Dangerously Beautiful Indonesia

Tips Tidur Nyenyak

Posted: May 31st, 2009 | Author: dania | Filed under: Inspirasi | 4 Comments »

tidur-nyenyakPaling nggak enak kalau tidur nggak nyenyak. Besoknya, kita bangun dengan kepala pusing dan badan nggak enak. Nggak nyaman, pokoknya.

Karena itu, kita harus memastikan bahwa kita bisa tidur dengan nyenyak.

Caranya?

  • Pergi tidur pada jam yang sama setiap harinya. Dengan begitu, tubuh kita akan terbiasa dan dapat mempersiapkan diri untuk tidur.
  • Jangan nge-gym malam-malam, karena dapat memompa darah dan kamu akan kesulitan tidur.
  • Jangan makan dan minum sebelum tidur. Makan malam pun sebaiknya yang ringan-ringan saja dan dilakukan paling nggak 2 jam sebelum waktunya tidur.
  • Jauhi nikotin, alkohol dan kafein paling nggal 5 – 6 jam sebelm tidur.
  • Hanya tidur di waktu malam. Kalaupun ingin tidur siang, jangan lebih dari 1 jam dan jangan lewat dari jam 3 sore
  • Pastikan ruang tidur kamu nyaman, cukup udara dan bersih.
  • Sebelum tidur, kamu bisa mandi air hangat, baca buku atau mendengarkan musik favorit.
  • Relaks. Kalau perlu, pakai krim pelembab di bahu, leher dan telapak kaki.
  • Jangan sekali-kali mengkonsumsi obat tidur. Selain ada kemungkinan ketergantungan, obat tidur justru akan membuat kamu kesulitan tidur di kemudian hari.
  • Coba letakkan kaki di atas bantal tipis yang lembut, itu dapat membantu menghilangkan keletihan di kaki.

Dengan mencoba kesepuluh tips di atas, mudah-mudahan kamu bisa tidur dengan nyenyak.


Percaya pada Kemampuan Sendiri

Posted: May 31st, 2009 | Author: dania | Filed under: Inspirasi | No Comments »

sukses-percaya-diriNggak ada yang lebih penting daripada keyakinan akan diri sendiri. Kadang, hanya karena seseorang gak yakin akan dirinya, ia menjadi orang yang gagal.

Padahal, sedikit saja keyakinan mampu menambahkan persentase kemungkinan kesuksesan.

Ada orang yang memang dengan mudah menemukan keyakinan tersebut, namun ada pula yang tak kunjung menemukannya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk dapat menemukan keyakinan tersebut.

Namun, sebelumnya, pastikan dulu satu hal. Kamu harus tahu apa kemampuan kamu. Baru bisa menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan tersebut.

Untuk menemukan kemampuan itu, coba lakukan beberapa tips di bawah ini:

  • Tuliskan hal-hal yang dapat kamu lakukan dengan mudah. Kamu nggak perlu bersusah payah, tapi kamu dapat berprestasi maksimal.
  • Coba ingat-ingat hal apa yang kamu lakukan yang membuatmu merasa waktu berjalan begitu cepat dan tak terasa.
  • Perhatikan kegiatan yang membuat kamu merasa puas, bahagia dan nyaman.

Saya yakin, setelah melakukan ketiga hal di atas, kamu akan menemukan satu atau bahkan lebih banyak lagi kemampuan yang selama ini mungkin terpendam dalam.

Setelah menemukan kemampuan itu, coba fokuskan diri. Jangan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak termasuk dalam cakupan kemampuan kamu.

Dengan fokus pada kemampuan, kamu akan melihat hasil yang baik, dan setelah itu, kamu pun dapat meyakininya. Kamu bisa, dan kamu akan sukses.


Sukses Menunggui Anak di Sekolah

Posted: May 29th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | No Comments »

ke-sekolahTerkadang, jika ART kebetulan sedang pulang kampung, saya terpaksa menunggui anak di sekolah.

Kok terpaksa?

Hm…ya karena, saya sebetulnya kurang suka duduk-duduk dan mengobrol di sekolah dengan ibu-ibu lainnya. Karena, tak jarang yang terjadi adalah gosip-menggosip.

