Dangerously Beautiful Indonesia

Mengawasi Anak di FB

Posted: May 13th, 2009 | Author: dania | Filed under: Ada-ada Saja, Keluarga | No Comments »

facebook1Siapa sih yang hari gini nggak punya Facebook? Dari yang tua sampai yang muda pasti punya. Yang tua cari kawan lama, yang muda belia alias anak-anak main Pet Society. Hehe…

Kebetulan, sepupu saya anak-anaknya sudah kelas 4 dan 6 SD. Keduanya memiliki akun Facebook karena mereka senang dengan game-game di sana.

Sepupu saya itu sudah mengatur sedemikian rupa agar waktu belajar dan bermain (offline) anak-anaknya tidak terganggu. Sehingga, ia tak punya masalah dengan kenyataan bahwa mereka punya FB.

Sebagai Tante yang baik, saya juga kerap menyambangi wall mereka. Nah, suatu kali, saya agak terkejut.

Si kelas 4 SD yang memang berwajah dewasa dan sangat cantik memiliki teman yang usianya sudah belasan tahun (18-an) dan mereka saling berbalas komen. Sampai situ, saya masih belum memberi warning apa-apa kepada sepupu saya itu. Tapi, suatu kali, si anak muda ini mengatakan ‘kangen’ di wall keponakan saya itu. Saatnya bertindak.

Akhirnya, saya beritahu hal itu kepada sepupu saya dan suaminya. Untungnya, mereka berhasil saya bujuk untuk menanyakan kepada si kelas 4 dengan santai dan tidak emosi.

Si kelas 4 juga menjawab dengan santai dan acuh, “Nggak tau tuh, aku juga bingung dia sering ke halaman aku.”

Setelah diperhatikan, ternyata memang si anak ini cuek dan tidak peduli dengan si ‘teman’ itu. Aman. Bahkan, ia bertanya kepada sepupu saya apakah ia perlu men-delete anak muda itu dari akunnya. Sepupu saya bilang terserah. Entah sudah dihapus atau belum.

Tapi, pengawasan terus dilakukan oleh sepupu saya. Bukan apa-apa, di luar negeri sudah sering terjadi penipuan terhadap anak kecil lewat dunia maya. Akibatnya terkadang sampai buruk sekali. Hal ini juga akhirnya kami jelaskan kepada si kelas 6 dan kelas 4 agar mereka paham dan tidak mudah dibohongi.

Membendung anak dari kehebohan dunia maya, satu sisi, juga memberikan dampak yang kurang baik. Apalagi jika sebagian besar teman mereka aktif online. Kita toh tidak ingin anak menjadi kuper?

Apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua?

  • Jelaskan kepada anak bahwa dunia maya sama saja dengan dunia nyata, ada orang baik, ada pula yang jahat.
  • Buat akun-akun di tempat mereka memiliki akun.
  • Pantau terus akun-akun anak tersebut, entah itu FB ataupun FS.
  • Perhatikan siapa saja yang menjadi ‘teman’ mereka, terlebih jika usianya jauh di atas mereka.
  • Ikuti perkembangan status anak di FB — dengan begini, kita sebagai orang tua juga jadi tahu apa maunya anak.
  • Ajak mereka membahas kegiatan mereka di dunia maya.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, mau tidak mau, sebagai orang tua kita juga harus melek teknologi. Nggak jaman lagi punya ortu gaptek.

;)


Bijak Berbelanja di Saat Sulit

Posted: May 12th, 2009 | Author: dania | Filed under: Inspirasi, Keluarga | No Comments »

Setiap kali berbelanja bulanan, saya dikejutkan oleh harga yang terus meningkat. Hanya sekali merasa bahagia saat harga minyak sayur turun karena harga minyak dunia juga turun waktu itu. Selebihnya, saya lebih sering terbelalak dan geleng-geleng kepala.

kereta-belanjaBukan hanya bahan kebutuhan pokok, selai kacang saja hampir setiap beberapa bulan sekali naik. Parahnya, kami sekeluarga sangat suka sarapan dengan roti selai kacang.

