Posted: December 31st, 2008 | Author: dania | Filed under: Jalan-jalan | No Comments »
Memang, dalam hitungan jam, Visit Indonesia 2008 akan berakhir. Tapi, nggak ada salahnya kan kalau kita tetap mempromosikan objek-objek pariwisata negeri ini?
Perjalanan saya ke Cirebon minggu lalu membuka mata saya bahwa kota kecil sekalipun punya daya tarik tersendiri. Selain pemandangan, makanan dan lokasi wisata belanjanya juga membuat saya ingin kembali dan kembali lagi.
Di kota kecil itu saya menikmati beragam makanan khas Cirebon yang sulit ditemukan di Jakarta seperti Empal Gentong, Nasi Jamblang, dan Tahu Gejrot. Semua saya nikmati di pinggir jalan.
Malam pertama di sana, kami langsung mencari Nasi Jamblang. Sebetulnya menunya mirip dengan masakan rumahan. Tapi, nasinya dibungkus dengan daun jati.
Tahu Gejrot kami dapati saat membeli oleh-oleh khas Cirebon di Sinta Manisan. Hampir saja kehabisan…
Empal Gentong kami nikmati di siang hari. Lagi-lagi, kami hampir kehabisan. Untunglah kami datang tepat waktu.
Saat packing sebelum pulang, kopor saya susah ditutup. Saya belanja batik gila-gilaan di sana. Terlalu cantik dan murah untuk ditinggalkan. Suami saya dapat kemeja lima, saya bahan batik enam dan blus batik empat, anak-anak yang kurang hoki. Saya nggak bisa menemukan batik yang pas dengan ukuran mereka.
So, berwisata kan nggak melulu harus ke Bali?
Di Cirebon banyak hotel menarik. Kalau mau yang lebih tenang dan agak sejuk, bisa naik sedikit ke arah Kuningan.
Dan, yang jadi turis kan gak perlu bule atau orang Jepang? Turis lokal seperti kita juga diterima dengan senyum ramah kok…
Yuk, jalan-jalan lagi di 2009!
Posted: December 30th, 2008 | Author: dania | Filed under: Basic | 2 Comments »
Kadang nerima e-mail non-kerjaan ke alamat e-mail kantor suka bikin sebel. Tapi, yang lucu-lucu bolehlah…
Seperti di bawah ini…yang mengingatkan saya betapa masih banyak orang yang nggak ngerti gimana menggunakan WC duduk.

Posted: December 22nd, 2008 | Author: dania | Filed under: Keluarga | 5 Comments »
Saya cinta Hari Ibu!
Semenjak menjadi ibu, tanggal 22 Desember menjadi semakin berarti. Jika dahulu kala saya hanya memberikan ucapan ke Mama dan Ibu Mertua, semenjak si Sulung lahir, saya mendapatkan ucapan selamat.
Suami selalu menyempatkan diri mengecup kening saya setiap Hari Ibu. Mungkin karena ia selalu menemani saya di ruang bersalin, ia semakin peka akan makna seorang ibu.
Sebelum si Sulung lahir, ia lebih cuek dengan Hari Ibu. Ia baru akan menelepon atau mendatangi Ibunya jika saya ingatkan. Tapi, sekarang, ia berubah total. Sebelum Hari Ibu tiba, ia sudah menyiapkan kado khusus untuk Ibunya dan Mama saya. Masing-masing mendapatkan sebuah buku do’a.
Untuk saya? Ia memberikan sebuah bross cantik.
Tapi, sejujurnya, kado darinya kalah istimewa dibandingkan hadiah dari si Sulung. Ia menggambar wajah saya di sebuah kertas berwarna pink–yang entah dari mana ia dapatkan. Tidak mirip memang.
Tapi, siapa tahu, she could be the next Picasso?
Selamat Hari Ibu!

Oh ya, hari Minggu yang lalu, saya menonton Golden Ways-nya Mario Teguh. Dan, saya merinding saat Dewi Gita menyanyikan Mother’s Prayer-nya Celine Dion…
every mother’s prayer
every child knows
lead her to a place
guide her with your grace
to a place where she’ll be safe
Nyanyi bareng yuk?
Posted: December 20th, 2008 | Author: dania | Filed under: Ide Kreatif, Lucu | 3 Comments »
Setelah lihat iklan ini, masih mau nyebrang sembarangan?

Posted: December 18th, 2008 | Author: dania | Filed under: Ide Kreatif, Simplify Your Life | 3 Comments »

Sahabat saya tahu betul bahwa jika tidur, saya bisa sangat lasak–karena saya sering juga menginap di rumahnya saar single dulu. Dan, ternyata, suami saya juga lasak!
