Iklan Unik
Posted: February 11th, 2009 | Author: dania | Filed under: Basic | 1 Comment »Iklan memang sebaiknya unik agar dapat dengan mudah diingat. Saya suka iklan di atas karena membuat kita langsung bisa teringat fungsi benda yang diiklankan.
Iklan memang sebaiknya unik agar dapat dengan mudah diingat. Saya suka iklan di atas karena membuat kita langsung bisa teringat fungsi benda yang diiklankan.
Sabtu dan Minggu adalah hari-hari di mana warga Jakarta memenuhi kota Bandung. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah mobil berplat B.
Tak jarang juga kita bertemu dengan kerabat dan kawan yang ternyata juga ber-weekend di sana.
Selain wisata kuliner, yang dicari warga Jakarta di Bandung adalah pakaian. Siapa sih yang nggak suka dan nggak pernah belanja di FO Bandung? Bukan cuma murah tapi juga meriah. Barang-barangnya bagus dan harganya terjangkau.
Ada seorang teman yang hobi sekali ke Bandung. Awalnya, ia hanya membeli baju untuk kedua anak perempuannya yang saat itu masih balita. Lalu, ia juga membelikan pakaian untuk keponakan-keponakannya.
Lama kelamaan, banyak yang menitip beli kepadanya. Akhirnya, ia menjadikan titip beli baju di FO Bandung itu sebagai mata pencaharian. Sekarang, ia membuka sebuah toko online di sebuah layanan blog dan networking di dunia maya ini.
Saya bukan penggila pakaian. Jadi, walaupun waktu tempuh Jakarta – Bandung hanya dua jam, saya memang tidak pernah mengkhususkan pergi ke Bandung untuk belanja di FO. Kalau memang sedang jalan-jalan saja dengan suami dan anak atau dengan teman dekat. Itu pun kalau memang ada barang yang saya atau keluarga perlukan.
Lagipula, adik saya penggila baju yang berprinsip belanja dua baju baru, keluarkan dua baju lama dari lemari. Dan, karena baju-bajunya masih bagus dan kami memiliki ukuran yang sama, biasanya sayalah yang diberi.
Tapi, jika kalian berniat ke Bandung, nggak ada salahnya intip tips belanja di FO Bandung yang satu ini. Atau, tips belanja sepatu di Bandung yang ini.
Atau, ingin menyambangi satu-persatu FO yang ada di Bandung?
Silakan catat nama dan alamat FO di Bandung yang bisa dikunjungi:
Kanker Serviks atau biasa disebut juga dengan kanker mulut rahim disebabkan oleh virus yang dikenal dengan HPV (Human Papilloma Virus). Melalui pap smear (tes yang digunakan untuk mendeteksi perubahan atau sel pada dinding leher rahim), maka dapat diketahui apakah seseorang terkena virus tersebut atau tidak.
Selain melalui pap smear, kanker mulut rahim ini juga dapat dideteksi dengan IVA. IVA adalah inspeksi visual dengan Asam Asetat 3-5 persen. Tes satu ini lebih murah dan mudah bila dibandingkan dengan pap smear, namun hasilnya sana akuratnya.
Jika terdeteksi semenjak dini, kanker serviks ini dapat disembuhkan hingga 100%. Sayangnya, banyak yang baru memeriksakan diri setelah kanker memasuki stadium lanjut. Walau begitu, kanker ini masih dapat disembuhkan. Tentunya dengan didukung oleh gaya hidup yang sehat dari si pasien.
Tidak main-main, kanker ini diidap oleh banyak perempuan di Indonesia. Di dunia, setelah Cina, Indonesia merupakan Negara dengan peringkat kedua yang memiliki pengidap kanker leher rahim terbanyak.
Sebenarnya, seperti virus lainnya, HPV juga dapat sembuh sendiri. Dengan daya tahan tubuh yang baik, 90% di antaranya dapat sembuh dalam waktu 2 tahun. 10% sisanya tetap aktif atau tetap ada namun tidak aktif.
Saat daya tahan tubuh menurun inilah, yang tidak aktif itu dapat kembali aktif yang kemudian setelah bertahun-tahun lamanya akan menyebabkan tumbuhnya sel kanker.
Sebenarnya, siapa sajakah yang dapat terkena kanker serviks?
Pencegahan
Salah satu cara yang dianggap efektif untuk mencegar seseorang terpapar penyakit yang dapat mematikan ini adalah dengan vaksinasi.