Apalagi jika anak-anak ikut saat berbelanja bulanan. Yang minta inilah, itulah. Bersyukur, jika mood mereka sedang ok, setelah dijelaskan bahwa kami tidak dapat membelikan semua yang mereka inginkan, mereka dapat menerima.

Belakangan, saya dan suami memilih untuk berbelanja bulanan berdua saja. Paling tidak, untuk meminimalisir kebutuhan yang tidak terlalu perlu.

Sebelum berangkat pun kami mencatat apa-apa saja yang harus kami beli. Ingat, harus, bukan ingin. Kami mengoreksi daftar belanjaan masing-masing. Jika ada benda yang pembeliannya dapat ditunda, kami tak segan-segan mencoretnya dari daftar.

Kami juga selalu memantau pemakaian barang-barang yang kami beli. Kami tahu berapa banyak yang dibutuhkan sebulannya. Kami usahakan tidak membeli lebih dari kebutuhan, atau kurang.

Saat berbelanja, kami cenderung memasang kaca mata kuda, mengalihkan pandangan dari diskon benda-benda yang tak diperlukan. Namun, kami membuka mata lebar-lebar jika ada diskon untuk barang-barang yang terdapat dalam daftar kami.

Ada kalanya diskon membantu penghematan, namun tak jarang juga dapat menjerumuskan.

Di saat sulit seperti ini, kita memang harus pandai-pandai memilih dan memilah, bersikap bijak saat berbelanja.


Akrab dengan Kakak Ipar Perempuan

Posted: May 11th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | 1 Comment »

kakak-iparTak bisa dipungkiri, ibu mertua dan kakak ipar perempuan adalah momok bagi setiap menantu dan adik ipar. Untunglah ibu mertua saya baik dan suami adalah anak pertama.

Saya punya 2 adik laki-laki. Maka, bagi istri kedua adik saya ini, saya adalah momok yang menakutkan? Apakah begitu adanya?

Syukurlah, tidak. Hubungan saya dengan kedua adik ipar baik-baik saja. Kami tidak saling sikut atau bermusuhan. Mungkin karena saya tipe orang yang cuek. Yang penting adik saya bahagia bersama mereka.

Sebenarnya, dari pengalaman saya dan beberapa teman sebagai seorang kakak ipar perempuan dan adik ipar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh adik ipar:

  • Anggap kakak ipar sebagai teman, namun jangan kurang ajar juga.
  • Perhatikan bagaimana suami memperlakukan kakaknya itu, lalu ikuti.
  • Hindari bisnis dengan kakak ipar. Iya kalau lancar, kalau nggak, bahaya. Apalagi, sebagai adik ipar, mau nggak mau harus nurut, padahal hati ndongkol.
  • Ingat ulang tahun kakak ipar — saya sih senang-senang saja mendapat hadiah, tapi lebih sebal jika tak ada ucapan sama sekali.
  • Sayangi anaknya seperti anak sendiri, apalagi jika suami dekat dengan keponakan-keponakannya.
  • Sayangi ibunya dengan tulus, karena kalau tidak, berbahaya!

Nah, menghadapi kakak ipar saja sudah serepot itu, bagaimana dengan ibu mertua? Nanti kita bahas ya.

Tapi, sebenarnya kita bisa santai juga kok dalam menjadi adik ipar dan menantu yang baik. Intinya 1: TULUS.


Virus Flu Babi

Posted: April 27th, 2009 | Author: dania | Filed under: Info | No Comments »

babiBarusan, saya dengar di radio tentang virus flu babi yang menjangkit di Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru dan Meksiko.

Bahkan di Meksiko, virus ini dicurigai telah membunuh 68 orang. Lebih parah lagi, virus yang dikenal dengan H1N1 dikabarkan dapat ditularkan antar manusia, berbeda dengan Virus Flu Burung atau H5N1 yang tidak ada penularan antar manusia.

