sate padang pertama yang membuat saya jatuh cinta setengah mati.

Kebetulan salah satu dari keempa lokasi yang saya sebut di atas berdekatan dengan tempat saya bekerja. Jadi, tak jarang saya makan siang bersama teman-teman dengan menyantap Sate Mak Syukur.

Hm…bercerita tentang Sate Mak Syukur membuat saya ingin mengajak suami dan anak-anak untuk menikmatinya malam ini.  Memang setiap akhir Minggu kami selalu menyempatkan makan malam di luar.

Kali ini, menu kami adalah…Sate Padang Mak Syukur!


Visit Indonesia

Posted: December 31st, 2008 | Author: dania | Filed under: Jalan-jalan | No Comments »

Memang, dalam hitungan jam, Visit Indonesia 2008 akan berakhir. Tapi, nggak ada salahnya kan kalau kita tetap mempromosikan objek-objek pariwisata negeri ini?

Perjalanan saya ke Cirebon minggu lalu membuka mata saya bahwa kota kecil sekalipun punya daya tarik tersendiri. Selain pemandangan, makanan dan lokasi wisata belanjanya juga membuat saya ingin kembali dan kembali lagi.

Di kota kecil itu saya menikmati beragam makanan khas Cirebon yang sulit ditemukan di Jakarta seperti Empal Gentong, Nasi Jamblang, dan Tahu Gejrot. Semua saya nikmati di pinggir jalan.

Malam pertama di sana, kami langsung mencari Nasi Jamblang. Sebetulnya menunya mirip dengan masakan rumahan. Tapi, nasinya dibungkus dengan daun jati.

Tahu Gejrot kami dapati saat membeli oleh-oleh khas Cirebon di Sinta Manisan. Hampir saja kehabisan…

Empal Gentong kami nikmati di siang hari. Lagi-lagi, kami hampir kehabisan. Untunglah kami datang tepat waktu.

Saat packing sebelum pulang, kopor saya susah ditutup. Saya belanja batik gila-gilaan di sana. Terlalu cantik dan murah untuk ditinggalkan. Suami saya dapat kemeja lima, saya bahan batik enam dan blus batik empat, anak-anak yang kurang hoki. Saya nggak bisa menemukan batik yang pas dengan ukuran mereka.

So, berwisata kan nggak melulu harus ke Bali?

Di Cirebon banyak hotel menarik. Kalau mau yang lebih tenang dan agak sejuk, bisa naik sedikit ke arah Kuningan.

Dan, yang jadi turis kan gak perlu bule atau orang Jepang? Turis lokal seperti kita juga diterima dengan senyum ramah kok…

Yuk, jalan-jalan lagi di 2009!