Belum lama ini, saya harus melewatkan perjalanan cukup jauh dengan mobil, urusan pekerjaan. Kami harus mengunjungi beberapa klien dan vendor di beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Cirebon, Kuningan, Batang, Pekalongan, Jepara dan Semarang. Yang paling masuk akal adalah dengan mobil.
Maka, berangkatlah kami bertiga, dua perempuan dan satu lelaki, plus seorang sopir, lelaki tentunya.
Apa yang saya persiapkan sebelum menempuh perjalanan jauh tersebut?
Cukup istirahat. Bukan apa-apa, saya harus melewatkan waktu berjam-jam dengan duduk di dalam mobil. Memang kami berhenti, tapi untuk makan, dan ujung-ujungnya duduk juga kan?
Air minum yang cukup. Terkadang, kami dapat menemukan banyak warung atau toko, tapi ada kalanya tak ada sama sekali.
Cemilan. Terutama permen pedas untuk si sopir agar tidak mengantuk.
Makanan. Karena kami bukan hendak berwisata kuliner dan mencari-cari makanan khas kota yang kami kunjungi itu, kami memilih membawa bekal — paling tidak saat berangkat. Karena, tak banyak rumah makan yang cukup representatif untuk disinggahi.
Perhatikan waktu berangkat agar tidak melewati titik-titik tertentu pada malam hari karena terkadang ada wilayah yang nampaknya cukup berbahaya atau sepi.
Jika harus menginap, pesan hotel jauh-jauh hari. Jangan sampai sudah lelah karena perjalanan jauh tapi masih harus putar-putar cari hotel lagi.
Dibawa happy. Ngobrol yang seru-seru, atau siapkan musik yang dapat menghibur semua.
Liburan kali ini ternyata jauh dari angan-angan. Kami tidak bisa ke mana-mana. Baik saya maupun suami sedang sangat sibuk di kantor, jadi agak sulit untuk mengambil cuti. Kami hanya dapat memanfaatkan akhir minggu untuk membawa anak-anak berlibur. Dan, hanya di Jakarta dan sekitarnya.
Berikut ini adalah tempat-tempat yang dapat kami kunjungi selama liburan ini:
Monas. Tips dari seorang teman adalah jangan memaksakan diri naik ke puncak Monas jika sedang ramai. Karena, antriannya bisa hingga 3 jam! Cukup ajak anak-anak naik delman keliling lingkar luar Monas, mengunjungi ruangan bersejarah, dan bermain-main di taman Monas. Kabarnya, ada yang menjual layang-layang di sana.
Mengunjungi Museum seperti Gedung Arsip, Museum Gajah, Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri, Museum Tekstil (kabarnya kita bisa belajar membatik di sana), dll.
Ke Taman Mini Indonesia Indah. Anak-anak belum pernah mengunjungi satu per satu rumah adat di sana. Terakhir kali mereka ke Taman Mini adalah saat bepergian dengan sekolah. Itu pun hanya mengunjungi satu-dua museum di sana. Si Kakak ingin sekali mengunjungi Keong Emas. Nanti kita ke sana ya, Kak.
Kampoeng Maen, BSD. Kami pernah mengajak anak-anak ke Kampoeng Maen yang diselenggarakan di Senayan sekitar setahun yang lalu. Tapi, kabarnya, pusatnya memang yang di BSD ini. Anak-anak dijamin puas dengan berbagai permainan yang ada. Ada tempat bermain sendiri, bersama keluarga, bisa juga mencoba-coba menjadi presenter, ada peragaan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Terkadang, orang tua ikutan bermain juga loh..
Kidzania, Pacific Place. Kalau yang satu ini, anak happy, ortu senang. Haha…saya berlibur dengan berbelanja, sementara mereka bermain-main dan berandai-andai di sana. Si Kakak mau jadi dokter gigi, gak usah nunggu lama ya, Kak? Kamu bisa jadi dokter gigi sekarang juga. Hahaha!