Berita ini agak meresahkan memang. Namun, dikabarkan pula bahwa Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Tangerang akan melakukan pemeriksaan terhadap peternakan babi di Tangerang tepatnya di wilayah Salembaran Kosambi, Tiga Raksa (Tangerang Utara) dan Setu (Tangerang Selatan).

Ada baiknya jika kita berhati-hati dalam hal ini karena virus ini dikabarkan menular antar manusia — meski belum terbukti. Namun, Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian nampaknya akan bertindak dengan hati-hati dalam menyikapi penyebaran virus ini.

Mereka akan melakukan dua tindakan penangkalan. Pertama, dengan memperketat karantina di pelabuhan laut dan bandara. Kedua, dengan membentuk tim khusus pemetaan (surveillance) kawasan berpopulasi babi tinggi.

makanan-sehatYang harus diwaspadai adalah kenyataan bahwa gejala flu babi mirip flu biasa yakni batuk, demam, mual, dan muntah. Namun, sepertinya jika ditangani dengan benar, mereka yang menderita penyakit ini dapat disembuhkan. Buktinya, pasien virus ini di AS dapat sembuh, hanya seorang yang masih dirawat di rumah sakit.

Saatnya meningkatkan sistem imun kita dengan mengkonsumsi makanan sehat dan olahraga. Yuk!


Budayakan Membaca

Posted: April 26th, 2009 | Author: dania | Filed under: Inspirasi | 1 Comment »

bukuPerayaan Hari Buku Sedunia (World Book Day) sudah dimula semenjak tanggal 23 April 2009 yang lalu dan akan berakhir pada tanggal 17 Mei 2009.

Acara yang berlangsung di Museum Mandiri Kota ini mengajak warga Jakarta khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk membudayakan kegiatan membaca, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

World Book Day Indonesia 2009 ini mengusung tema “Membaca untuk Cinta.” Tema ini diangkat untuk mengingatkan kita tentang kecintaan terhadap membaca dan pentingnya berbagi kecintaan membaca kepada orang lain di sekitar kita.

Tak dapat dipungkiri, membaca adalah hal yang penting dan memang perlu digalakkan. Ada baiknya jika kita dapat terlibat dalam acara serupa dan dapat berbagi kecintaan atau hobi kita ini kepada orang banyak.

Namun, jika tak bisa, mulailah dari lingkup yang kecil seperti anak, pasangan, orang tua, keluarga, hingga asisten rumah tangga.

Yang paling mudah adalah dengan sering-sering mengajak anak ke toko buku atau perpustakaan. Mungkin jika ke toko buku agak berat — karena itu berarti harus mengeluarkan uang lebih — ajak saja anak dan keluarga berkunjung ke perpustakaan. Di sana mereka dapat membaca buku apa saja.

Salah satu perpustakaan yang cukup baik adalah Perpustakaan DikNas yang terletak di Jl. Jend. Sudirman, di sebelah Ratu Plaza. Di bagian belakang perpustakaan ini terdapat beragam buku anak yang cukup baik.

Cara lainnya adalah dengan menghadiahkan buku. Belakangan, saya rajin mengoleksi buku anak. Namun, saya sediakan dua buah per judul. Satu untuk anak-anak, satu lagi saya simpan untuk hadiah jika ada teman anak saya yang berulang tahun.

Memang sih anak saya dicap sebagai pengkado buku. Tapi, itu predikat yang bagus kan? :)

Selain untuk teman anak-anak saya, saya juga menghadiahkan buku kepada teman dan kerabat yang berulang tahun. Sahabat-sahabat saya bahkan jauh hari sebelum ulang tahun mereka memberitahukan buku apa saja yang mereka belum miliki.

Dengan orang tua dan mertua, saya sering bertukar buku, saling meminjamkan. Dengan suami malah tidak pernah, karena selera buku kami tidak sama. Ia senang yang berbau sejarah sementara saya lebih suka membaca novel.