Dulu sekali, di awal pernikahan kami, saya pernah curhat ke sahabat saya ini tentang kenyataan bahwa saya dan suami sama-sama lasak. Sekarang sih masalahnya sudah selesai karena ternyata alam bawah sadar saya sudah membentuk gaya tidur baru buat saya. Saya bisa tidur dengan posisi yang sama sepanjang malam.
Suami saya sih masih memiliki masalah yang sama walau nggak separah dulu.
Ternyata, curhatan saya dulu begitu membekas di kepala sahabat saya itu–karena baik dia dan suaminya, jika tidur, mereka begitu rapi. Sehingga, saat dia menerima sebuah e-mail dari rekan kerjanya, ia langsung mem-forward ke saya.
Dia bilang, “Semestinya, seprai begitu ada yang jual ya saat kamu baru menikah. Kalau ada, aku pasti belikan selusin!”
Dasar sahabat jahil…hm…tapi, saya jadi ingin cari seprai seperti itu deh. Seprai khusus pasangan lasak! Ada yang jual?
Posted: December 17th, 2008 | Author: dania | Filed under: Keluarga, Simplify Your Life | 1 Comment »
Sebentar lagi libur panjang. Saya dan suami sudah menyerahkan formulir cuti ke HRD. Anak-anak pun sebentar lagi akan menerima rapot.
Rencananya, minggu depan kami akan berangkat menuju kota Cirebon selama beberapa hari. Selain berlibur, kami juga hendak mengunjungi kerabat yang sudah sepuh.
Kami akan menghabiskan dua malam tiga hari di sana.
Sejujurnya, ini perjalanan paling lama yang akan kami lakukan sekeluarga. Sebelumnya, paling lama satu malam.
Suami saya nggak jago packing. Saya apa lagi.
So, semenjak beberapa hari yang lalu, kami sibuk cari informasi mengenai packing yang efektif dan simpel.
Berikut ini adalah tips yang berhasil kami kumpulkan:
- Rencanakan dengan seksama
Kami harus tahu dengan benar di mana akan menginap, cuaca kota tersebut, beserta kegiatan apa yang akan kami lakukan. Karena, semua itu berhubungan dengan jumlah baju yang kami bawa.
Jika menginap di tempat yang menyediakan jasa cuci, kami bisa menghemat jumlah pakaian yang dibawa.
Jika kota tersebut panas, maka kami harus siap dengan jumlah pakaian yang cukup karena ada kemungkinan anak-anak—atau bahkan kami sendiri—sering berganti pakaian.
Jika kami berniat untuk berbelanja, sebaiknya jumlah pakaian yang dibawa dikurangi. Pakai saja baju yang dibeli di sana—dengan syarat kami harus membelinya di tempat yang kira-kira higienitasnya terjamin.
Buat daftar acara
Supaya perencanaan lebih maksimal, kami perlu buat daftar lengkap acara kegiatan kami di sana. Bukan apa-apa, kabarnya, salah satu kerabat sudah tahu kami akan datang dan mengundang untuk makan malam. Berarti, kami harus menyiapkan pakaian yang lebih pantas.
- Pilih-pilih jenis bahan pakaian
Kalau memang bepergian ke tempat yang cuacanya tidak dingin, bawa saja pakaian yang tidak tebal. Bukan hanya agar tidak ‘gerah’ saat beraktivitas, tentunya juga agar kopor tidak penuh meski kita membawa pakaian agak banyak.
Karena kota yang akan kami datangi kabarnya cukup panas, maka tentunya kami akan membawa pakaian berbahan tipis saja.
Kalau ternyata tak ada fasilitas mencuci di tempat menginap, ada baiknya jika membawa plastik untuk membungkus pakaian yang telah kotor atau dipakai. Hal ini dapat menghindari bau tak sedap di koper. Atau, jika ada pakaian bersih yang tak terpakai tak perlu bersentuhan dengan pakaian yang kotor tersebut.
Meskipun liburan tidak diniatkan untuk berbelanja, rasanya tidak mungkin jalan-jalan ke suatu tempat tanpa membeli barang khas daerah tersebut. Jadi, pastikan ada space sisa untuk barang belanjaan.
Biarkan anak membawa beberapa barang mereka di dalam tas mereka sendiri. Selain untuk mengurangi penggunaan space di kopor, anak juga akan belajar packing dan bertanggung jawab dengan barang mereka sendiri.
Ayo liburan!!!