Ancol. Nah yang satu ini sih bisa menghabiskan waktu seharian (atau lebih?). Dufan, Sea World, Gelanggang Samudra, Gondola, Pantai, Atlantis, Pasar Seni. Sepertinya tidak cukup seharian. Atau menginap saja di hotel di Ancol ya?
Kebun Binatang Ragunan. Yang satu ini si Adik belum pernah. Si Kakak sudah, dengan sekolah. Kabarnya di Ragunan ada Pusat Primata Scmutzer, Taman Bunga, dll. Anak-anak juga dapat melihat saat komodo, buaya dan cormoran diberi makan dan saat kuda nil sikat gigi.
Taman Safari. Nah, yang satu ini dapat dibarengi dengan menginap di Puncak dan mengunjungi Perkebunan Teh Gunung Mas. Kami bisa menginap di Gunung Mas atau di wilayah Taman Safari.
Sebenarnya masih banyak lagi yang dapat dikunjungi di Jakarta dan sekitarnya. Tapi, pertanyaannya adalah…penuh banget nggak ya? Hahaha…jangan sampai nanti anak terlanjur lelah hanya untuk mengantri.
Sambil pikir-pikir, sepertinya saya harus cari tahu dan meminta tips ke teman-teman nih.
Entah karena dekat atau apa, rasa-rasanya setiap kali ke Jogja, kami hanya menghabiskan waktu paling lama tiga hari. Terlebih lagi, beberapa kali di antaranya, memang saya dan anak-anak pergi untuk menemani suami yang tugas di sana.
Nah, apalagi kalau sudah dengan anak-anak begitu, eksplorasi makanan khas Jogja pun tak maksimal karena mereka lagi-lagi ya mencari yang sudah dikenal baik oleh lidah mereka.
Demi anak, kami mengalah saja.
Lokasi yang kami kunjungi ya kalau bukan Borobudur ya Prambanan. Oleh-oleh yang kami bawa pulang pun lagi-lagi bakpia, bakpia dan bakpia terus.
Sebenarnya, menurut seorang teman, banyak hal yang dapat dieksplor di kota Gudeg ini.
Di antaranya:
Museum Ullen Sentalu. Museum ini terletak di selatan Gunung Merapi, di daerah Pakem, di timur Kali Boyong, Kaliurang. Menurut yang sudah pernah ke sana, museum ini menampilkan budaya dan kehidupan putri / wanita Keraton Yogyakarta beserta koleksi bermacam-macam batik (baik gaya Yogyakarta maupun Surakarta). Museum ini selain menghadirkan informasi tentang kecantikan Putri Keraton, juga tentang pemikiran dan karya mereka.
Museum Affandi. Museum yang terletak di di Jalan Laksda Adi Sucipto 167 ini menampilkan koleksi lukisan karya sang Maestro yang dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907 serta koleksi lukisan karya pelukis lainnya. Bukan hanya itu, pengunjung juga dapat melihat mobil sedan Mitsubishi Gallant tahun 1975, sepeda Reliegh tahun 1975, dan banyak lagi.
Belajar membuat perhiasan perak di Kota Gede. Kebetulan saya tidak suka emas kuning, lebih suka emas putih dan perak. Dengar-dengar dalam waktu hanya 3 jam, kita bisa membuat sendiri perhiasan berbahan perak loh.
Museum Kekayon. Museum yang terletak di Jalan Raya Jogja Wonosari Km 7 No 277 ini kabarnya menggambarkan sejarah bangsa Indonesia sekaligus kesenian wayang.
Pabrik Cerutu Taru Martani. Pabrik yang didirikan semenjak tahun 1918 ini memproduksi cerutu legendaris. Kita dapat melihat langsung proses produksi cerutu linting tangan, tapi saya takkan membelinya. Nggak ada yang merokok.
Pabrik Gula Madukismo. Menuju lokasi, dari Gedung Madu Chandy, kita akan menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api tua.
Pabrik Tegel Kunci. Di pabrik yang dibangun semenjak tahun 1929 ini, kita dapat melihat proses produksi ubin-ubin bernuansa klasik dengan motif unik. Kabarnya, ubin-ubin ini juga turut menghiasi lantai Kraton Yogyakarta.
