Dangerously Beautiful Indonesia

Kenapa Menikah?

Posted: March 6th, 2009 | Author: dania | Filed under: Keluarga | 3 Comments »

Minggu lalu, saya dikejutkan oleh pertanyaan salah seorang keponakan suami saya, “Kenapa Tante memutuskan menikah dengan Oom?”

Gadis usia dua puluh tahun, kuliah, dan jomblo.

Saya balik bertanya, “Kenapa kamu tanya itu?”

Dia hanya mengangkat bahu.

Belakangan saya ketahui, dia baru putus dengan cowoknya. Dan, sepertinya, dia cinta banget sama cowok ini, sehingga dia menjadi sangat kecewa. Entah ada hubungannya atau tidak peristiwa tersebut dengan pertanyaan yang ia ajukan.

Tapi, mau nggak mau, pertanyaannya membuat saya berpikir juga. Iya ya, kenapa saya berani memutuskan menikah?

Suami saya–yang dulu masih berstatus pacar–adalah pria yang tak pernah saya bayangkan bisa menjadi pendamping seumur hidup. Ia begitu santai dan cuek. Bagusnya, ia tak pernah mengekang saya. Tapi, di sisi lain, saya juga jadi iri kepada teman-teman yang sehari-hari ditanya oleh pacar mereka ke mana mereka pergi, mereka sedang di mana, dsb.

Saya membayangkan seorang pria yang bersikap seperti ayah saya kepada ibu. Begitu perhatian, begitu melindungi, begitu menjaga. Jarang sekali ibu pergi tanpa ayah saya.

Kata teman saya, saya justru harus bersyukur karena tidak ‘dikekang’ pacar. Kemudian, barulah saya ketahui bahwa terlalu diperhatikan juga tidak mengenakkan.

Tapi, itu tidak menjawab pertanyaan saya di atas. Saya tidak menikahinya karena ia tidak mengekang. Lalu apa?

Karena ia pekerja keras? Entahlah. Yang saya ingat, saya dulu sering protes juga saat ia bekerja di akhir minggu.

“Waktu buatku mana?” keluh saya suatu saat.

Hm…bahkan kami hampir putus hanya karena ia hampir selalu tak bisa menemani saya ke acara pernikahan teman–terkadang karena ia harus lembur atau karena ia sedang dikirim ke luar kota.

Karena ia tampan? Hm…rasanya terlalu kekanakan kalau saya memang menikahinya karena itu…hahaha!

Karena ia pandai? Hm…mungkin juga. Untuk yang satu ini, ia seperti ayah saya. Kedua pria dalam hidup saya itu memang selalu bisa menjawab pertanyaan saya. Kami juga bisa berdiskusi tentang banyak hal.

Tapi, haruskah kita punya alasan khusus kenapa menikah dan kenapa menikahi orang tersebut?

Haruskah?

Setelah menelusuri berbagai alasan di atas, saya ragu kita harus punya alasan–yang dapat diuraikan dalam bentuk penjelasan yang logis–untuk menikah dan menikahi seseorang.

Yang saya ingat, suatu hari, kekasih saya itu berkata, “I think, you’re the one…”

Saya, saat itu, antara terkejut senang dan kesal. Senang karena tersanjung ia menyimpulkan bahwa sayalah orangnya. Kesal karena…iihhh…ke mana aja sih, kok baru sadar sekarang? Hahaha!

Setelah ia berkata begitu, sekitar dua minggu kemudian, keluarganya datang, kami bertunangan. Dan, beberapa bulan kemudian, kami sudah berdiri–dengan senyum dan tangan yang pegal karena harus menyalami begitu banyak orang–di pelaminan.

Hm…satu hal yang pasti…karena saya mencintainya! (kenapa tidak terpikir sejak tadi ya?!)

;)


3 Comments on “Kenapa Menikah?”

  1. 1 nelson said at 9:31 am on March 7th, 2009:

    ya karena……Karena itu sunah Rasul…… ;)

  2. 2 joe said at 4:07 pm on March 10th, 2009:

    menikah itu indah, bila dua hati sudah menyatu dan sepakat saling berbagi …

  3. 3 natazya said at 10:01 pm on March 18th, 2009:

    aaaaaahhhhh

    aku juga pengen nikaaaaaaah!!!

    pengen banget!!!!

    doain yah moga2 jadi target taun ini…

    AMIEN :D


Leave a Reply