Posted: April 14th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | No Comments »
Semenjak saya kecil, saya bersahabat dengan Mama saya. Bahkan, kalau boleh dibilang, Mama adalah sahabat terbaik saya. Saya lebih suka berbicara kepada Mama ketimbang dengan sahabat atau teman seumuran.
Sementara, saya lihat, teman-teman saya bermusuhan atau mengambil jarak dengan ibu masing-masing.
Saya mewanti-wanti diri, jika saya punya anak kelak, saya ingin mereka juga menjadi sahabat saya, memiliki hubungan istimewa ibu-anak seperti yang saya miliki dengan Mama.
Tapi, lucunya, anak laki-laki saya lebih dekat dengan suami saya. Maka, yang tersisa hanyalah si anak perempuan saya. Dan, rasanya cukup adil dan bahkan mungkin lebih baik begitu.
Kenapa saya begitu keukeuh ingin bersahabat dengan anak? Tentunya selain alasan nostalgia dengan Mama yang saya sebutkan di atas.
Banyak sekali alasannya, misalnya:
- Menurut pengalaman, teman tak selalu dapat memberikan nasihat yang terbaik, terutama saat mereka masih terlalu kanak-kanak atau remaja. Mereka kan sama tak berpengalamannya.
- Teman yang dipilih anak tak melulu ‘anak baik’, terkadang, bahayanya, bisa jadi justru menjerumuskan anak.
- Dengan bersahabat dengan anak, kita sebagai orang tua jadi lebih tahu bagaimana si anak sebenarnya. Kita tak perlu repot mengawasinya, karena ia akan bercerita kepada kita tentang apa saja yang ia lewati.
- Saya ingin menjadi orang pertama yang didatangi anak saat ia memiliki masalah.
Lebih banyak positifnya kan?
Tapi, bagaimana sih caranya supaya bisa jadi sahabat anak? Supaya anak mau berbagi dengan kita, orang tuanya, seperti ia berbagi dengan teman-temannya?
Dari apa yang saya lihat melalui sikap Mama kepada saya, kira-kira beginilah caranya bersahabat dengan anak:
- Mulai semenjak sedini mungkin. Jangan tunggu anak besar, chemistry-nya sudah agak beda.
- Bicara dan bicara. Ceritakan juga perasaan dan kisah kita kepada anak. Ini akan membuat anak merasa ia dihargai dan juga ingin berbagi cerita dengan kita, orang tua.
- Mengobrol minimal sehari sekali. Mama dulu selalu menanyakan apa yang saya lewati di sekolah. Tapi, tanpa kecurigaan atau rasa ingin tahu yang terlalu besar atau dibuat-buat.
- Mom and kid’s day out. Saya dan Mama sering pergi berdua–kebetulan saya anak perempuan satu-satunya. Kami belanja berdua, makan berdua, bersenang-senang deh pokoknya.
- Ungkapkan rasa sayang. Katakan bahwa kita mencintainya bagaimanapun keadaannya. Tunjukkan pula dengan sikap. Sehingga, jika anak sedang berbuat salah, ia tak perlu ragu mengakuinya kepada kita.
Saya memang bukan ahli perkembangan anak atau parenting, tapi saya memiliki pengalaman yang cukup baik dengan Mama dan Papa saya. Saya ingin menerapkannya dalam keluarga yang sedang saya bina dengan suami. Dan, saya juga ingin membaginya dengan keluarga Indonesia lainnya.
Oh ya, kalau ada yang perlu dikoreksi, untuk perbaikan diri saya, monggo meninggalkan komentar. Jadi, kita sama-sama belajar.
Posted: April 10th, 2009 | Author: dania | Filed under: Ada-ada Saja | No Comments »
Kemarin, saya dan keluarga beruntung karena kami mendapatkan surat undangan untuk turut serta dalam pesta demokrasi. Sayang, sebagian tetangga lain tak mendapatkannya.
Ada yang tampak kecewa, ada juga yang biasa-biasa saja.
Yang kecewa adalah seorang Bapak keturunan Betawi yang memang sejak ia lahir pun tinggal di wilayah tersebut. Selama ini, ia selalu mendapatkan kesempatan untuk memilih. Tapi, kali ini tidak.
“Serumah, cuman anak saye nyang dapet. Eh, die juga kudu kerja. Jadi, kagak milih dah.”
Ia misrah-misruh kepada petugas TPS. Sayang, takada yang bisa membantu.
Siang hari, saat penghitungan berlangsung, suami saya bertemu lagi dengan si Bapak yang biasa kami panggil Babe.
“Be, tenang aja. Banyak kok yang nggak dapet. Bukan cuma Babe.”