Nah, ternyata banyak banget kan hal yang bisa dilihat di Jogja alias Yogyakarta? Nggak melulu Malioboro, Pasar Beringharjo, Bakpia Patok, Prambanan dan Borobudur aja kan?
Saat saya ajukan ke suami, ternyata tiga di antara tempat-tempat yang saya sebutkan di atas pernah ia kunjungi bersama teman-temannya.
Duh, kenapa sih nggak ajak-ajak saya dan anak-anak? Huhuhu…
Tapi, dia janji, kalau dia tugas ke Jogja lagi, kami akan diajak dan kami akan menghabiskan waktu lebih dari 3 hari!
Salah seorang teman kantor menghabiskan liburannya di Lombok. Katanya sih ok banget. Suami yang pernah tugas ke sana juga bilang begitu–tapi cuma bilang, nggak ngajak!
Jadi penasaran deh.
Kata si temanitu, ada dua tempat yang dia suka. Pertama di Senggigi, kedua di Rinjani.
Senggigi adalah pantai indah yang terletak di sebelah barat Pulau Lombok. Menurut si teman, pantai satu ini mirip dengan Kuta, tapi tak sebesar Kuta. Dan, yang pasti, lebih murah.
Dari kota Mataram, untuk mencapai pantai dengan keelokan pemandangan bawah lautnya ini hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Sebelum tiba di Senggigi, teman saya sempat mampir juga di Pura Batu Bolong. Kabarnya, dahulu kala sering diadakan pengorbanan seorang perawan untuk dimakankan kepada ikan hiu di tempat ini. Legenda lain mengatakan dahulu banyak para wanita yang menerjunkan diri dari tempat ini ke laut karena patah hati.
Teman saya juga sempat mendengar bahwa jika ke sana bersama pasangan atau pacar, maka hubungan tidak langgeng. Seperti mitos Kebun Raya Bogor ya?
Nah, dari Senggigi, teman saya juga dapat melihat Gunung Agung yang terletak di Bali.
Menurut teman saya lagi, jika tak bisa surfing, siap-siap saja iri kepada para surfer yang dengan semangatnya menunggu ombak yang dapat membawa mereka meluncur dengan lihainya.
Di samping itu, di pantai berpasir putih ini, selain dapat menikmati panorama nan indah, pengunjung dapat pula melihat pemandangan orang yang sedang memancing atau nelayan yang sedang melaut.
Di sekitar Senggigi, terdapat beragam penginapan dengan berbagai variasi harga. Jika ada uang lebih, Holiday Inn, the Oberoi, Sheraton Senggigi, Melati Dua Cottage, Pool Villa Club, Panorama Cottage bisa menjadi pilihan. Namun, jika dana agak terbatas, terdapat pula hotel melati hingga pemondokan.
Di sana, teman saya sempat menikmati angkutan khas NTB, Cidomo namanya. Cidomo ini ditarik oleh seekor kuda. Mungkin mirip delman di Jawa ya?
Selain Senggigi, seperti saya sebutkan di atas, si teman beruntung itu juga menikmati Rinjani. Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia.
Meski mendaki Rinjani bisa dilakukan sambil bersantai-santai, tetap saja persiapan logistik sangat diperlukan. Tapi, menurut teman saya, tak perlu khawatir. Segala sesuatu bisa diperoleh di desa terdekat (Senaru), mulai dari tenda, sleeping bag, peralatan makan, bahan makanan dan apa saja yg diperlukan.
Yang ok-nya lagi, porter di Rinjai selain handal dalam mengangkut logistik berat, mereka juga jago memasak dan bisa menjadi guide yang memuaskan.
Di Rinjani dapat ditemukan Edelweiss, bunga yang melambangkan keabadian dari keindahan. Edelweiss adalah jenis flora yang dilindungi. Jadi, si teman yang memang taat peraturan itu tak membawakan saya bunga nan indah itu sebagai oleh-oleh.
