Mau ceritanya orang itu ulang tahun alias ultah, mau ceritanya mereka menikah, lahiran, lulus, dan lain sebagainya, suami saya hampir selalu menyempatkan diri mencari buku yang cocok untuk ia berikan kepada yang sedang berbahagia.
Awalnya saya heran juga. Kenapa sih ia begitu senang memberi buku?
“Ingin membiasakan budaya buku, Say. Biasanya yang aku beri buku kan mereka yang memang jarang membaca,” jawabnya.
Setelah saya ingat-ingat, betul juga. Ia jarang memberikan buku kepada saya ataupun adik-adiknya yang kebetulan hobi sekali membaca.
“Apa nggak sayang, kasih hadiah benda yang orang itu gak terlalu suka?” tanya saya.
“Nggak ada yang sayang when it comes to books.”
Maka, saya pun mengikuti jejaknya. Bedanya, saya memberikan buku juga kepada mereka yang gila buku. Hm…bahkan jika memang mereka agak-agak kutu buku, saya memberi lebih dari satu. Mungkin karena saya tahu mereka gak akan menyia-nyiakan buku pemberian dari saya.
Nah, ternyata, anak-anak saya juga terbawa budaya memberi buku sebagai hadiah ini. Jika ada teman mereka yang berulang tahun, mereka akan segera mengajak ke toko buku.
Oh ya, untuk saya, agak lebih sederhana. Saya langsung mencari buku yang ingin saya berikan di beberapa toko buku online seperti KutuKutuBuku.com atau IniBuku.com. Pernah juga saya memesan di toko buku online yang saya temukan di Multiply.com, BukuMurMer.multiply.com, meski lebih banyakbuku second-nya.
Belakangan, mereka yang saya berikan hadiah berupa buku juga menghadiahi saya buku. Jadi, jangan heran kalau saya tidak membeli banyak buku. Saya punya banyaaaaak sekali stok buku yang belum selesai saya baca. Namun, kalau ada buku yang benar-benar bagus atau saya memang membutuhkannya, barulah saya pertimbangkan untuk dibeli.
Budaya membaca memang harus selalu terus digalakkan. Memang, di kota besar, buku bukanlah hal yang aneh–terutama bagi kelompok masyarakat menengah dan atas. Namun, di kota lebih kecil atau daerah terpencil, buku adalah benda yang sulit ditemui, kecuali ada yang bersedia mendirikan perpustakaan atau rumah baca di wilayah tersebut.
Ya jika memang belum bisa membantu di daerah terpencil, ada baiknya memulai dengan orang-orang di sekitar, orang-orang terdekat. Ajak mereka turut mencintai buku, menjadikan buku bagian yang tak terpisahkan dalam hidup.
Buku apa sajakah yang tepat untuk dijadikan hadiah atau kado?
Berikan buku motivasi bagi mereka yang sedang ingin mencapai goal tertentu.
Berikan buku memasak untuk mereka yang senang berlama-lama di dapur.
Berikan novel untuk mereka yang romantis.
Berikan buku anak bermutu untuk teman anak kita yang sedang berulang tahun.
Berikan buku tentang pernikahan jika diundang ke acara resepsi.
Berikan buku tentang kehamilan jika ada kerabat atau sahabat yang baru saja dinyatakan mengandung.
Berikan buku tentang perkembangan dan kesehatan anak saat seorang teman melahirkan.
Setelah sebelumnya saya membahas tentang Tips Pintar Belanja Online, sekarang saya ingin membahas tentang Berjualan Online.
Kenapa? Karena, belum lama ini saya sempat kecewa dengan seseorang kenalan saya di dunia maya yang ingkar janji dalam menjual. Saya sudah membayar, tapi hingga kini saya tak juga menerima barangnya.
Beberapa hari yang lalu, saya membahas hal ini dengan seorang sahabat yang berjualan online. Pelanggannya banyak dan toko online-nya, meski hanya dijalankan dari layanan blog gratis (bukan webiste tersendiri dengan hosting yang harus ia bayar), mendapat pujian dari para pelanggan.
Apa rahasianya?
Ia jujur. Jika ia tak sanggup mengirimkan barang yang telah dipesan pada waktu yang ditentukan, ia mengirimkan pesan baik melalui PM, e-mail, ataupun SMS kepada pelanggan.