Posted: December 14th, 2008 | Author: dania | Filed under: Basic | No Comments »



Hihihi, asli deh ketawa-ketawa ngakak liat gaya pembalap di atas–gak termasuk dua gaya pertama ya. Apa pembalap pertama dan kedua latihannya seperti pembalap ketiga ya? Pake bunyi ciiiitttt gitu nggak ya?
Kira-kira kalau kamu jadi pembalap–pasti ada kan yang bercita-cita jadi pembalap–gaya kamu yang mana?
Hm…Moreno dan Ananda Mikola pake gaya yang mana ya?
Posted: December 11th, 2008 | Author: dania | Filed under: Simplify Your Life | Comments Off
Belakangan ini banyak sekali toko online di internet. Mulai dari toko online yang menjual perangkat komputer seperti bhinneka.com, menjual buku seperti inibuku.com dan kutukutubuku.com, hingga beragam produk lainnya seperti pakaian dan aksesoris.
Memang, saat ini, sudah sekitar 30 juta rakyat Indonesia telah bersinggungan dengan internet. Tak hanya di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya. Masyarakat di kota yang lebih kecil pun sekarang sudah ‘melek’ internet.
Karenanya, pasar begitu terbuka.
Lalu, bagaimana kita, sebagai konsumen, menyikapi cara baru dalam berbelanja ini?
Banyak yang masih takut berbelanja di internet. Ada juga yang sudah berani, tapi hanya sebatas berbelanja di situs-situs yang besar dan jelas seperti yang saya sebutkan di atas.
Padahal, tak sedikit produk dengan harga miring dijual di blog dan forum. Sebenarnya, dengan sedikit ketelitian, kita dapat menyingkirkan rasa takut itu.
Jika saya berbelanja di blog—saat ini paling sering di multiply—atau jika suami saya berbelanja di forum, kami memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Penjualnya. Biasanya, penjual yang jujur akan membuka diri. Jika di blog atau multiply, maka ia akan mengisi data pribadi dengan lengkap, seperti lokasi, alamat e-mail dan YM ID. Ia pun memiliki lingkaran teman yang riil, alias bukan makhluk maya yang sengaja mereka ciptakan. Di forum, biasanya terdapat ‘reputasi’. Jika reputasinya bagus, maka saatnyalah untuk menghapus rasa curiga.
- Testimonial dan komentar. Suami saya memberi perhatian lebih dalam hal testimoni. Ia hanya berbelanja dari orang-orang yang memiliki testimoni dengan nada positif dalam jumlah yang cukup banyak. Jika ada satu testimoni yang negatif saja, ia akan mengecek ke anggota forum lainnya mengenai kredibilitas sang penjual. Sementara, jika berbelanja di blog atau multiply, saya akan memperhatikan komentar para pembeli baik di halaman produk ataupun guestbook dan chatbox.
- Nomor telepon. Jika memang ia penjual sungguhan, maka ia akan memberikan nomor teleponnya. Batalkan penjualan jika si penjual bersikukuh tidak memberitahukan nomor telepon yang dapat dihubungi.
- Perjanjian pengiriman uang dan barang. Sebagian penjual memilih untuk COD (Cash on Delivery). Untuk yang satu ini, kamu nggak perlu khawatir lagi. Barang bisa diperiksa atau dites terlebih dulu di hadapan sang penjual. Untuk penjual yang berdomisili di luar daerah, dapat dilakukan dua pilihan kesepakatan. Pertama, biasanya penjual me
minta uang ditransfer terlebih dulu baru barang akan dikirim. Jika ketiga hal di atas terpenuhi, maka pilihan satu ini tak berbahaya. Walau begitu, saya dan suami bersedia melakukannya hanya jika transaksi di bawah 500 ribu rupiah. Jika lebih, maka kami memilih cara kedua berikut ini. Di forum-forum tertentu, terdapat satu dua orang yang me-manage rekening bersama. Kita memang mentransfer uang terlebih dahulu, namun tidak langsung ke si penjual, melainkan ke rekening bersama tersebut. Lalu, si pemilik rekening akan memberitahukan penjual yang kemudian mengirim barang. Setelah barang diterima, maka kita sebagai pembeli sebaiknya memeriksa dan menguji coba. Jika tidak ada masalah, kita dapat memberi instruksi kepada pemilik rekening bersama untuk mentransfer kepada penjual. Jika barang tidak sesuai, kita dapat mengirim kembali barang tersebut dan meminta uang kembali. Memang, kita diminta melebihkan uang yang ditransfer sebanyak sekitar 10 ribu rupiah untuk biaya administrasi. Namun, apalah artinya dibandingkan dengan resiko yang kita tanggung jika tak menggunakan rekening bersama tersebut.