Menarik deh nampaknya. Tapi, mungkin saya hanya bisa ke Senggigi dan menikmati pantainya. Kalau harus mendaki, kayaknya saya hanya akan merepotkan saja. Hahaha!
So, enaknya liburan berikutnya ke Lombok atau Danau Toba ya? Bingung deh.
Memang sudah beberapa kali suami berniat mengajak saya berlibur ke Danau Toba, tapi belum juga terlaksana. Ia begitu ingin karena saat kecil, ia pernah tinggal di Medan selama dua tahun dan sesekali diajak orang tuanya untuk menikmati indahnya Danau Toba.
Sementara belum ke sana, saya coba-coba cari video tentang Danau Toba, dan menemukan yang satu ini:
Indah banget kan?
Danau yang mengelilingi Pulau Samosir ini dapat dicapai hanya empat jam perjalanan darat dari kota Medan.
Menurut suami, kami dapat menginap di Parapat. Kami dapat menikmati keindahan Danau Toba dari hotel-hotel yang terletak di kota tersebut.
Kami juga dapat naik kapal untuk menyambangi Pulau Samosir. Suami bercerita betapa ia terpukau akan keindahan Danau Toba saat masih kecil dulu.
Katanya lagi, di Pulau Samosir, terdapat sebuah air terjun yang sangat indah yang dikenal dengan nama Air Terjun Sampurna Tujuh.
Di sana juga sepertinya banyak yang menjual pernak-pernik oleh-oleh yang lucu-lucu. Yah, mungkin seperti wajarnya obyek wisata ya? Sekitar setahun yang lalu, sahabat saya berlibur ke sana–karena kebetulan ia memang berasal dari Sumatra Utara–dan membawakan saya oleh-oleh yang katanya khas Samosir seperti kain dan tas.
Danau seluas 1.700 m2 ini kabarnya lebih seperti laut ketimbang danau. Suasana di sana tenang. Terletak 906 meter di atas permukaan laut, udaranya segar.
Yang menarik dari Danau Toba, di antaranya, adalah kisah di balik asal mula salah satu danau terindah di Indonesia ini.
Menurut legenda, Danau Toba berasal dari kata tuba atau tak tahu berbalas budi. Kisah ini berawal dari seorang pemuda yang bekerja sebagai penangkap ikan. Ia menemukan seekor ikan yang kemudian menjelma menjadi seorang perempuan. Ia pun menikah dengan perempuan ini, dengan syarat, jika mereka punya anak, ia tak boleh memberiytahukan bahwa anak tersebut adalah anak ikan.
Namun, suatu saat ia melanggar janji. Ia tak sengaja mengatakan kepada anaknya bahwa ia anak ikan. Sang istri mengetahui hal tersebut. Lalu ia dan si anak menghilang. Kabarnya tanah bekas telapak kaki mereka mengeluarkan air yang kemudian menjadi air di Danau Toba.
Sedangkan asal mula Danau Toba jika ditilik dari segi ilmiah, diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu. Dua peneliti dari Michigan Technological University, Bill Rose dan Craig Chesner, memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.
Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Sekitar lima tahun yang lalu, suami saya bertugas selama sekitar tiga bulan di Sumatra Barat. Ia menetap di kota Padang.
Saya tidak ikut suami saat itu karena saya bekerja. Tapi, satu bulan sekali saya mengunjunginya.
Suami yang memang hobi jalan-jalan tidak melewatkan kesempatan untuk menyambangi tempat wisata di sana, terutama wisata kuliner. Siapa sih yang tidak tahu kehebatan Minang dalam hal masakan?
Salah satu kota yang kami kunjungi adalah Padang Panjang yang terkenal dengan resto khasnya, Sate Mak Syukur.
Resto yang terletak di tepi sebuah jalan besar di Padang Panjang ini memang tak pernah sepi. Bahkan, ada kawan yang bercerita bahwa ia pernah kehabisan sate sehingga harus datang lagi ke sana keesokan harinya. Untung kami tidak kehabisan saat itu.
