Mengenal Kanker Leher Rahim (Serviks)
Posted: January 13th, 2009 | Author: dania | Filed under: Basic | No Comments »
Kanker Serviks atau biasa disebut juga dengan kanker mulut rahim disebabkan oleh virus yang dikenal dengan HPV (Human Papilloma Virus). Melalui pap smear (tes yang digunakan untuk mendeteksi perubahan atau sel pada dinding leher rahim), maka dapat diketahui apakah seseorang terkena virus tersebut atau tidak.
Selain melalui pap smear, kanker mulut rahim ini juga dapat dideteksi dengan IVA. IVA adalah inspeksi visual dengan Asam Asetat 3-5 persen. Tes satu ini lebih murah dan mudah bila dibandingkan dengan pap smear, namun hasilnya sana akuratnya.
Jika terdeteksi semenjak dini, kanker serviks ini dapat disembuhkan hingga 100%. Sayangnya, banyak yang baru memeriksakan diri setelah kanker memasuki stadium lanjut. Walau begitu, kanker ini masih dapat disembuhkan. Tentunya dengan didukung oleh gaya hidup yang sehat dari si pasien.
Tidak main-main, kanker ini diidap oleh banyak perempuan di Indonesia. Di dunia, setelah Cina, Indonesia merupakan Negara dengan peringkat kedua yang memiliki pengidap kanker leher rahim terbanyak.
Sebenarnya, seperti virus lainnya, HPV juga dapat sembuh sendiri. Dengan daya tahan tubuh yang baik, 90% di antaranya dapat sembuh dalam waktu 2 tahun. 10% sisanya tetap aktif atau tetap ada namun tidak aktif.
Saat daya tahan tubuh menurun inilah, yang tidak aktif itu dapat kembali aktif yang kemudian setelah bertahun-tahun lamanya akan menyebabkan tumbuhnya sel kanker.
Sebenarnya, siapa sajakah yang dapat terkena kanker serviks?
- Perempuan yang telah aktif secara seksual semenjak usia dini.
- Perempuan yang berganti-ganti pasangan.
- Perempuan dengan suami yang berhubungan seksual dengan perempuan lain yang memiliki kemungkinan mengidap HPV.
Pencegahan
Salah satu cara yang dianggap efektif untuk mencegar seseorang terpapar penyakit yang dapat mematikan ini adalah dengan vaksinasi.
Namun, vaksinasi efektif hanya jika diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Di negara tertentu, anak perempuan berusia sembilan tahun mulai diberikan vaksinasi.
Walau begitu, vaksinasi ini juga menimbulkan kontroversi.
Dalam salah satu tayangan Oprah yang saya tonton beberapa waktu lalu, beberapa orang tua menentang vaksinasi ini. Karena, ada yang beranggapan bahwa memberikan vaksinasi berarti memberikan legalitas kepada anak untuk aktif secara seksual dan/atau berganti pasangan.
Kubu lainnya menyanggah dengan menyatakan bahwa resiko terkena penyakit itu terlalu besar sehingga mereka memang harus memberikannya. Masalah apakah si anak akan melakukan kegiatan seksual secara aktif dan/atau berganti pasangan kembali kepada cara orang tua mendidik dan nilai moral yang ditanamkan kepada mereka.
Kedua kubu itu masing-masing memiliki alasan yang jelas. Di negara ini, yang kebetulan memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi ketimbang negara barat tempat kontroversi itu terjadi, tak ada salahnya kita sebagai orang tua tetap memberikan vaksin tersebut. Toh, kita telah terbiasa menanamkan nilai agama dan moral kepada anak-anak kita.
Mari kita cegah anak-anak perempuan kita dari HPV dan mari kita periksakan diri sedini mungkin.
Leave a Reply