Kepada asisten rumah tangga, saya kerap menghibahkan majalah-majalah saya. Awalnya, dulu saya pikir mereka akan menjual kiloan majalah-majalah tersebut. Tapi, ternyata mereka pilih terlebih dulu. Jika ada topik atau resep yang mereka suka, mereka simpan dan baca sendiri, sisanya barulah mereka jual.

Cara lain untuk berpartisipasi dalam ajan membudayakan membaca adalah dengan menyumbangkan buku. Belakangan semakin banyak perpustakaan komunitas yang terletak di kawasan tertentu yang bertujuan untuk mencerdaskan penduduk sekitar. Jika ada buku yang sudah selesai dibaca namun tak tahu hendak disimpan di mana, tak ada salahnya kan berbagi?

Yuk, budayakan membaca!


Jalan-jalan ke Jogja

Posted: April 20th, 2009 | Author: dania | Filed under: Jalan-jalan | 2 Comments »

Entah karena dekat atau apa, rasa-rasanya setiap kali ke Jogja, kami hanya menghabiskan waktu paling lama tiga hari. Terlebih lagi, beberapa kali di antaranya, memang saya dan anak-anak pergi untuk menemani suami yang tugas di sana.

Nah, apalagi kalau sudah dengan anak-anak begitu, eksplorasi makanan khas Jogja pun tak maksimal karena mereka lagi-lagi ya mencari yang sudah dikenal baik oleh lidah mereka.

Demi anak, kami mengalah saja.

Lokasi yang kami kunjungi ya kalau bukan Borobudur ya Prambanan. Oleh-oleh yang kami bawa pulang pun lagi-lagi bakpia, bakpia dan bakpia terus.

Sebenarnya, menurut seorang teman, banyak hal yang dapat dieksplor di kota Gudeg ini.

Di antaranya:

  • Museum Ullen Sentalu. Museum ini terletak di selatan Gunung Merapi, di daerah Pakem, di timur Kali Boyong, Kaliurang. Menurut yang sudah pernah ke sana, museum ini menampilkan budaya dan kehidupan putri / wanita Keraton Yogyakarta beserta koleksi bermacam-macam batik (baik gaya Yogyakarta maupun Surakarta). Museum ini selain menghadirkan informasi tentang kecantikan Putri Keraton, juga tentang pemikiran dan karya mereka.
  • Museum Affandi. Museum yang terletak di di Jalan Laksda Adi Sucipto 167 ini menampilkan koleksi lukisan karya sang Maestro yang dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907 serta koleksi lukisan karya pelukis lainnya. Bukan hanya itu, pengunjung juga dapat melihat mobil sedan Mitsubishi Gallant tahun 1975, sepeda Reliegh tahun 1975, dan banyak lagi.
  • Belajar membuat perhiasan perak di Kota Gede. Kebetulan saya tidak suka emas kuning, lebih suka emas putih dan perak. Dengar-dengar dalam waktu hanya 3 jam, kita bisa membuat sendiri perhiasan berbahan perak loh.
  • Museum Kekayon. Museum yang terletak di Jalan Raya Jogja Wonosari Km 7 No 277 ini kabarnya menggambarkan sejarah bangsa Indonesia sekaligus kesenian wayang.
  • Pabrik Cerutu Taru Martani. Pabrik yang didirikan semenjak tahun 1918 ini memproduksi cerutu legendaris. Kita dapat melihat langsung proses produksi cerutu linting tangan, tapi saya takkan membelinya. Nggak ada yang merokok. :)
  • Pabrik Gula Madukismo.  Menuju lokasi, dari Gedung Madu Chandy, kita akan menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api tua.
  • Pabrik Tegel Kunci.  Di pabrik yang dibangun semenjak tahun 1929 ini, kita dapat melihat proses produksi ubin-ubin bernuansa klasik dengan motif unik. Kabarnya, ubin-ubin ini juga turut menghiasi lantai Kraton Yogyakarta.