Ia menampilkan foto barang yang benar-benar ingin dijualnya, bukan barang serupa yang lebih baik tampilannya. Jika barang memang tidak dalam keadaan 100%, ia pun menjelaskan dengan jujur.
Ia menampilkan harga di sebelah barang tersebut. Ia tak suka menyembunyikan harga dan baru memberitahukannya kemudian.
Ia membina hubungan baik dengan pelanggan. Ia tak menganggap mereka sebagai orang yang membeli darinya, melainkan sebagai teman. Ia memberi ucapan selamat yang tulus saat mereka berulang tahun, mendo’akan saat mereka sedang kurang sehat, dan turut bahagia saat mereka bahagia.
Ia mudah dihubungi. Ia memberikan nomor HP (yang memang ia sediakan khusus untuk menjalankan bisnis di dunia maya-nya), alamat e-mail, dan YM ID.
Ia tak pernah promosi dengan cara spam, menampilkan link ke halaman blog jualannya di blog orang lain, ataupun memberikan komentar yang tidak berhubungan dengan postingan seorang blogger di blog mereka hanya karena ia ingin berpromosi.
Dengan menerapkan cara di atas, sahabat saya itu mendapat feedback yang sangat baik dari para pelanggan. Bahkan, tak sedikit yang memberikan testimonial positif tanpa diminta. Pelanggannya juga memberitahukan kepada teman-teman mereka bahwa ada toko online yang ok punya.
Dalam dunia maya, meski segalanya bergerak dengan cepat, ternyata tak jauh beda dengan apa yang terjadi di dunia nyata, tak ada yang instan. Semua harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Terkadang ada pula yang menganggap bahwa berjualan di dunia online bisa disambil. Sambil kerja, sambil mengerjakan hal lain. Bisa jadi. Tapi, tentu hasilnya tak sebesar jika dilakukan dengan total dan fokus.
Awalnya, sahabat saya berjualan di dunia maya sebagai iseng-iseng. Tapi, lama-kelamaan ia melihat peluang yang besar dan ia bersungguh-sungguh.
Dan, ternyata, sekarang ia bahkan sudah bisa membayar keponakannya untuk kerja part-time di toko online-nya tersebut untuk mengatur pengiriman barang. Ia juga punya kurir sendiri untuk pengiriman dalam kota.
Mau sukses berjualan online? Coba deh ikuti jejak sahabat saya itu.
Memang sudah beberapa kali suami berniat mengajak saya berlibur ke Danau Toba, tapi belum juga terlaksana. Ia begitu ingin karena saat kecil, ia pernah tinggal di Medan selama dua tahun dan sesekali diajak orang tuanya untuk menikmati indahnya Danau Toba.
Sementara belum ke sana, saya coba-coba cari video tentang Danau Toba, dan menemukan yang satu ini:
Indah banget kan?
Danau yang mengelilingi Pulau Samosir ini dapat dicapai hanya empat jam perjalanan darat dari kota Medan.
Menurut suami, kami dapat menginap di Parapat. Kami dapat menikmati keindahan Danau Toba dari hotel-hotel yang terletak di kota tersebut.
Kami juga dapat naik kapal untuk menyambangi Pulau Samosir. Suami bercerita betapa ia terpukau akan keindahan Danau Toba saat masih kecil dulu.
Katanya lagi, di Pulau Samosir, terdapat sebuah air terjun yang sangat indah yang dikenal dengan nama Air Terjun Sampurna Tujuh.
Di sana juga sepertinya banyak yang menjual pernak-pernik oleh-oleh yang lucu-lucu. Yah, mungkin seperti wajarnya obyek wisata ya? Sekitar setahun yang lalu, sahabat saya berlibur ke sana–karena kebetulan ia memang berasal dari Sumatra Utara–dan membawakan saya oleh-oleh yang katanya khas Samosir seperti kain dan tas.
Danau seluas 1.700 m2 ini kabarnya lebih seperti laut ketimbang danau. Suasana di sana tenang. Terletak 906 meter di atas permukaan laut, udaranya segar.
Yang menarik dari Danau Toba, di antaranya, adalah kisah di balik asal mula salah satu danau terindah di Indonesia ini.