- Garansi. Untuk barang-barang elektronik—terutama yang second—pastikan ada garansi, baik dari si pembeli ataupun distributor. Hal ini untuk meminimalisasi resiko kerugian jika barang yang dikirimkan dalam keadaan rusak.
Sejauh ini, jika kelima hal tersebut sudah terpenuhi, kami tak segan-segan berbelanja online. Karena, banyak keuntungan juga yang kami petik. Di antaranya:
- Diskon khusus, di toko buku online, biasanya terdapat diskon minimal 15% dari harga toko offline.
- Kami nggak perlu membuang waktu di pusat perbelanjaan.
- Kami nggak perlu mengeluarkan ongkos untuk ke pusat perbelanjaan.
- Kami nggak perlu ‘window shopping’ yang biasanya berujung pada pembelian barang-barang yang nggak diperlukan.
Jadi, masih takut belanja di internet?
Posted: December 9th, 2008 | Author: dania | Filed under: Basic | 1 Comment »
Selama ini, orang tua hanya memperhatikan perkembangan otak kiri anak. Mereka bangga jika anak pandai berhitung. Tapi, tahu nggak…otak kanan juga perlu mendapat perhatian.
Otak kanan adalah bagian otak yang berkenaan dengan kreativitas, imajinasi yang hidup, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Di dunia yang semakin mengarah pada indust
ri kreatif seperti sekarang ini, sungguh disayangkan jika orang tua masih melulu mengurusi kepandaian anak dalam berhitung atau ilmu eksak saja.
Sudah saatnya kita menyeimbangkan fungsi kedua belah otak anak agar kesuksesan dapat dengan mudah diraih anak nantinya.
Ada berbagai cara dalam melatih otak kanan anak. Berikut ini di antaranya:
- Hiasi rumah dengan foto, lukisan atau gambar-gambar yang berwarna-warni. Hal ini dapat memicu anak untuk belajar mengobservasi.
- Tunjukkan anak beragam kartu dengan gambar dan warna menarik pada suatu waktu yang telah ditentukan, seperti di antara waktu bermain anak. Latihan ini dapat melatih anak mengenali beragam jenis warna.
- Perkenalkan dan biasakan anak dengan kegiatan seni dan kerajinan tangan. Tidak perlu yang sulit, cukup dengan mengajak anak melukis dengan tangan, menghias buku dengan stiker, dan kegiatan sederhana lain.
- Mendongenglah untuk mereka. Hal ini dapat menggugah imajinasi anak. Ajak mereka untuk melanjutkan cerita, menambahkan tokoh, atau bahkan mengubah alur cerita.
- Ajak anak mengikuti irama lagu. Sambil bernyanyi, ajak anak untuk turut berlenggak-lenggok. Awalnya biarkan ia mengikuti gaya kamu, selanjutnya biarkan ia menciptakan gaya tersendiri. Bahkan, ada baiknya jika kamu mengikuti gerakannya.
Kalau boleh, saya mau cerita sedikit tentang anak perempuan saya. Umurnya sudah lima setengah tahun. Berbeda dengan adik laki-lakinya, dia sangaaaat cerewet. Dia pandai bercerita, imajinasinya luas sekali. Kadang, saya sampai takjub.
Bukan hanya itu, ia juga cukup kreatif. Seringkali HP saya tak lagi berada di dalam tas—di mana saya biasa menyimpannya. HP itu sudah digunakan oleh anak perempuan kecil bertubuh gempal itu untuk merekam sekelilingnya dan kemudian ia tonton sendiri.
Setelah saya ingat-ingat, ternyata saya—secara nggak sadar—telah melatih otak kanannya dengan cukup baik. Saya sering membacakan buku atau mendongeng, bahkan semenjak ia masih dalam kandungan. Saya belikan banyaaak sekali buku dengan warna-warna yang menarik.
Akhirnya, agar seimbang fungsi otaknya seimbang, saya pun mengajak dia belajar berhitung secara sederhana untuk merangsang otak kirinya.
Memang, idealnya, otak kanan dan kiri harus seimbang. Tapi, saya sudah dapat melihat bahwa anak perempuan saya itu memiliki kemampuan lebih baik dalam berimajinasi—meski kemampuannya berhitung juga tidak jelek.
Saya dan suami sudah bertekad untuk tidak memaksakan anak kami berprestasi secara akademis di sekolah. Kami justru akan semakin meningkatkan rangsangan terhadap otak kanannya—walau tetap memberikan juga stimulasi bagi otak kirinya.
Yuk, kita rangsang fungsi otak anak kita…