Nah, ternyata banyak banget kan hal yang bisa dilihat di Jogja alias Yogyakarta? Nggak melulu Malioboro, Pasar Beringharjo, Bakpia Patok, Prambanan dan Borobudur aja kan?

Saat saya ajukan ke suami, ternyata tiga di antara tempat-tempat yang saya sebutkan di atas pernah ia kunjungi bersama teman-temannya.

Duh, kenapa sih nggak ajak-ajak saya dan anak-anak? Huhuhu…

Tapi, dia janji, kalau dia tugas ke Jogja lagi, kami akan diajak dan kami akan menghabiskan waktu lebih dari 3 hari! ;)


Antara Modifikasi Motor dan Keluarga

Posted: April 18th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | 1 Comment »

Bukan, bukan saya yang tiba-tiba tergila-gila pada motor, tapi suami saya. Sebenarnya ya nggak baru-baru amat sih. Saat masih single dulu, ia punya motor yang unik, hasil kreasi modifikasi di bengkel temannya.

Saya pernah diajak naik motor itu. Tapi, saya sungguh malu, karena ke mana-mana selalu menjadi pusat perhatian orang. Akhirnya, saya beri ia ultimatum: jangan naik motor itu kalau mau jalan sama saya. Kejam ya? :D

Nah, setelah kami menikah, motor itu ia berikan kepada adiknya yang masih kuliah. Toh suami saya memang sudah jarang sekali mengendarainya.

Sekitar dua minggu yang lalu, ia bertemu dengan teman-temannya di komunitas motor saat masih aktif memodifikasi dulu. Dan, muncullah keinginan itu. Ia ingin memiliki motor dan menjalankan hobi lamanya: modifikasi motor.

Sayang, motornya dulu sudah dijual oleh adik ipar saya karena memang ia juga sudah jarang menggunakannya. Kalau tidak kan, suami dapat menyalurkan hobinya dengan motor tersebut.

Saat ini, rencana itu masih dalam taraf diskusi — kami memang selalu mendiskusikan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan bersama. Sejujurnya, saya tidak masalah jika ia memang ingin menekuni hobi lamanya itu. Hanya saja, saya takut ia tak punya waktu luang. Waktu untuk keluarga saja sudah semakin sempit karena kesibukannya bekerja, lalu bagaimana jika ditambah lagi dengan hobi baru ini?

Entahlah. Semoga kalaupun ia kembali berjibaku dengan modifikasi motor, waktu untuk kami, keluarga, tidak berkurang. Semoga.


Sukses Menjadi EO Reuni

Posted: April 16th, 2009 | Author: dania | Filed under: Simplify Your Life | 3 Comments »

Ada seorang teman yang kebetulan sejak SD hingga SMA selalu satu sekolah dengan saya. Bahkan di SD kami selalu sekelas serta satu kali di SMP dan sekali lainnya di SMA.

Teman saya ini, entah bagaimana caranya, memiliki kontak hampir semua teman. Misalkan, saat di SMA, kami hendak berkumpul untuk menggalang dana bagi guru kami yang sedang sakit keras. Dan, hanya dalam waktu kurang dari lima hari, ia berhasil mengontak sebagian besar teman-teman dan acara penggalangan dana itu berhasil.

Saat kuliah pun begitu, ia dengan mudah mengumpulkan kami, teman-teman SMA-nya saat kami merasa rindu satu sama lain. Dan, memang hanya selalu dia yang mengurus.

Sekarang, di era Facebook, wah ia semakin jaya. Hampir tiap hari, ada saja teman yang ia suggest kepada saya dan teman lainnya.

Tak pelak lagi, ia memang patut diandalkan. Bahkan untuk reuni mendadak sekalipun. Pernah suatu hari ada seorang teman yang tinggal di luar kota dan ingin bertemu dengan kami. Si teman ini baru menghubungi siang hari, tapi malamnya, sekitar dua puluh orang sudah berkumpul di salah satu kafe yang ia tunjuk. Rauni kecil pun berlangsung.