Sungguh memang lezat. Sate Padang terlezat yang pernah saya rasakan. Suami bahkan menghabiskan dua porsi. Saya yang awalnya biasa saja dengan sate padang pun menjadi tergila-gila.
Setiap kali mengunjungi suami di Sumatera Barat, saya selalu mengajak untuk singgah di Mak Syukur.
Suatu kali, kerinduan saya akan sate padang memuncak. Tapi, saya hanya ingin sate padang ala Padang Panjang, tak lain dan tak bukan, Sate Mak Syukur.
Kembali ke Sumatra Barat hanya untuk mencari sate rasanya agak aneh. Jadi, saya pun memendam keinginan. Hingga suatu saat saya mendapat kabar yang membuat saya merasa begitu gembira.
Sate Mak Syukur sudah dapat dinikmati di Jakarta. Gerai Sate Mak Syukur di Jakarta dapat ditemui di:
Pasaraya Manggarai
Pasaraya Blok M
Jl. Pengambiran No 37, Rawamangun Jaktim Telp 021- 93274702
Mall Kelapa Gading
Sebenarnya, siapakah Mak Syukur yang namanya dijadikan ikon sate padang lezat tersebut?
Beliau adalah Syukur Sutan Raja Endah yang mula merintis usahanya semenjak tahun 1947. Pada tahun 1984, usaha tersebut dilanjutkan oleh sang anak yang bernama Syafril Syukur.
Di Padang Panjang sendiri, sate yang dijual semenjak pukul 10 pagi hingga jam 9 malam ini memiliki tiga outlet. Dua di antaranya berada di Pasar Padang Panjang. Yang lainnya berada di jalan raya yang telah saya sebut di atas. Yang di jalan raya itulah yang terbesar dan paling terkenal.
Meski menurut sebagian orang rasa Sate Mak Syukur di Jakarta masih kalah dengan yang di Padang Panjang sana, saya tak gentar untuk selalu menyambangi gerai-gerai Mak Syukur di Jakarta. Lumayan sebagai pengobat rindu kepada sate padang pertama yang membuat saya jatuh cinta setengah mati.
Kebetulan salah satu dari keempa lokasi yang saya sebut di atas berdekatan dengan tempat saya bekerja. Jadi, tak jarang saya makan siang bersama teman-teman dengan menyantap Sate Mak Syukur.
Hm…bercerita tentang Sate Mak Syukur membuat saya ingin mengajak suami dan anak-anak untuk menikmatinya malam ini. Memang setiap akhir Minggu kami selalu menyempatkan makan malam di luar.
Kali ini, menu kami adalah…Sate Padang Mak Syukur!
Saya pasti akan menjawab semangat jika suami saya mengajakku ke sana. Tidak, kami tidak punya kerabat di Garut. Tapi, Garut adalah tempat bersejarah bagi kami. Ehem…kami melewati bulan madu di sana.
Tidak tanggung-tanggung. Suami–saat itu ia masih sebatas tunangan–memesan tempat tiga hari dua malam di Kampung Sampireun.
Sangat tak terlupakan.
Garut memang semakin terkenal karena Kampung Sampireun. Padahal, di wilayah tersebut, terdapat beberapa tempat menginap lainnya, seperti Kampung Sumber Alam dan Sabda Alam Resort.
Kenapa?
Karena, Kampung Sampireun memang seakan diperuntukkan bagi pasangan bulan madu. Suasananya tenang, senyap. Wah, apalagi jika datang di hari kerja. Seakan tempat itu hanya milik berdua.
Sementara itu, Kampung Sumber Alam terkesan lebih seru, jadi acara berlibur bersama keluarga tepat sekali jika dihabiskan di sana.
Sabda Alam lain lagi. Dengan fasilitas taman airnya, dijamin anak-anak akan sangat senang dan tidak mau pulang!
Atau, jika dana kita agak terbatas, kita bisa juga memilih satu di antara sekian hotel dengan kelas di bawah ketiga penginapan yang saya sebut di atas. Menurut teman, kualitasnya ok juga kok.
