Budayakan Membaca

bukuPerayaan Hari Buku Sedunia (World Book Day) sudah dimula semenjak tanggal 23 April 2009 yang lalu dan akan berakhir pada tanggal 17 Mei 2009.

Acara yang berlangsung di Museum Mandiri Kota ini mengajak warga Jakarta khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk membudayakan kegiatan membaca, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

World Book Day Indonesia 2009 ini mengusung tema “Membaca untuk Cinta.” Tema ini diangkat untuk mengingatkan kita tentang kecintaan terhadap membaca dan pentingnya berbagi kecintaan membaca kepada orang lain di sekitar kita.

Tak dapat dipungkiri, membaca adalah hal yang penting dan memang perlu digalakkan. Ada baiknya jika kita dapat terlibat dalam acara serupa dan dapat berbagi kecintaan atau hobi kita ini kepada orang banyak.

Namun, jika tak bisa, mulailah dari lingkup yang kecil seperti anak, pasangan, orang tua, keluarga, hingga asisten rumah tangga.

Yang paling mudah adalah dengan sering-sering mengajak anak ke toko buku atau perpustakaan. Mungkin jika ke toko buku agak berat — karena itu berarti harus mengeluarkan uang lebih — ajak saja anak dan keluarga berkunjung ke perpustakaan. Di sana mereka dapat membaca buku apa saja.

Salah satu perpustakaan yang cukup baik adalah Perpustakaan DikNas yang terletak di Jl. Jend. Sudirman, di sebelah Ratu Plaza. Di bagian belakang perpustakaan ini terdapat beragam buku anak yang cukup baik.

Cara lainnya adalah dengan menghadiahkan buku. Belakangan, saya rajin mengoleksi buku anak. Namun, saya sediakan dua buah per judul. Satu untuk anak-anak, satu lagi saya simpan untuk hadiah jika ada teman anak saya yang berulang tahun.

Memang sih anak saya dicap sebagai pengkado buku. Tapi, itu predikat yang bagus kan? :)

Selain untuk teman anak-anak saya, saya juga menghadiahkan buku kepada teman dan kerabat yang berulang tahun. Sahabat-sahabat saya bahkan jauh hari sebelum ulang tahun mereka memberitahukan buku apa saja yang mereka belum miliki.

Dengan orang tua dan mertua, saya sering bertukar buku, saling meminjamkan. Dengan suami malah tidak pernah, karena selera buku kami tidak sama. Ia senang yang berbau sejarah sementara saya lebih suka membaca novel.

Kepada asisten rumah tangga, saya kerap menghibahkan majalah-majalah saya. Awalnya, dulu saya pikir mereka akan menjual kiloan majalah-majalah tersebut. Tapi, ternyata mereka pilih terlebih dulu. Jika ada topik atau resep yang mereka suka, mereka simpan dan baca sendiri, sisanya barulah mereka jual.

Cara lain untuk berpartisipasi dalam ajan membudayakan membaca adalah dengan menyumbangkan buku. Belakangan semakin banyak perpustakaan komunitas yang terletak di kawasan tertentu yang bertujuan untuk mencerdaskan penduduk sekitar. Jika ada buku yang sudah selesai dibaca namun tak tahu hendak disimpan di mana, tak ada salahnya kan berbagi?

Yuk, budayakan membaca!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>