Namun, vaksinasi efektif hanya jika diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Di negara tertentu, anak perempuan berusia sembilan tahun mulai diberikan vaksinasi.
Walau begitu, vaksinasi ini juga menimbulkan kontroversi.
Dalam salah satu tayangan Oprah yang saya tonton beberapa waktu lalu, beberapa orang tua menentang vaksinasi ini. Karena, ada yang beranggapan bahwa memberikan vaksinasi berarti memberikan legalitas kepada anak untuk aktif secara seksual dan/atau berganti pasangan.
Kubu lainnya menyanggah dengan menyatakan bahwa resiko terkena penyakit itu terlalu besar sehingga mereka memang harus memberikannya. Masalah apakah si anak akan melakukan kegiatan seksual secara aktif dan/atau berganti pasangan kembali kepada cara orang tua mendidik dan nilai moral yang ditanamkan kepada mereka.
Kedua kubu itu masing-masing memiliki alasan yang jelas. Di negara ini, yang kebetulan memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi ketimbang negara barat tempat kontroversi itu terjadi, tak ada salahnya kita sebagai orang tua tetap memberikan vaksin tersebut. Toh, kita telah terbiasa menanamkan nilai agama dan moral kepada anak-anak kita.
Mari kita cegah anak-anak perempuan kita dari HPV dan mari kita periksakan diri sedini mungkin.
Pernah nyontek?
Nyontek teman, ke buku, atau…seperti di atas?
Sekarang ini, yang sedang jadi trend dalam hal perumahan adalah tipe rumah minimalis. Semua serba kotak dan simpel.
Sayang, rumah yang kami tinggali sekarang masih berupa rumah lama yang jauh dari minimalis. Masih ada pilar, ornamen di jendela, dan lain-lain.
Impian saya dan suami adalah suatu hari dapat mengubah tampilan rumah kami ke arah yang lebih minimalis. Masalahnya, rumah kami masih dalam keadaan cukup baik sehingga sayang juga kalau harus direnovasi habis-habisan.
Walau begitu, kami sudah mulai hunting bentuk rumah minimalis seperti apa yang nantinya akan kami pilih.
Belum lama ini, kami mendarat di salah satu blog menarik seorang desainer interior dan arsitektur bernama Anna Hape. Bahkan, kami juga sempat melihat-lihat flickr Mbak Anna di sini.
Dalam blognya, kami menemukan salah satu tips menarik mengenai rumah minimalis. Mbak Anna menjelaskan bahwa rumah minimalis lebih dari sekedar gaya. Rumah minimalis adalah itu Filosofi Hidup.
Kalau dipikir-pikir ada benarnya.
Saya dan suami memang lebih senang yang simpel. Pemilihan rumah kami yang sekarang juga cukup simpel. Pertama, rumah ini dekat dengan rumah kedua orang tua kami. Kedua, kondisi rumah masih dalam keadaan baik. Ketiga, harganya sesuai dengan budget kami saat itu.
Namun, ya itu, kami agak terganggu dengan pembagian ruangan yang jauh dari simpel. Bagian dalam terkesan sempit karena banyak sekali sekat yang tidak terlalu fungsional. Tak ketinggalan banyaknya ornamen yang kurang perlu pada pintu dan jendela.
Padahal, menurut Mbak Anna, salah satu filosofi rumah minimalis adalah mengambil yang penting saja, yang fungsional.
Di blog Mas Ronny, bahkan dikatakan, “…less is more and ornament is crime.”
Saya semakin yakin bahwa memang rumah minimalis adalah tipe rumah minimalis. Bukan sekedar mengikuti trend yang ada. Tapi, lebih kepada menyelaraskan rumah dengan siapa saya sebenarnya. Untuk menunjukkan identitas saya.
Yang pasti, kami masih sedang taraf menabung dan menunggu hingga tiba waktunya rumah kami memang memerlukan renovasi. Agar dana yang kami keluarkan tidak mubazir dan benar-benar fungsional. Intinya, menerapkan milimalisasi dalam berbagai aspek.
Nantinya, jika saatnya tiba, saya ingin rumah minimalis yang:
Duh, jadi nggak sabar deh mau punya rumah minimalis!