“Nah entu die. Kudunye kan nggak begini. Kaco dah semua.”
Suami yang berniat menenangkan si Babe malah justru membuat pria paruh baya itu tambah kesal.
Tapi, memang miris sih melihatnya. Sementara banyak orang yang mendapatkan undangan justru memilih GolPut dan tak memanfaatkan undangan tersebut, si Babe yang semangat justru tak diundang.
Ia bergeming di TPS hingga proses penghitungan berakhir.
“Tuh kan, jagoan saye kagak menang. Padahal, kalo saye tadi ikut nyoblos, pasti menang.”
“Nyontreng kali maksudnya, Be?” ralat suami saya.
“Ah…same aje,” ujarnya sambil ngeloyor pergi, masih dengan kekesalannya.
Ah, kasihan si Babe. Mudah-mudahan saat pemilihan Presiden nanti, Babe diundang ya.
Posted: April 6th, 2009 | Author: dania | Filed under: Jalan-jalan | 3 Comments »
Salah seorang teman kantor menghabiskan liburannya di Lombok. Katanya sih ok banget. Suami yang pernah tugas ke sana juga bilang begitu–tapi cuma bilang, nggak ngajak!
Jadi penasaran deh.
Kata si temanitu, ada dua tempat yang dia suka. Pertama di Senggigi, kedua di Rinjani.
Senggigi adalah pantai indah yang terletak di sebelah barat Pulau Lombok. Menurut si teman, pantai satu ini mirip dengan Kuta, tapi tak sebesar Kuta. Dan, yang pasti, lebih murah.
Dari kota Mataram, untuk mencapai pantai dengan keelokan pemandangan bawah lautnya ini hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Sebelum tiba di Senggigi, teman saya sempat mampir juga di Pura Batu Bolong. Kabarnya, dahulu kala sering diadakan pengorbanan seorang perawan untuk dimakankan kepada ikan hiu di tempat ini. Legenda lain mengatakan dahulu banyak para wanita yang menerjunkan diri dari tempat ini ke laut karena patah hati.
Teman saya juga sempat mendengar bahwa jika ke sana bersama pasangan atau pacar, maka hubungan tidak langgeng. Seperti mitos Kebun Raya Bogor ya?
Nah, dari Senggigi, teman saya juga dapat melihat Gunung Agung yang terletak di Bali.
Menurut teman saya lagi, jika tak bisa surfing, siap-siap saja iri kepada para surfer yang dengan semangatnya menunggu ombak yang dapat membawa mereka meluncur dengan lihainya.
Di samping itu, di pantai berpasir putih ini, selain dapat menikmati panorama nan indah, pengunjung dapat pula melihat pemandangan orang yang sedang memancing atau nelayan yang sedang melaut.
Di sekitar Senggigi, terdapat beragam penginapan dengan berbagai variasi harga. Jika ada uang lebih, Holiday Inn, the Oberoi, Sheraton Senggigi, Melati Dua Cottage, Pool Villa Club, Panorama Cottage bisa menjadi pilihan. Namun, jika dana agak terbatas, terdapat pula hotel melati hingga pemondokan.
Di sana, teman saya sempat menikmati angkutan khas NTB, Cidomo namanya. Cidomo ini ditarik oleh seekor kuda. Mungkin mirip delman di Jawa ya?
Selain Senggigi, seperti saya sebutkan di atas, si teman beruntung itu juga menikmati Rinjani. Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia.
Meski mendaki Rinjani bisa dilakukan sambil bersantai-santai, tetap saja persiapan logistik sangat diperlukan. Tapi, menurut teman saya, tak perlu khawatir. Segala sesuatu bisa diperoleh di desa terdekat (Senaru), mulai dari tenda, sleeping bag, peralatan makan, bahan makanan dan apa saja yg diperlukan.
Yang ok-nya lagi, porter di Rinjai selain handal dalam mengangkut logistik berat, mereka juga jago memasak dan bisa menjadi guide yang memuaskan.
Di Rinjani dapat ditemukan Edelweiss, bunga yang melambangkan keabadian dari keindahan. Edelweiss adalah jenis flora yang dilindungi. Jadi, si teman yang memang taat peraturan itu tak membawakan saya bunga nan indah itu sebagai oleh-oleh.
Menarik deh nampaknya. Tapi, mungkin saya hanya bisa ke Senggigi dan menikmati pantainya. Kalau harus mendaki, kayaknya saya hanya akan merepotkan saja. Hahaha!
So, enaknya liburan berikutnya ke Lombok atau Danau Toba ya? Bingung deh.
Posted: April 4th, 2009 | Author: dania | Filed under: Ada-ada Saja, Ide Kreatif | No Comments »