Nah, rencananya SMP kami akan mengadakan reuni, minimal untuk teman seangkatan. Acara tersebut dijadwalkan untuk terlaksana pada bulan Juli nanti. Semenjak minggu lalu, saat rencana itu dicanangkan, teman saya yang Ratu Reuni dan telah dinobatkan sebagai EO sudah beraksi.

Saya yakin, reuni itu akan berjalan sukses.

Saya perhatikan, sebenarnya apa saja sih yang membuatnya begitu sukses dalam mengelola acara reuni atau kumpul-kumpul itu?

Kira-kira inilah hasil penelitian saya:

  • Tulus. Setelah saya perhatikan, teman saya ini melakukannya dengan tulus, tanpa pamrih.
  • Silaturahmi. Ia pernah bercerita bahwa ia memang senang bersilaturahmi. Semenjak kecil ia dibiasakan untuk membina silaturahmi dengan siapapun.
  • Terorganisir. Ia memang suka berorganisasi. Semenjak SMP ia hampir selalu memegang jabatan di organisasi sekolah.
  • Rajin. Ia sangat rajin mengumpulkan data mengenai teman-teman kami. Ternyata, ia memiliki sebuah buku yang berisikan bukan hanya alamat dan nomor telepon teman-teman, tapi juga tanggal lahir mereka.
  • Waktu luang. Nah, ini juga penting. Tanpa waktu luang, ia takkan sempat mengurus segala sesuatu. Syukurlah ia memilikinya. :)

Dengan semua itu, saya yakin ia akan dengan sangat sukses sebagai EO Reuni SMP kami nanti.

Hanya saja, saya harus belajar banyak darinya karena saya diminta teman-teman sebagai wakil ketua EO Runi nanti. Saya sempat menolak. Tapi, gagal.

Untung suami mengijinkan. Jadi, dalam beberapa bulan ke depan, dua minggu sekali, saya harus mengorbankan Jum’at malam saya untuk rapat. Tapi, seru juga. Mana tahu nantinya saya bisa membuat usaha baru, mendirikan perusahaan EO khusus Reuni bersama teman saya yang satu itu. ;)


Bersahabat dengan Anak

Posted: April 14th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | No Comments »

Semenjak saya kecil, saya bersahabat dengan Mama saya. Bahkan, kalau boleh dibilang, Mama adalah sahabat terbaik saya. Saya lebih suka berbicara kepada Mama ketimbang dengan sahabat atau teman seumuran.

Sementara, saya lihat, teman-teman saya bermusuhan atau mengambil jarak dengan ibu masing-masing.

Saya mewanti-wanti diri, jika saya punya anak kelak, saya ingin mereka juga menjadi sahabat saya, memiliki hubungan istimewa ibu-anak seperti yang saya miliki dengan Mama.

Tapi, lucunya, anak laki-laki saya lebih dekat dengan suami saya. Maka, yang tersisa hanyalah si anak perempuan saya. Dan, rasanya cukup adil dan bahkan mungkin lebih baik begitu.

Kenapa saya begitu keukeuh ingin bersahabat dengan anak? Tentunya selain alasan nostalgia dengan Mama yang saya sebutkan di atas.

Banyak sekali alasannya, misalnya:

  • Menurut pengalaman, teman tak selalu dapat memberikan nasihat yang terbaik, terutama saat mereka masih terlalu kanak-kanak atau remaja. Mereka kan sama tak berpengalamannya.
  • Teman yang dipilih anak tak melulu ‘anak baik’, terkadang, bahayanya, bisa jadi justru menjerumuskan anak.
  • Dengan bersahabat dengan anak, kita sebagai orang tua jadi lebih tahu bagaimana si anak sebenarnya. Kita tak perlu repot mengawasinya, karena ia akan bercerita kepada kita tentang apa saja yang ia lewati.
  • Saya ingin menjadi orang pertama yang didatangi anak saat ia memiliki masalah.