Kadang nerima e-mail non-kerjaan ke alamat e-mail kantor suka bikin sebel. Tapi, yang lucu-lucu bolehlah…
Seperti di bawah ini…yang mengingatkan saya betapa masih banyak orang yang nggak ngerti gimana menggunakan WC duduk.
Hihihi, asli deh ketawa-ketawa ngakak liat gaya pembalap di atas–gak termasuk dua gaya pertama ya. Apa pembalap pertama dan kedua latihannya seperti pembalap ketiga ya? Pake bunyi ciiiitttt gitu nggak ya?
Kira-kira kalau kamu jadi pembalap–pasti ada kan yang bercita-cita jadi pembalap–gaya kamu yang mana?
Hm…Moreno dan Ananda Mikola pake gaya yang mana ya?
Selama ini, orang tua hanya memperhatikan perkembangan otak kiri anak. Mereka bangga jika anak pandai berhitung. Tapi, tahu nggak…otak kanan juga perlu mendapat perhatian.
Otak kanan adalah bagian otak yang berkenaan dengan kreativitas, imajinasi yang hidup, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Di dunia yang semakin mengarah pada indust
ri kreatif seperti sekarang ini, sungguh disayangkan jika orang tua masih melulu mengurusi kepandaian anak dalam berhitung atau ilmu eksak saja.
Sudah saatnya kita menyeimbangkan fungsi kedua belah otak anak agar kesuksesan dapat dengan mudah diraih anak nantinya.
Ada berbagai cara dalam melatih otak kanan anak. Berikut ini di antaranya:
Kalau boleh, saya mau cerita sedikit tentang anak perempuan saya. Umurnya sudah lima setengah tahun. Berbeda dengan adik laki-lakinya, dia sangaaaat cerewet. Dia pandai bercerita, imajinasinya luas sekali. Kadang, saya sampai takjub.
Bukan hanya itu, ia juga cukup kreatif. Seringkali HP saya tak lagi berada di dalam tas—di mana saya biasa menyimpannya. HP itu sudah digunakan oleh anak perempuan kecil bertubuh gempal itu untuk merekam sekelilingnya dan kemudian ia tonton sendiri.
Setelah saya ingat-ingat, ternyata saya—secara nggak sadar—telah melatih otak kanannya dengan cukup baik. Saya sering membacakan buku atau mendongeng, bahkan semenjak ia masih dalam kandungan. Saya belikan banyaaak sekali buku dengan warna-warna yang menarik.
Akhirnya, agar seimbang fungsi otaknya seimbang, saya pun mengajak dia belajar berhitung secara sederhana untuk merangsang otak kirinya.
Memang, idealnya, otak kanan dan kiri harus seimbang. Tapi, saya sudah dapat melihat bahwa anak perempuan saya itu memiliki kemampuan lebih baik dalam berimajinasi—meski kemampuannya berhitung juga tidak jelek.
Saya dan suami sudah bertekad untuk tidak memaksakan anak kami berprestasi secara akademis di sekolah. Kami justru akan semakin meningkatkan rangsangan terhadap otak kanannya—walau tetap memberikan juga stimulasi bagi otak kirinya.
Yuk, kita rangsang fungsi otak anak kita…
Kalau selama ini banyak orang kasih tips ke istri supaya disayang suami, sudah saatnya suami dikasih tips supaya disayang istri. Supaya nggak salah langkah atau salah bicara…
Gini, sekitar setengah tahun yang lalu, saya harus cabut gigi. Curhat dong ke suami tercinta…
“Yah, aku takut nih, besok harus cabut gini…”
Si Ayah merespon, “Nggak usah takut. Paling berdarah. Kan, mereka cabutnya pake tang gitu. Ya, disuntik dulu sih sedikit…paling-paling dua hari kemudian dah gak harus makan yang lembek-lembek lagi…”
“What???!!!”
Coba ya, kita analisa kalimat-kalimat suami saya di atas. Kira-kira bisa membuat saya pergi ke dokter gigi dengan langkah semangat dan keberanian poll nggak ya?
Ya, nggak lah!
Hampir semalaman saya justru nggak bsia tidur. Huh! Dan, sepagian saya sebel sama suami.
Gak mau kan disebelin sama istri, coba deh ikutin tips di bawah ini:
Ada yang mau menambahkan, para istri?
WOW!
Katanya foto ini diambil pada saat pagi hari, dari burj dubai (hotel di dubai yang tinggiiiiii banget)
Foto ini diambil dari sini