Tapi, ada kok cara-cara yang ok supaya nggak jenuh atau bete saat menunggui anak di sekolah:

  • Bawa buku. Kalau lagi nggak mau ngobrol, ada baiknya bawa buku. Paling nggak, ibu-ibu lain itu nggak akan terus-terusan mengajak ngobrol.
  • Ciptakan topik pembicaraan yang ok. Nggak mau terjebak dengan gosip-gosip? Ciptakan topik sendiri, yang kira-kira ok buat ibu-ibu tersebut. Paling sip adalah tentang anak. Wah, mereka akan dengan senang hati membangga-banggakan anak masing-masing. Atau, bahas tentang sekolah-sekolah lain. Misalkan, SD yang bagus — kebetulan anak saya masih TK.
  • Bawa laptop. Pura-pura kerja. Waktu itu, saya kebetulan memang ada kerjaan yang mendesak. Untunglah, mereka nggak berani mengganggu saat melihat saya serius dengan laptop.
  • Menabung Kesabaran. Ini serius loh, nggak bercanda. Nggak ada yang lebih ok dalam menyukseskan program menunggui anak di sekolah selain bergudang-gudang kesabaran. Bayangkan, berjam-jam menunggu, ditambah dengan obrolan atau pertanyaan dari ibu-ibu lainnya. Adakah hal lain yang lebih penting dari seonggok kesabaran? Tentu tidak!

Yah, mungkin saran-saran di atas dianggap berlebihan oleh sebagian orang. Karena, mungkin mereka memang senang menunggui anak di sekolah. Tapi, buat yang kurang suka seperti saya, wah, saya yakin tips di atas berguna.

Selamat mencoba!

;)


Masakan Betawi yang Enak

Posted: May 25th, 2009 | Author: dania | Filed under: Wisata Kuliner | No Comments »

Masakan Betawi terkenal kaya akan rasa. Mulai dari rasa gurih, asin, manis, hingga asam. Terkadang semua rasa menyatu dalam sebuah masakan sekaligus.

Jika lebaran tiba, atau musim hajatan berlangsung, kami sekeluarga memilih untuk tidak memasak. Karena, kerap kami mendapat kiriman masakan khas Jakarta dari para tetangga. Jika lebaran, ada yang mengirim ketupat sayur dan semur kerbau. Jika ada hajatan, ada yang mengirim nasi uduk atau nasi ulam, pesmol ikan bandeng, asinan, dan banyak lagi.

Terkadang, jika rindu masakan Betawi, saya dan suami menyambangi beberapa rumah makan yang menyuguhkannya. Biasanya menu yang kami cari adalah:

  • Nasi Uduk Kebon Kacang. Yang kamu suka dari nasi uduk satu ini adalah porsinya yang kecil-kecil. Jika sedang lapar, kami dapat menghabiskan berbungkus-bungkus. Tapi, jika sedang diet — terutama saya — saya hanya menghabiskan paling banyak dua bungkus. Nasi uduk ini ditemani oleh saus kacang, tempe, tahu, dan ayam goreng.
  • Sop Kaki Kambing Tanah Abang. Sop ini ditemukan di berbagai sudut di wilayah Tanah Abang. Kuahnya bening, namun rasanya mantap. Biasanya, sumsum masih tertinggal di dalam tulang dan dapat dihirup.
  • Soto Betawi. Kuah Soto Betawi merupakan campuran antara santan dan susu — namun ada yang hanya santan saja dan ada yang hanya susu saja. Isinya dapat berupa daging kambing beserta jeroan dan bagian tubuh lainnya — seperti kuping, kaki, mata, otak, dll — atau daging sapi beserta paru.
  • Asinan Betawi. Untuk yang satu ini, kami biasanya memesan dari teman yang tinggal di lokasi Condet. Atau, jika kami sedang melewati daerah Slipi atau Rawabelong, kami menyempatkan diri menyambangi sebuah gerobak asinan yang berada di pertigaan Rawabelong.
  • Kerak Telor. Dulu, biasanya banyak sekali penjual Kerak Telor di PRJ atau Djakarta Fair. Namun, sekarang, kami tidak perlu menunggu hingga PRJ dibuka. Kami dapat menikmatinya di Pasar Bendungan Hilir atau di seberang RS. Pelni, KS. Tubun.
  • Soto Mie Betawi. Yang lebih terkenal sekarang adalah Soto Mie Bogor. Padahal, Soto Mie Betawi juga tak kalah sedapnya. Yang terkenal adalah Soto Mie di Wahid Hasyim. Dengar-dengar Soto Mie satu itu sudah puluhan tahun dijual di sana.
  • Ketupat Tahu. Tahu dan ketupat dijadikan satu, diberi kuah kacang yang kental, ditaburi kerupuk. Makanan ini terdapat di wilayah Condet dan hanya ada di malam hari.
  • Sate Manis dan Sate Lembut. Keduanya dapat ditemukan di resto milik Alm. Mpok Rohme di kawasan Kebon Kacang V. Sate manis tentu saja rasanya manis, sementara sate lembut bukan hanya manis, namun juga memang lembut karena dibuat dari daging cincang. Keduanya dihidangkan bersama kuah kacang.
  • Soto Tangkar. Kuahnya kaya akan rempah, dengan taburan kelapa gongseng yang menyatu di dalamnya. Salah satu tempat yang menjualnya adalah kawasan Tebet.