Menurut legenda, Danau Toba berasal dari kata tuba atau tak tahu berbalas budi. Kisah ini berawal dari seorang pemuda yang bekerja sebagai penangkap ikan. Ia menemukan seekor ikan yang kemudian menjelma menjadi seorang perempuan. Ia pun menikah dengan perempuan ini, dengan syarat, jika mereka punya anak, ia tak boleh memberiytahukan bahwa anak tersebut adalah anak ikan.
Namun, suatu saat ia melanggar janji. Ia tak sengaja mengatakan kepada anaknya bahwa ia anak ikan. Sang istri mengetahui hal tersebut. Lalu ia dan si anak menghilang. Kabarnya tanah bekas telapak kaki mereka mengeluarkan air yang kemudian menjadi air di Danau Toba.
Sedangkan asal mula Danau Toba jika ditilik dari segi ilmiah, diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu. Dua peneliti dari Michigan Technological University, Bill Rose dan Craig Chesner, memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.
Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Minggu lalu, saya dikejutkan oleh pertanyaan salah seorang keponakan suami saya, “Kenapa Tante memutuskan menikahdengan Oom?”
Gadis usia dua puluh tahun, kuliah, dan jomblo.
Saya balik bertanya, “Kenapa kamu tanya itu?”
Dia hanya mengangkat bahu.
Belakangan saya ketahui, dia baru putus dengan cowoknya. Dan, sepertinya, dia cinta banget sama cowok ini, sehingga dia menjadi sangat kecewa. Entah ada hubungannya atau tidak peristiwa tersebut dengan pertanyaan yang ia ajukan.
Tapi, mau nggak mau, pertanyaannya membuat saya berpikir juga. Iya ya, kenapa saya berani memutuskan menikah?
Suami saya–yang dulu masih berstatus pacar–adalah pria yang tak pernah saya bayangkan bisa menjadi pendamping seumur hidup. Ia begitu santai dan cuek. Bagusnya, ia tak pernah mengekang saya. Tapi, di sisi lain, saya juga jadi iri kepada teman-teman yang sehari-hari ditanya oleh pacar mereka ke mana mereka pergi, mereka sedang di mana, dsb.
Saya membayangkan seorang pria yang bersikap seperti ayah saya kepada ibu. Begitu perhatian, begitu melindungi, begitu menjaga. Jarang sekali ibu pergi tanpa ayah saya.
Kata teman saya, saya justru harus bersyukur karena tidak ‘dikekang’ pacar. Kemudian, barulah saya ketahui bahwa terlalu diperhatikan juga tidak mengenakkan.
Tapi, itu tidak menjawab pertanyaan saya di atas. Saya tidak menikahinya karena ia tidak mengekang. Lalu apa?
Karena ia pekerja keras? Entahlah. Yang saya ingat, saya dulu sering protes juga saat ia bekerja di akhir minggu.
“Waktu buatku mana?” keluh saya suatu saat.
Hm…bahkan kami hampir putus hanya karena ia hampir selalu tak bisa menemani saya ke acara pernikahan teman–terkadang karena ia harus lembur atau karena ia sedang dikirim ke luar kota.
Karena ia tampan? Hm…rasanya terlalu kekanakan kalau saya memang menikahinya karena itu…hahaha!
Karena ia pandai? Hm…mungkin juga. Untuk yang satu ini, ia seperti ayah saya. Kedua pria dalam hidup saya itu memang selalu bisa menjawab pertanyaan saya. Kami juga bisa berdiskusi tentang banyak hal.
Tapi, haruskah kita punya alasan khusus kenapa menikah dan kenapa menikahi orang tersebut?
Haruskah?
Setelah menelusuri berbagai alasan di atas, saya ragu kita harus punya alasan–yang dapat diuraikan dalam bentuk penjelasan yang logis–untuk menikah dan menikahi seseorang.
Yang saya ingat, suatu hari, kekasih saya itu berkata, “I think, you’re the one…”
Saya, saat itu, antara terkejut senang dan kesal. Senang karena tersanjung ia menyimpulkan bahwa sayalah orangnya. Kesal karena…iihhh…ke mana aja sih, kok baru sadar sekarang? Hahaha!
Setelah ia berkata begitu, sekitar dua minggu kemudian, keluarganya datang, kami bertunangan. Dan, beberapa bulan kemudian, kami sudah berdiri–dengan senyum dan tangan yang pegal karena harus menyalami begitu banyak orang–di pelaminan.
Hm…satu hal yang pasti…karena saya mencintainya! (kenapa tidak terpikir sejak tadi ya?!)