Omong-omong, di mana sih Garut itu? Gak jauh kok dari Bandung. Baik via Kamojang maupun Nagrek, Bandung-Garut berjarak sekitar 60 km. Namun, waktu tempuh jika lewat Kamojang agak lebih lama dibandingkan jika kita lewat Nagrek.
Oh ya, yang menarik lagi, kalau kita nggak bawa mobil, alias berencana naik kereta ke Bandung dulu, kita nggak perlu pusing dengan kendaraan menuju lokasi tempat menginap. Dari pengamatan saya, beberapa tempat menginap menyediakan jasa jemput ke stasiun.
Lalu, kenapa harus Garut?
Kenapa nggak? Selain berbagai kenyamanan yang ditawarkan oleh penginapan, kita juga dapat berkeliling ke tempat wisata di sekitarnya, seperti:
Kawah Papandayan
Kawah Kamojang di kaki Gunung Guntur, di mana kita bisa mandi ’sauna’
Candi Cangkuang yang terletak di atas bukit di tengah danau Cangkuang, merupakan peninggalan kebudayaan Hindu pada abad VIIIM
Situ Bagendit, kita dapat naik rakit hingga ke tengah danau
Pantai Santolo
Pantai Sayang Heulang
Dari segelintir tempat wisata yang saya sebutkan di atas, bisa dilihat betapa beragamnya kegiatan yang dapat kita lakukan di Garut, mulai dari gunung, laut, danau, pantai, bahkan wisata budaya.
Ada lagi hal menarik lainnya tentang Garut. Ternyata kabupaten dengan luas 306.519 Ha (3.065,19 km²) ini memiliki julukan yang khas nan unik.
Swiss van Java.
Wow…ternyata karena keindahan dan kontur alamnya nan eksotik serta udaranya yang sejuk nan segar, Garut disejajarkan dengan negara di Eropa tersebut.
So, paling tidak, jika belum bisa ke Swiss, dengan menghabiskan waktu di Garut, kita seakan-akan sudah pernah ke sana.
Memang, dalam hitungan jam, Visit Indonesia 2008 akan berakhir. Tapi, nggak ada salahnya kan kalau kita tetap mempromosikan objek-objek pariwisata negeri ini?
Perjalanan saya ke Cirebon minggu lalu membuka mata saya bahwa kota kecil sekalipun punya daya tarik tersendiri. Selain pemandangan, makanan dan lokasi wisata belanjanya juga membuat saya ingin kembali dan kembali lagi.
Di kota kecil itu saya menikmati beragam makanan khas Cirebon yang sulit ditemukan di Jakarta seperti Empal Gentong, Nasi Jamblang, dan Tahu Gejrot. Semua saya nikmati di pinggir jalan.
Malam pertama di sana, kami langsung mencari Nasi Jamblang. Sebetulnya menunya mirip dengan masakan rumahan. Tapi, nasinya dibungkus dengan daun jati.
Tahu Gejrot kami dapati saat membeli oleh-oleh khas Cirebon di Sinta Manisan. Hampir saja kehabisan…
Empal Gentong kami nikmati di siang hari. Lagi-lagi, kami hampir kehabisan. Untunglah kami datang tepat waktu.
Saat packing sebelum pulang, kopor saya susah ditutup. Saya belanja batik gila-gilaan di sana. Terlalu cantik dan murah untuk ditinggalkan. Suami saya dapat kemeja lima, saya bahan batik enam dan blus batik empat, anak-anak yang kurang hoki. Saya nggak bisa menemukan batik yang pas dengan ukuran mereka.
So, berwisata kan nggak melulu harus ke Bali?
Di Cirebon banyak hotel menarik. Kalau mau yang lebih tenang dan agak sejuk, bisa naik sedikit ke arah Kuningan.
Dan, yang jadi turis kan gak perlu bule atau orang Jepang? Turis lokal seperti kita juga diterima dengan senyum ramah kok…
Yuk, jalan-jalan lagi di 2009!
Partners
Ada website baru. Di sini adalah cara paling gampang baca Internet di Hingga.com. Klik di sini ya.