Wah, setiap kali membahas makanan, rasanya pingin langsung meluncur ke tempat yang menjual. Yuk?!


Plus Minus Reuni Akbar dan Reuni Kecil

Posted: May 21st, 2009 | Author: dania | Filed under: Inspirasi | 1 Comment »

Ada yang lebih suka Reuni Akbar, “Sekali jalan, ketemu semua.”

Sementara, yang lain lebih nyaman dengan Reuni Kecil, “Lebih akrab.”

Kamu lebih suka yang mana? Saya dua-duanya ok-ok saja. Pernah melalui Reuni Akbar, pernah juga Reuni Kecil. Bahkan kerap diminta jadi panitia.

Apa sih plus minus masing-masing jenis reuni tersebut?

Reuni Akbar

  • Plusnya, kita memang bisa ketemu dengan lebih banyak orang sekaligus, kadang ratusan. Kita juga nggak perlu khawatir semua mata terpandang kepada kita karena banyak yang lainnya. Kita bisa lebih cuek. Ini sebagai peserta ya. Sebagai panitia, biasanya strukturnya jelas, jadi ada bagi-bagi tugas.
  • Minusnya, kita harus bisa membagi waktu untuk melayani begitu banyak pertanyaan dari teman-teman yang sudah lama kita tidak jumpai. Kadang pertanyaan yang sama kita dapati berulang-ulang. Capek deh. Dan, jika kita sudah tak merasa nyaman, kita bisa pulang kapan saja.  Itu dilihat dari sisi peserta. Dari sisi panitia, kita harus memastikan semua berjalan dengan baik, acaranya, penyambutan peserta, koordinasi, dll.

Reuni Kecil

  • Sisi plus: benar sekali pendapat di atas, lebih akrab. Kita tidak perlu repot-repot membagi waktu karena biasanya reuni kecil ini diikuti oleh tak lebih dari dua puluh lima orang — itu pun terkadang sudah termasuk pasangan masing-masing. Itu dari sisi peserta. Dari sisi panitia, kita tidak perlu repot-repot memikirkan banyak hal. Tak jarang, untuk reuni kecil, hanya dibutuhkan satu hingga dua orang panitia.
  • Minusnya, terkadang jika peserta memang tidak terlalu akrab semasa sekolah dulu, ada keringkuhan antara peserta. Atau, jika misalkan kita merasa tidak nyaman dengan acara ‘ketemuan’ itu, agak sulit untuk ‘melarikan diri’. Kita terpaksa tetap mengikuti acara hingga selesai. Itu dari sisi peserta. Tapi, bagi panitia, adakah sisi minusnya? Tentu. Terkadang, karena sedikit, semua peserta ingin didengar suaranya. Masing-masing mengajukan saran, mulai dari kapan acara harus dilaksanakan, berapa banyak dana yang perlu dihabiskan, di mana acara dilangsungkan, dan banyak lagi. Panitia bisa pusing tujuh keliling karena semua permintaan ini.

Namun, apapun sisi minusnya, jika kita telusuri, reuni sesungguhnya — baik kecil maupun akbar — adalah bentuk silaturahmi antar orang-orang yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan, tak jarang, reuni dapat mendatangkan rejeki. Teman sekolah dapat berubah menjadi rekan bisnis.

Reuni juga mengajarkan banyak hal, terutama jika peserta berbagi kisah yang telah dilalui selama tidak bertemu. Kita dapat belajar dari kisah hidup teman-teman kita.

Gak datang ke reuni? Ugh, rugi!

;)


Anak dan Buku

Posted: May 14th, 2009 | Author: dania | Filed under: Info, Inspirasi, Keluarga | No Comments »

Buku adalah gudang ilmu.

