Jalan-jalan ke Jogja

Entah karena dekat atau apa, rasa-rasanya setiap kali ke Jogja, kami hanya menghabiskan waktu paling lama tiga hari. Terlebih lagi, beberapa kali di antaranya, memang saya dan anak-anak pergi untuk menemani suami yang tugas di sana.

Nah, apalagi kalau sudah dengan anak-anak begitu, eksplorasi makanan khas Jogja pun tak maksimal karena mereka lagi-lagi ya mencari yang sudah dikenal baik oleh lidah mereka.

Demi anak, kami mengalah saja.

Lokasi yang kami kunjungi ya kalau bukan Borobudur ya Prambanan. Oleh-oleh yang kami bawa pulang pun lagi-lagi bakpia, bakpia dan bakpia terus.

Sebenarnya, menurut seorang teman, banyak hal yang dapat dieksplor di kota Gudeg ini.

Di antaranya:

  • Museum Ullen Sentalu. Museum ini terletak di selatan Gunung Merapi, di daerah Pakem, di timur Kali Boyong, Kaliurang. Menurut yang sudah pernah ke sana, museum ini menampilkan budaya dan kehidupan putri / wanita Keraton Yogyakarta beserta koleksi bermacam-macam batik (baik gaya Yogyakarta maupun Surakarta). Museum ini selain menghadirkan informasi tentang kecantikan Putri Keraton, juga tentang pemikiran dan karya mereka.
  • Museum Affandi. Museum yang terletak di di Jalan Laksda Adi Sucipto 167 ini menampilkan koleksi lukisan karya sang Maestro yang dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907 serta koleksi lukisan karya pelukis lainnya. Bukan hanya itu, pengunjung juga dapat melihat mobil sedan Mitsubishi Gallant tahun 1975, sepeda Reliegh tahun 1975, dan banyak lagi.
  • Belajar membuat perhiasan perak di Kota Gede. Kebetulan saya tidak suka emas kuning, lebih suka emas putih dan perak. Dengar-dengar dalam waktu hanya 3 jam, kita bisa membuat sendiri perhiasan berbahan perak loh.
  • Museum Kekayon. Museum yang terletak di Jalan Raya Jogja Wonosari Km 7 No 277 ini kabarnya menggambarkan sejarah bangsa Indonesia sekaligus kesenian wayang.
  • Pabrik Cerutu Taru Martani. Pabrik yang didirikan semenjak tahun 1918 ini memproduksi cerutu legendaris. Kita dapat melihat langsung proses produksi cerutu linting tangan, tapi saya takkan membelinya. Nggak ada yang merokok. :)
  • Pabrik Gula Madukismo.  Menuju lokasi, dari Gedung Madu Chandy, kita akan menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api tua.
  • Pabrik Tegel Kunci.  Di pabrik yang dibangun semenjak tahun 1929 ini, kita dapat melihat proses produksi ubin-ubin bernuansa klasik dengan motif unik. Kabarnya, ubin-ubin ini juga turut menghiasi lantai Kraton Yogyakarta.

Nah, ternyata banyak banget kan hal yang bisa dilihat di Jogja alias Yogyakarta? Nggak melulu Malioboro, Pasar Beringharjo, Bakpia Patok, Prambanan dan Borobudur aja kan?

Saat saya ajukan ke suami, ternyata tiga di antara tempat-tempat yang saya sebutkan di atas pernah ia kunjungi bersama teman-temannya.

Duh, kenapa sih nggak ajak-ajak saya dan anak-anak? Huhuhu…

Tapi, dia janji, kalau dia tugas ke Jogja lagi, kami akan diajak dan kami akan menghabiskan waktu lebih dari 3 hari! ;)

2 Comments

  1. Helo Dania, melihat tulisan ini kamu bukan orang Jogja deh, dan dulu pasti pernah kuliah di Jogja gitu, jadi melihat Jogja jadi ingat sweat memory, aku juga pernah kuliah di Jogja lo

  2. Memang bukan, Mas :D
    Dan belum pernah kuliah di sana juga sih…tapi adik ipar yang kuliah di sana…hhehhe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>