Lebih banyak positifnya kan?

Tapi, bagaimana sih caranya supaya bisa jadi sahabat anak? Supaya anak mau berbagi dengan kita, orang tuanya, seperti ia berbagi dengan teman-temannya?

Dari apa yang saya lihat melalui sikap Mama kepada saya, kira-kira beginilah caranya bersahabat dengan anak:

  • Mulai semenjak sedini mungkin. Jangan tunggu anak besar, chemistry-nya sudah agak beda.
  • Bicara dan bicara. Ceritakan juga perasaan dan kisah kita kepada anak. Ini akan membuat anak merasa ia dihargai dan juga ingin berbagi cerita dengan kita, orang tua.
  • Mengobrol minimal sehari sekali. Mama dulu selalu menanyakan apa yang saya lewati di sekolah. Tapi, tanpa kecurigaan atau rasa ingin tahu yang terlalu besar atau dibuat-buat.
  • Mom and kid’s day out. Saya dan Mama sering pergi berdua–kebetulan saya anak perempuan satu-satunya. Kami belanja berdua, makan berdua, bersenang-senang deh pokoknya.
  • Ungkapkan rasa sayang. Katakan bahwa kita mencintainya bagaimanapun keadaannya. Tunjukkan pula dengan sikap. Sehingga, jika anak sedang berbuat salah, ia tak perlu ragu mengakuinya kepada kita.

Saya memang bukan ahli perkembangan anak atau parenting, tapi saya memiliki pengalaman yang cukup baik dengan Mama dan Papa saya. Saya ingin menerapkannya dalam keluarga yang sedang saya bina dengan suami. Dan, saya juga ingin membaginya dengan keluarga Indonesia lainnya.

Oh ya, kalau ada yang perlu dikoreksi, untuk perbaikan diri saya, monggo meninggalkan komentar. Jadi, kita sama-sama belajar.

:)


Sudah Mencontreng?

Posted: April 10th, 2009 | Author: dania | Filed under: Ada-ada Saja | No Comments »

Kemarin, saya dan keluarga beruntung karena kami mendapatkan surat undangan untuk turut serta dalam pesta demokrasi. Sayang, sebagian tetangga lain tak mendapatkannya.

Ada yang tampak kecewa, ada juga yang biasa-biasa saja.

Yang kecewa adalah seorang Bapak keturunan Betawi yang memang sejak ia lahir pun tinggal di wilayah tersebut. Selama ini, ia selalu mendapatkan kesempatan untuk memilih. Tapi, kali ini tidak.

“Serumah, cuman anak saye nyang dapet. Eh, die juga kudu kerja. Jadi, kagak milih dah.”

Ia misrah-misruh kepada petugas TPS. Sayang, takada yang bisa membantu.

Siang hari, saat penghitungan berlangsung, suami saya bertemu lagi dengan si Bapak yang biasa kami panggil Babe.

“Be, tenang aja. Banyak kok yang nggak dapet. Bukan cuma Babe.”

“Nah entu die. Kudunye kan nggak begini. Kaco dah semua.”

Suami yang berniat menenangkan si Babe malah justru membuat pria paruh baya itu tambah kesal.

Tapi, memang miris sih melihatnya. Sementara banyak orang yang mendapatkan undangan justru memilih GolPut dan tak memanfaatkan undangan tersebut, si Babe yang semangat justru tak diundang.

Ia bergeming di TPS hingga proses penghitungan berakhir.

“Tuh kan, jagoan saye kagak menang. Padahal, kalo saye tadi ikut nyoblos, pasti menang.”

“Nyontreng kali maksudnya, Be?” ralat suami saya.

“Ah…same aje,” ujarnya sambil ngeloyor pergi, masih dengan kekesalannya.

Ah, kasihan si Babe. Mudah-mudahan saat pemilihan Presiden nanti, Babe diundang ya.