Saya dan suami bersyukur karena semenjak kecil, kami dibesarkan dalam lingkungan yang erat dengan buku. Karenanya, kami juga tak segan-segan mendekatkan anak-anak kami dengan buku. Sehingga, budaya membaca adalah hal biasa bagi mereka.

anak-bukuYang lebih menyenangkan lagi adalah semakin banyaknya buku-buku yang ditulis khusus untuk anak. Ada yang bertema pengetahuan, yang memimiliki nilai agama, ataupun yang mengandung nilai moral.

Walau begitu, saya dan suami selalu menyempatkan diri ‘meneliti’ buku apa yang hendak dibeli anak-anak kami.

Yang pasti, mereka tidak kami ijinkan membeli komik yang tak memiliki nilai lebih. Bahkan persentase pembelian komik pun tak lebih dari 20 – 30% dari total pembelian.

Dengan begitu, anak-anak tidak melulu mencari buku yang ada gambarnya. Mereka pun terbiasa membaca buku yang kaya akan teks.

Syukurlah belakangan ini banyak sekali yang peduli akan buku. Sehingga, taman bacaan untuk anak kurang mampu atau anak jalanan semakin bertambah.

Salah satu di antaranya adalah Komunitas 1001 Buku yang bermarkas di Pancoran Timur, Jakarta Selatan.

Saya mengenal komunitas ini pertama kali dari mailing list. Setelah saya pantau, ternyata kegiatannya sangat bermanfaat. Saya juga mengajak teman-teman untuk bergabung di mailing list tersebut. Bahkan, ada beberapa di antara teman saya yang menjadi sukarelawan.

Tertarik? Kirimkan e-mail kosong ke 1001buku-subscribe at yahoogroups.com. Atau, ingin menyumbangkan buku? Silakan lihat halaman Book Drop Box ini.

Yuk, berpartisipasi dalam usaha mencerdaskan bangsa!


Mengawasi Anak di FB

Posted: May 13th, 2009 | Author: dania | Filed under: Ada-ada Saja, Keluarga | No Comments »

facebook1Siapa sih yang hari gini nggak punya Facebook? Dari yang tua sampai yang muda pasti punya. Yang tua cari kawan lama, yang muda belia alias anak-anak main Pet Society. Hehe…

Kebetulan, sepupu saya anak-anaknya sudah kelas 4 dan 6 SD. Keduanya memiliki akun Facebook karena mereka senang dengan game-game di sana.

Sepupu saya itu sudah mengatur sedemikian rupa agar waktu belajar dan bermain (offline) anak-anaknya tidak terganggu. Sehingga, ia tak punya masalah dengan kenyataan bahwa mereka punya FB.

Sebagai Tante yang baik, saya juga kerap menyambangi wall mereka. Nah, suatu kali, saya agak terkejut.

Si kelas 4 SD yang memang berwajah dewasa dan sangat cantik memiliki teman yang usianya sudah belasan tahun (18-an) dan mereka saling berbalas komen. Sampai situ, saya masih belum memberi warning apa-apa kepada sepupu saya itu. Tapi, suatu kali, si anak muda ini mengatakan ‘kangen’ di wall keponakan saya itu. Saatnya bertindak.

Akhirnya, saya beritahu hal itu kepada sepupu saya dan suaminya. Untungnya, mereka berhasil saya bujuk untuk menanyakan kepada si kelas 4 dengan santai dan tidak emosi.

Si kelas 4 juga menjawab dengan santai dan acuh, “Nggak tau tuh, aku juga bingung dia sering ke halaman aku.”

Setelah diperhatikan, ternyata memang si anak ini cuek dan tidak peduli dengan si ‘teman’ itu. Aman. Bahkan, ia bertanya kepada sepupu saya apakah ia perlu men-delete anak muda itu dari akunnya. Sepupu saya bilang terserah. Entah sudah dihapus atau belum.

Tapi, pengawasan terus dilakukan oleh sepupu saya. Bukan apa-apa, di luar negeri sudah sering terjadi penipuan terhadap anak kecil lewat dunia maya. Akibatnya terkadang sampai buruk sekali. Hal ini juga akhirnya kami jelaskan kepada si kelas 6 dan kelas 4 agar mereka paham dan tidak mudah dibohongi.

Membendung anak dari kehebohan dunia maya, satu sisi, juga memberikan dampak yang kurang baik. Apalagi jika sebagian besar teman mereka aktif online. Kita toh tidak ingin anak menjadi kuper?

Apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua?

  • Jelaskan kepada anak bahwa dunia maya sama saja dengan dunia nyata, ada orang baik, ada pula yang jahat.
  • Buat akun-akun di tempat mereka memiliki akun.
  • Pantau terus akun-akun anak tersebut, entah itu FB ataupun FS.
  • Perhatikan siapa saja yang menjadi ‘teman’ mereka, terlebih jika usianya jauh di atas mereka.
  • Ikuti perkembangan status anak di FB — dengan begini, kita sebagai orang tua juga jadi tahu apa maunya anak.
  • Ajak mereka membahas kegiatan mereka di dunia maya.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, mau tidak mau, sebagai orang tua kita juga harus melek teknologi. Nggak jaman lagi punya ortu gaptek.

;)


Bijak Berbelanja di Saat Sulit

Posted: May 12th, 2009 | Author: dania | Filed under: Inspirasi, Keluarga | No Comments »

Setiap kali berbelanja bulanan, saya dikejutkan oleh harga yang terus meningkat. Hanya sekali merasa bahagia saat harga minyak sayur turun karena harga minyak dunia juga turun waktu itu. Selebihnya, saya lebih sering terbelalak dan geleng-geleng kepala.

kereta-belanjaBukan hanya bahan kebutuhan pokok, selai kacang saja hampir setiap beberapa bulan sekali naik. Parahnya, kami sekeluarga sangat suka sarapan dengan roti selai kacang.

Apalagi jika anak-anak ikut saat berbelanja bulanan. Yang minta inilah, itulah. Bersyukur, jika mood mereka sedang ok, setelah dijelaskan bahwa kami tidak dapat membelikan semua yang mereka inginkan, mereka dapat menerima.

Belakangan, saya dan suami memilih untuk berbelanja bulanan berdua saja. Paling tidak, untuk meminimalisir kebutuhan yang tidak terlalu perlu.

Sebelum berangkat pun kami mencatat apa-apa saja yang harus kami beli. Ingat, harus, bukan ingin. Kami mengoreksi daftar belanjaan masing-masing. Jika ada benda yang pembeliannya dapat ditunda, kami tak segan-segan mencoretnya dari daftar.

Kami juga selalu memantau pemakaian barang-barang yang kami beli. Kami tahu berapa banyak yang dibutuhkan sebulannya. Kami usahakan tidak membeli lebih dari kebutuhan, atau kurang.

Saat berbelanja, kami cenderung memasang kaca mata kuda, mengalihkan pandangan dari diskon benda-benda yang tak diperlukan. Namun, kami membuka mata lebar-lebar jika ada diskon untuk barang-barang yang terdapat dalam daftar kami.

Ada kalanya diskon membantu penghematan, namun tak jarang juga dapat menjerumuskan.

Di saat sulit seperti ini, kita memang harus pandai-pandai memilih dan memilah, bersikap bijak saat berbelanja.


Akrab dengan Kakak Ipar Perempuan

Posted: May 11th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | 1 Comment »

kakak-iparTak bisa dipungkiri, ibu mertua dan kakak ipar perempuan adalah momok bagi setiap menantu dan adik ipar. Untunglah ibu mertua saya baik dan suami adalah anak pertama.

Saya punya 2 adik laki-laki. Maka, bagi istri kedua adik saya ini, saya adalah momok yang menakutkan? Apakah begitu adanya?

Syukurlah, tidak. Hubungan saya dengan kedua adik ipar baik-baik saja. Kami tidak saling sikut atau bermusuhan. Mungkin karena saya tipe orang yang cuek. Yang penting adik saya bahagia bersama mereka.

Sebenarnya, dari pengalaman saya dan beberapa teman sebagai seorang kakak ipar perempuan dan adik ipar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh adik ipar:

  • Anggap kakak ipar sebagai teman, namun jangan kurang ajar juga.
  • Perhatikan bagaimana suami memperlakukan kakaknya itu, lalu ikuti.
  • Hindari bisnis dengan kakak ipar. Iya kalau lancar, kalau nggak, bahaya. Apalagi, sebagai adik ipar, mau nggak mau harus nurut, padahal hati ndongkol.
  • Ingat ulang tahun kakak ipar — saya sih senang-senang saja mendapat hadiah, tapi lebih sebal jika tak ada ucapan sama sekali.
  • Sayangi anaknya seperti anak sendiri, apalagi jika suami dekat dengan keponakan-keponakannya.
  • Sayangi ibunya dengan tulus, karena kalau tidak, berbahaya!

Nah, menghadapi kakak ipar saja sudah serepot itu, bagaimana dengan ibu mertua? Nanti kita bahas ya.

Tapi, sebenarnya kita bisa santai juga kok dalam menjadi adik ipar dan menantu yang baik. Intinya 1: TULUS.